![]() |
| Illustration by Ai |
Lingkungan Kerja dan Motivasi Jadi Penentu Adaptasi Karyawan Baru di Perusahaan Laboratorium
Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan karyawan baru bertahan dan berkembang di tempat kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Aras Astri Laras Lomoring dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengungkap bahwa lingkungan kerja, fasilitas perusahaan, tekanan kerja, kemampuan penyesuaian diri, dan motivasi merupakan faktor utama yang memengaruhi proses adaptasi karyawan baru di perusahaan jasa laboratorium.
Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) Volume 6 Nomor 5 Tahun 2026 ini dilakukan pada sebuah perusahaan jasa laboratorium yang disamarkan sebagai PT. X. Temuan penelitian menjadi penting karena tingginya tingkat pengunduran diri karyawan baru masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak perusahaan di Indonesia, terutama pada masa awal penempatan kerja.
Menurut Aras Astri Laras Lomoring, proses adaptasi yang gagal tidak hanya berdampak pada kinerja individu, tetapi juga dapat meningkatkan angka turnover atau keluar-masuk karyawan yang berpotensi merugikan perusahaan dari sisi produktivitas maupun biaya rekrutmen.
Tantangan Adaptasi di Dunia Kerja Modern
Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan dituntut memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bekerja secara efektif. Namun bagi sebagian orang, memasuki lingkungan kerja baru bukanlah proses yang mudah.
Karyawan baru sering menghadapi berbagai tantangan seperti kecemasan, tekanan pekerjaan, budaya organisasi yang belum dikenal, hingga kesulitan membangun hubungan dengan rekan kerja.
Penelitian ini berangkat dari fenomena yang terjadi di PT. X, perusahaan yang bergerak di bidang pengujian mineral, survei, dan inspeksi di wilayah Halmahera, Maluku Utara. Berdasarkan pengamatan perusahaan, sejumlah karyawan baru memilih mengundurkan diri bahkan sebelum menyelesaikan masa percobaan kerja selama tiga bulan.
Wawancara dengan bagian Human Resource Development (HRD) menunjukkan bahwa beberapa karyawan sering tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas, kehilangan motivasi kerja, hingga memutuskan tidak melanjutkan kontrak kerja setelah masa probation berakhir.
Berbagai alasan yang muncul antara lain komunikasi yang kurang baik dengan rekan kerja, budaya senioritas yang masih kuat, perubahan sistem kerja yang cepat, dan koordinasi pekerjaan yang kurang efektif.
Menggali Pengalaman Karyawan Baru
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat informan yang terdiri dari dua karyawan lapangan pada divisi laboratorium dan dua staf General Affairs (GA).
Para informan diminta menceritakan pengalaman mereka selama menjalani masa adaptasi sebagai karyawan baru di perusahaan.
Dari hasil wawancara tersebut, peneliti mengidentifikasi dua kelompok faktor yang memengaruhi kemampuan adaptasi, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Lingkungan Kerja Menjadi Faktor Utama
Salah satu temuan paling menonjol dalam penelitian ini adalah besarnya pengaruh lingkungan kerja terhadap keberhasilan adaptasi karyawan baru.
Beberapa informan mengaku mengalami kesulitan beradaptasi karena kurangnya kerja sama tim, komunikasi yang tidak efektif, dan masih kuatnya budaya senioritas dalam organisasi.
Kondisi tersebut membuat sebagian karyawan merasa tidak nyaman ketika bekerja dan kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan rekan kerja maupun atasan.
Menurut penelitian, lingkungan kerja yang kurang mendukung dapat menciptakan konflik, miskomunikasi, serta menurunkan rasa memiliki terhadap perusahaan.
Selain lingkungan sosial, ketersediaan fasilitas kerja juga menjadi faktor penting. Sejumlah informan mengungkapkan bahwa kurang memadainya fasilitas dan peralatan kerja menyebabkan pekerjaan menjadi lebih lambat dan menimbulkan frustrasi.
Ketika fasilitas yang dibutuhkan tidak tersedia secara optimal, karyawan baru harus mengeluarkan energi lebih besar untuk menyelesaikan tugas yang sebenarnya dapat dilakukan dengan lebih efisien.
Tekanan Kerja Memicu Kesulitan Adaptasi
Faktor eksternal lain yang ditemukan dalam penelitian adalah tekanan kerja yang tinggi.
Beberapa karyawan baru mengaku mengalami stres karena harus menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu yang singkat. Selain itu, perubahan sistem kerja yang terjadi secara cepat juga membuat mereka harus terus menyesuaikan diri dengan prosedur baru.
Kondisi tersebut menimbulkan perasaan kewalahan, terutama bagi karyawan yang masih berada dalam tahap mengenal lingkungan kerja dan memahami tanggung jawab jabatan mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa tekanan kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat memperlambat proses adaptasi dan meningkatkan keinginan karyawan untuk meninggalkan perusahaan.
Penyesuaian Diri dan Motivasi Menentukan Ketahanan Karyawan
Selain faktor eksternal, penelitian juga menemukan bahwa kemampuan beradaptasi sangat dipengaruhi oleh kondisi internal masing-masing individu.
Faktor pertama adalah kemampuan penyesuaian diri. Karyawan yang mampu mengelola stres, menghadapi konflik secara positif, dan beradaptasi dengan perubahan cenderung lebih mudah bertahan dalam lingkungan kerja baru.
Sebaliknya, kemampuan penyesuaian diri yang rendah membuat karyawan lebih rentan mengalami tekanan psikologis dan memilih mengundurkan diri.
Faktor kedua adalah motivasi kerja. Beberapa informan mengaku kehilangan semangat karena minimnya peluang pengembangan karier, lambatnya koordinasi antarbagian, dan kurangnya solusi terhadap berbagai kendala pekerjaan.
Menurut peneliti, motivasi berperan sebagai pendorong utama seseorang untuk menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan kerja. Ketika motivasi menurun, kemampuan adaptasi juga ikut melemah.
Implikasi bagi Dunia Kerja dan Manajemen SDM
Hasil penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi perusahaan yang ingin meningkatkan retensi atau mempertahankan karyawan baru.
Aras Astri Laras Lomoring menegaskan bahwa perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan kolaboratif. Budaya senioritas yang berlebihan perlu dikurangi agar komunikasi dan kerja sama antarpegawai dapat berjalan lebih sehat.
Selain itu, perusahaan disarankan untuk meningkatkan fasilitas kerja, memperjelas sistem koordinasi, serta melakukan pembagian beban kerja yang lebih adil guna mengurangi tekanan yang dirasakan karyawan baru.
Program orientasi dan pelatihan adaptasi juga dinilai penting untuk membantu karyawan memahami budaya organisasi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan pekerjaan.
Di sisi lain, perusahaan perlu membangun sistem motivasi yang jelas melalui pengembangan karier, penghargaan atas kinerja, serta komunikasi yang terbuka antara manajemen dan karyawan.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya dapat mengurangi tingkat pengunduran diri, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan loyalitas tenaga kerja dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Aras Astri Laras Lomoring merupakan peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memiliki fokus kajian pada bidang psikologi industri dan organisasi, manajemen sumber daya manusia, adaptasi kerja, serta perilaku karyawan dalam lingkungan organisasi.
Sumber Penelitian
Penulis: Aras Astri Laras Lomoring
Afiliasi: Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Jurnal: Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA)
Volume dan Nomor: Volume 6 Nomor 5, Mei 2026
Halaman: 546–553
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i5.47

0 Komentar