Efisiensi Biaya Produksi Roti Naik 3,4 Persen Berkat Activity Based Management

Ilustrasi by AI

CV Feljen Jaya (Sedap Jaya), sebuah usaha produksi roti di Kota Manado, berhasil menunjukkan potensi penghematan biaya produksi melalui penerapan metode Activity Based Management (ABM). Temuan ini dipublikasikan oleh Citra Salniati Mallisa, Jenny Morasa, dan Fanda D.P. Rundengan dari Universitas Sam Ratulangi dalam penelitian yang terbit pada tahun 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dapat menghemat biaya produksi hingga Rp36,6 juta per tahun dengan menghilangkan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah pada produk.

Di tengah persaingan industri makanan yang semakin ketat, efisiensi biaya menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha. Banyak perusahaan manufaktur masih menggunakan metode pengelolaan biaya tradisional yang hanya berfokus pada total pengeluaran tanpa mengidentifikasi aktivitas mana yang benar-benar memberikan manfaat bagi pelanggan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan pemborosan biaya operasional yang tidak disadari.

Tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi menelaah seluruh proses produksi roti di CV Feljen Jaya (Sedap Jaya), mulai dari pemeriksaan bahan baku hingga distribusi produk ke konsumen. Penelitian dilakukan sejak September 2025 melalui observasi langsung, wawancara dengan pemilik dan karyawan, serta analisis aktivitas produksi sehari-hari.

Metode Activity Based Management digunakan untuk mengidentifikasi aktivitas yang memberikan nilai tambah (value-added activities) dan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (non-value-added activities). Pendekatan ini membantu perusahaan memahami aktivitas mana yang layak dipertahankan dan mana yang perlu diperbaiki atau dihilangkan.

Hasil penelitian menemukan terdapat 15 aktivitas utama dalam proses produksi roti. Sebagian besar aktivitas seperti pencampuran adonan, fermentasi, pembentukan roti, pengisian isian, pemanggangan, pengemasan, dan distribusi dinilai memberikan nilai tambah karena berkontribusi langsung terhadap kualitas produk.

Namun, peneliti menemukan satu aktivitas yang tergolong tidak memberikan nilai tambah, yaitu pemberian label pada kemasan roti. Aktivitas ini memerlukan waktu dan biaya tambahan, tetapi tidak mengubah kualitas, rasa, fungsi, maupun karakteristik fisik produk yang diterima konsumen.

Beberapa temuan utama penelitian meliputi:

  • Total biaya produksi perusahaan pada tahun 2024 mencapai Rp1,074 miliar.
  • Biaya aktivitas pemberian label kemasan mencapai Rp36,6 juta per tahun.
  • Aktivitas pelabelan hanya menyumbang biaya tanpa meningkatkan nilai produk bagi pelanggan.
  • Penggabungan proses pelabelan ke dalam tahap pengemasan atau penggunaan teknik cetak langsung pada kemasan dapat menghilangkan biaya tersebut.
  • Penerapan Activity Based Management menghasilkan efisiensi biaya sebesar 3,40 persen.

Setelah simulasi penerapan ABM dilakukan, total biaya produksi perusahaan turun dari Rp1.074.300.000 menjadi Rp1.037.700.000. Penghematan sebesar Rp36.600.000 berasal dari eliminasi aktivitas pelabelan yang dinilai tidak memberikan nilai tambah.

Menurut Citra Salniati Mallisa dan tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi, identifikasi aktivitas non-value-added memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif. Karyawan yang sebelumnya menangani pelabelan dapat difokuskan pada aktivitas pengemasan atau proses lain yang lebih produktif sehingga efisiensi operasional meningkat tanpa mengurangi kualitas produk.

Temuan ini menunjukkan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dapat memperoleh manfaat besar dari pendekatan manajemen biaya modern. Tidak hanya perusahaan besar, pelaku UMKM di sektor makanan dan minuman dapat menerapkan prinsip ABM untuk mengurangi pemborosan, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing di pasar.

Selain memberikan dampak finansial, penerapan ABM juga dapat membantu perusahaan menyusun prosedur operasional yang lebih sistematis, meningkatkan pengawasan biaya, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Dengan demikian, perusahaan dapat mempertahankan kualitas produk tanpa harus menaikkan harga jual kepada konsumen.

Profil Penulis

  • Citra Salniati Mallisa merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sam Ratulangi, dengan fokus kajian pada akuntansi manajemen dan efisiensi biaya operasional.
  • Jenny Morasa adalah akademisi dan dosen di Universitas Sam Ratulangi yang memiliki keahlian di bidang akuntansi manajemen, pengendalian biaya, dan sistem informasi akuntansi.
  • Fanda D.P. Rundengan merupakan akademisi Universitas Sam Ratulangi yang menekuni bidang akuntansi, manajemen biaya, dan pengembangan kinerja organisasi.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar