Fenomena penggunaan bahasa campuran antara Indonesia dan Inggris semakin
lumrah dalam konten edukasi digital, khususnya di kanal YouTube "Kok
Bisa?". Ely Purwanti dan tim peneliti dari Universitas PGRI Indraprasta
pada 2026 menelaah bagaimana praktik campur kode (code-mixing) ini menjadi
strategi komunikasi efektif untuk menjangkau Gen Z. Hasil penelitian ini
menjadi penting untuk memahami bagaimana evolusi bahasa di ruang digital dapat
meningkatkan daya serap audiens terhadap materi edukasi yang kompleks.
Bahasa sebagai Jembatan Edukasi
Digital
Di tengah era digital, kreator konten edukasi dituntut untuk menyajikan
materi yang berat menjadi lebih ringan dan mudah dipahami. Masalah yang sering
dihadapi adalah bagaimana menyampaikan istilah ilmiah atau konsep global agar
tetap relevan dengan keseharian penonton muda. Tanpa strategi bahasa yang
tepat, materi edukasi berisiko menjadi kaku dan membosankan. Penggunaan campur
kode antara bahasa Indonesia dan Inggris muncul sebagai solusi pragmatis bagi
kreator untuk menjaga alur komunikasi agar tetap mengalir, akrab, dan sesuai
dengan tren gaya hidup digital audiens sasaran.
Metode Analisis Sosiolinguistik
Digital
Peneliti menerapkan pendekatan sosiolinguistik digital melalui metode
deskriptif kualitatif. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis hubungan
antara penggunaan bahasa dengan konteks sosial komunikasi digital. Tim peneliti
mengumpulkan data dari 20 video yang diunggah ke kanal YouTube "Kok
Bisa?" sepanjang Januari hingga Juni 2024. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi non-partisipatif, di mana peneliti mencatat secara
detail setiap bentuk campur kode yang digunakan kreator saat menjelaskan
topik-topik edukasi.
Temuan Utama: Efektivitas Campur Kode
Analisis menunjukkan bahwa campur kode di kanal "Kok Bisa?"
berfungsi lebih dari sekadar gaya bahasa, melainkan alat penyampai informasi
yang strategis:
·
Penyederhanaan Istilah: Penggunaan
istilah Inggris yang dicampur dengan kalimat bahasa Indonesia mempermudah
audiens memahami istilah teknis yang sering kali tidak memiliki padanan kata
yang sama ringkasnya dalam bahasa Indonesia.
·
Membangun Kedekatan: Campur kode
menciptakan suasana diskusi yang lebih santai dan akrab, yang sangat disukai
oleh demografi Gen Z sebagai audiens utama.
·
Fungsi Penjelasan: Kode campuran berfungsi sebagai
penegas atau penjelas konsep, membantu audiens menavigasi informasi dengan
lebih efisien tanpa kehilangan inti pesan edukatifnya.
·
Efisiensi Komunikasi: Praktik ini
memangkas waktu penyampaian informasi, menjadikan durasi konten edukasi lebih
padat namun tetap substansial.
Dampak bagi Pendidikan dan Konten
Kreator
Penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan bahasa dalam konten edukasi
di media sosial adalah bentuk adaptasi linguistik yang positif selama tujuannya
adalah efektivitas komunikasi. Ely Purwanti dan tim dari Universitas PGRI
Indraprasta menyimpulkan bahwa bagi pelaku dunia usaha dan edukator, mengadopsi
gaya bahasa yang fleksibel dan multikultural dapat meningkatkan keterlibatan
audiens secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa literasi bahasa masa depan
tidak lagi terbatas pada aturan baku, melainkan pada kemampuan berkomunikasi
secara adaptif sesuai dengan medium digital yang digunakan.
Profil
Penulis:
- Ely
Purwanti – Peneliti, Universitas PGRI Indraprasta; bidang keahlian:
Sosiolinguistik dan Pendidikan Bahasa.
- Merry
Lapasau – Peneliti, Universitas PGRI Indraprasta; bidang keahlian: Linguistik
Terapan.
- Samsinar
Sambo – Peneliti, Universitas PGRI Indraprasta; bidang keahlian: Pendidikan
Bahasa.
- Putri
Rahayu – Peneliti, Universitas PGRI Indraprasta; bidang keahlian: Komunikasi
Digital.
- Rifka
Agustin – Peneliti, Universitas PGRI Indraprasta; bidang keahlian: Analisis
Bahasa.
Sumber
Penelitian:
Purwanti, E., Lapasau, M., Sambo, S., Rahayu, P., & Agustin, R. (2026). "Forms and Functions of Indonesian-English Code-Mixing on the YouTube Channel 'Kok Bisa?': A Digital Sociolinguistic Study". Journal of Language Development and Linguistics (JLDL), 5(1), 97-110.
DOI: https://doi.org/10.55927/jldl.v5i1.16589
URL : https://journal.formosapublisher.org/index.php/jldl

0 Komentar