Gigitan Ular Berbisa Picu Peradangan Berat, Antibisa Efektif tetapi Berisiko Reaksi Imun

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Jawa Barat- Gigitan ular berbisa tidak hanya menyebabkan kerusakan jaringan akibat racun, tetapi juga memicu respons imun yang kompleks dalam tubuh manusia. Temuan tersebut dipaparkan oleh Ayu Indriani Putri, Ari Sri Windyaswari, dan Suci Nar Vikasari dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Cimahi, Jawa Barat, melalui sebuah kajian ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2026. Hasil kajian ini penting karena menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan korban gigitan ular tidak hanya bergantung pada kemampuan antibisa dalam menetralkan racun, tetapi juga pada pengendalian respons imun yang muncul setelahnya.

Masalah gigitan ular berbisa masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di banyak negara tropis, termasuk Indonesia. Organisasi kesehatan dunia bahkan mengategorikan kasus gigitan ular sebagai penyakit tropis terabaikan karena tingginya angka kematian dan kecacatan yang ditimbulkan, terutama di wilayah pedesaan yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan dan ketersediaan serum antibisa ular.

Indonesia sendiri memiliki keragaman spesies ular berbisa yang tinggi. Aktivitas masyarakat di sektor pertanian, perkebunan, dan kawasan pemukiman yang berdekatan dengan habitat ular meningkatkan risiko terjadinya kontak antara manusia dan ular berbisa. Dalam kondisi tertentu, keterlambatan penanganan dapat berujung pada komplikasi serius hingga kematian.

Dalam kajian yang dipublikasikan di Formosa Journal of Science and Technology, tim peneliti menelaah 19 artikel ilmiah yang terbit antara tahun 2020 hingga 2026. Artikel-artikel tersebut berasal dari berbagai basis data ilmiah seperti PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan jurnal nasional terindeks SINTA. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan sintesis naratif untuk memahami hubungan antara racun ular, serum antibisa, dan sistem kekebalan tubuh manusia.

Racun Ular Tidak Hanya Beracun, Tetapi Juga Mengganggu Sistem Imun

Penelitian ini menunjukkan bahwa racun ular mengandung berbagai molekul aktif biologis seperti phospholipase A2 (PLA2), metalloproteinase, serine protease, dan neurotoksin. Komponen-komponen tersebut dapat merusak jaringan tubuh secara langsung sekaligus mengaktifkan sistem imun.

Ketika racun masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan mengenalinya sebagai zat asing. Akibatnya, tubuh melepaskan berbagai zat pemicu peradangan seperti sitokin proinflamasi. Proses ini menyebabkan pembengkakan, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, nyeri, dan kerusakan jaringan pada area gigitan.

Pada kasus yang lebih berat, respons imun berlebihan dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah, nekrosis jaringan, kerusakan organ, hingga kegagalan multiorgan. Dengan kata lain, dampak gigitan ular bukan hanya berasal dari racunnya, tetapi juga dari reaksi tubuh terhadap racun tersebut.

Menurut para peneliti, beberapa spesies ular dari kelompok Viperidae cenderung menyebabkan gangguan perdarahan dan inflamasi sistemik yang berat. Sementara itu, ular dari kelompok Elapidae lebih sering menimbulkan efek neurotoksik seperti kelumpuhan dan gangguan pernapasan.

Serum Antibisa Tetap Menjadi Terapi Utama

Hingga saat ini, serum antibisa ular atau antivenom masih menjadi terapi paling efektif untuk mengatasi keracunan akibat gigitan ular berbisa. Antivenom bekerja dengan cara mengikat racun sehingga tidak lagi dapat menyerang organ atau jaringan tubuh.

Kajian ini menemukan bahwa pemberian antivenom yang tepat mampu menurunkan angka kematian dan mengurangi tingkat keparahan komplikasi. Namun, efektivitas terapi sangat dipengaruhi oleh kesesuaian antara jenis antivenom dengan spesies ular yang menggigit, waktu pemberian terapi, serta kondisi klinis pasien.

"Antivenom tetap merupakan pilihan utama dalam terapi gigitan ular berbisa karena kemampuannya menetralkan toksin secara spesifik," tulis para peneliti dari Universitas Jenderal Achmad Yani dalam laporannya.

