Intervensi Kesehatan Mental Berbasis Komunitas Dongkrak Ketangguhan dan Kebahagiaan Lansia Desa-Kota

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Taipei - Sebuah riset internasional terbaru mengungkapkan bahwa program kesehatan mental berbasis komunitas sukses meningkatkan ketangguhan psikologis dan indeks kebahagiaan warga lanjut usia (lansia). Menariknya, efektivitas program ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal, di mana lansia di pedesaan dan perkotaan menunjukkan pola adaptasi yang berbeda secara signifikan.

Penelitian komprehensif ini dilakukan sepanjang paruh kedua tahun 2025 oleh tim peneliti lintas negara yang dipimpin oleh Thika Marliana dari Universitas Respati Indonesia, berkolaborasi dengan Budi Anna Keliat (Universitas Indonesia), Tri Budi Wahyuni Rahardjo (Universitas Respati Indonesia), Yunita Restu Safitri (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia), dan Suhailla Binti Osman (Kementerian Kesehatan Sabah, Malaysia). Hasil studi yang dipublikasikan pada awal tahun 2026 ini menjadi sangat penting di tengah ledakan populasi lansia global yang memicu risiko gangguan kecemasan dan depresi, sekaligus memberikan panduan taktis bagi pembuat kebijakan untuk merancang program kesejahteraan yang tepat sasaran.

Dilema Sosial Lansia di Desa dan Kota

Pertumbuhan jumlah lansia yang pesat melahirkan tantangan besar bagi sistem kesehatan masyarakat. Lansia tidak hanya menghadapi penurunan fungsi fisik, melainkan juga kerentanan psikososial. Sayangnya, pendekatan kesehatan mental selama ini sering kali disamaratakan tanpa melihat konteks geografis.

Padahal, karakteristik wilayah urban dan rural sangat bertolak belakang. Warga lansia di perkotaan diuntungkan oleh fasilitas kesehatan yang modern, namun mereka sangat rentan mengalami isolasi sosial akibat melemahnya ikatan bertetangga. Sebaliknya, lansia di pedesaan memiliki modal sosial dan kekeluargaan yang sangat kuat, tetapi mereka kerap terbentur oleh keterbatasan infrastruktur medis dan tenaga psikolog profesional.

Metode Pendekatan Gabungan untuk Menatap Realitas

Untuk memetakan fenomena ini secara akurat, Thika Marliana dan timnya menerapkan metode penelitian kombinasi (mixed methods). Dari sisi kuantitatif, para peneliti melibatkan 60 responden lansia berusia 60 tahun ke atas yang dibagi secara seimbang, yaitu 30 orang di wilayah pedesaan dan 30 orang di perkotaan. Mereka diukur sebelum dan sesudah program menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert 1–5.

Intervensi kesehatan mental dijalankan secara intensif selama delapan minggu. Aktivitas utama program meliputi edukasi psikososial, diskusi kelompok terarah, dukungan sosial sesama warga, serta kegiatan intergenerasi yang melibatkan anak dan cucu. Sementara dari sisi kualitatif, tim peneliti melakukan wawancara mendalam kepada 12 informan kunci—termasuk lansia, anggota keluarga lintas generasi, dan fasilitator lapangan—untuk menggali perubahan emosional yang tidak terekam oleh angka statistik.

Temuan Utama: Perbedaan Efek Berdasarkan Wilayah

Analisis data menunjukkan bahwa intervensi komunitas ini berhasil memicu dampak positif yang signifikan pada kedua kelompok. Namun, terdapat perbedaan mendasar pada aspek psikologis yang paling dominan berkembang:

  • Lansia Pedesaan Unggul dalam Kebahagiaan Sosial: Lansia di desa mengalami lonjakan indeks kebahagiaan yang lebih tinggi (+0.76) dan keterlibatan intergenerasi yang sangat kuat (+0.82). Kebersamaan warga desa membuat program ini menjadi wadah penguat hubungan emosional yang sudah ada.
  • Lansia Perkotaan Unggul dalam Ketangguhan Mental: Lansia di kota menunjukkan peningkatan ketangguhan psikologis (resilience) yang lebih besar (+0.84). Terbatasnya sistem pendukung informal di perkotaan memicu lansia urban untuk belajar menjadi lebih mandiri secara emosional dan tidak mudah panik saat menghadapi masalah.
  • Gaya Hidup Intergenerasi Jadi Kunci: Kedekatan dan intensitas interaksi dengan anak serta cucu terbukti menjadi penggerak utama kesejahteraan psikososial lansia di pedesaan, sedangkan di perkotaan hubungan ini cenderung lebih fragmentaris akibat kesibukan kaum muda.

"Dulu saya sering merasa cemas dan susah tidur. Tapi setelah ikut kegiatan ini, saya merasa lebih tenang dan bisa menerima keadaan dengan ikhlas," ujar salah satu informan lansia asal pedesaan dalam laporan riset tersebut.

Implikasi Kebijakan: Program Harus Sensitif Wilayah

Temuan ilmiah ini membawa implikasi praktis yang besar bagi dunia usaha, jaminan sosial, dan kebijakan publik. Hasil studi membuktikan bahwa ketangguhan psikologis merupakan prediktor utama penentu kebahagiaan masa tua. Ketika seorang lansia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, kepuasan hidup mereka akan tetap terjaga terlepas dari keterbatasan fisik yang mendera.

Oleh karena itu, Thika Marliana menegaskan pentingnya implementasi program yang peka wilayah (place-based intervention). Pemerintah atau penyedia layanan kesejahteraan tidak bisa lagi menggunakan satu cetak biru program yang sama untuk desa dan kota. Desain program di perkotaan harus difokuskan pada pemberdayaan kemandirian emosional dan penciptaan ruang sosial baru guna memecah isolasi. Di sisi lain, program di pedesaan sebaiknya memaksimalkan penguatan ikatan keluarga lintas generasi dan gotong royong warga.

Profil Tim Peneliti

  • Thika Marliana, S.Kep., M.Kep.: Dosen dan peneliti di Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Respati Indonesia. Ahli dalam bidang keperawatan komunitas dan kesehatan jiwa lansia.
  • Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc.: Guru Besar Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Pakar keperawatan jiwa terkemuka di Indonesia.
  • Prof. Dr. Tri Budi Wahyuni Rahardjo, drg., MS: Direktur Center for Family and Ageing Studies (CeFAS), Universitas Respati Indonesia. Spesialis studi gerontologi dan penuaan penduduk.
  • Yunita Restu Safitri: Peneliti dan praktisi kebijakan kesehatan di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  • Suhailla Binti Osman: Spesialis manajemen kesehatan masyarakat di Kementerian Kesehatan, Sabah, Malaysia.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Ilmiah: Rural-Urban Impact of Community-based Mental Health Intervention on the Intergenerational Lifestyle, Resilience, and Happiness Index among the Elderly

Nama Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA), Vol. 5, No. 1, 2026: 71-84
Tahun Publikasi: 2026
DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/ajha.v5i1.16154

Posting Komentar

0 Komentar