Antibisa Juga Dapat Menimbulkan Efek Samping Imunologis

Meskipun sangat bermanfaat, penggunaan antivenom tidak sepenuhnya bebas risiko. Sebagian besar produk antivenom yang digunakan saat ini masih berasal dari imunoglobulin hewan, sehingga dapat dikenali sebagai zat asing oleh tubuh manusia.

Akibatnya, sebagian pasien dapat mengalami reaksi hipersensitivitas atau alergi setelah pemberian antivenom. Gejala yang muncul dapat berupa gatal-gatal, ruam kulit, sesak napas, bronkospasme, hingga anafilaksis yang berpotensi mengancam nyawa.

Selain reaksi cepat, terdapat pula risiko reaksi tertunda yang dikenal sebagai serum sickness. Kondisi ini muncul beberapa hari setelah terapi akibat terbentuknya kompleks imun dalam tubuh dan dapat menyebabkan peradangan sistemik, nyeri sendi, hingga gangguan organ tertentu.

Peneliti menegaskan bahwa fasilitas kesehatan yang memberikan terapi antivenom harus memiliki kesiapan untuk menangani reaksi alergi berat, termasuk ketersediaan epinefrin, antihistamin, kortikosteroid, dan peralatan resusitasi yang memadai.

Teknologi Baru Dikembangkan untuk Mengurangi Risiko

Temuan lain dalam kajian ini menunjukkan bahwa pengembangan antivenom generasi baru terus dilakukan untuk meningkatkan keamanan terapi. Berbagai pendekatan bioteknologi mulai diterapkan, termasuk penggunaan fragmen antibodi seperti Fab dan F(ab')2 yang memiliki ukuran molekul lebih kecil dibandingkan antibodi utuh.

Selain itu, pengembangan antibodi monoklonal dan antibodi rekombinan dinilai menjanjikan karena mampu menargetkan komponen racun secara lebih spesifik dengan risiko reaksi imun yang lebih rendah.

Para peneliti juga menyoroti potensi terapi pendamping seperti antioksidan, inhibitor metalloproteinase, dan obat antiinflamasi untuk membantu mengurangi kerusakan jaringan akibat respons imun berlebihan.

Penting bagi Sistem Kesehatan di Indonesia

Hasil kajian ini memiliki relevansi besar bagi Indonesia yang masih menghadapi kasus gigitan ular berbisa di berbagai daerah. Peningkatan akses terhadap serum antibisa berkualitas, pelatihan tenaga kesehatan, serta penguatan sistem rujukan dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian dan kecacatan.

Pengetahuan mengenai hubungan antara racun ular, sistem imun, dan antivenom juga dapat membantu tenaga medis melakukan pemantauan yang lebih baik terhadap komplikasi yang mungkin muncul selama maupun setelah terapi.

Para peneliti menyimpulkan bahwa gigitan ular berbisa merupakan proses biologis yang kompleks. Racun ular memicu kerusakan langsung sekaligus mengaktifkan mekanisme imun yang dapat memperparah kondisi pasien. Di sisi lain, antivenom tetap menjadi terapi utama yang efektif, tetapi memerlukan pengawasan ketat karena berpotensi menimbulkan reaksi imunologis.

Pemahaman yang lebih mendalam mengenai interaksi ketiga komponen tersebut diyakini akan menjadi kunci dalam pengembangan terapi gigitan ular yang lebih aman, efektif, dan berkualitas pada masa mendatang.

Profil Penulis

Ayu Indriani Putri
Peneliti dari Fakultas Farmasi, Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Cimahi, Jawa Barat. Fokus kajian pada farmasi, toksikologi, dan kesehatan.

Ari Sri Windyaswari
Akademisi Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani. Bidang keahlian meliputi farmakologi, imunologi, dan pengembangan terapi kesehatan.

Suci Nar Vikasari, S.Farm., M.Si.
Dosen dan peneliti Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi. Memiliki fokus penelitian pada farmasi klinis, imunologi, dan toksikologi. Bertindak sebagai penulis korespondensi dalam penelitian ini.

Sumber Penelitian

Judul: Effects of Snake Venom and Antivenom on the Immune Response: A Literature Review
Penulis: Ayu Indriani Putri, Ari Sri Windyaswari, Suci Nar Vikasari
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume: 5, Nomor 6
Tahun: 2026
Halaman: 1285–1300

Posting Komentar

0 Komentar