Resistensi antimikroba terjadi ketika bakteri, virus, jamur, atau mikroorganisme lain tidak lagi mempan terhadap obat yang sebelumnya efektif membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Kondisi ini membuat infeksi menjadi lebih sulit diobati, meningkatkan risiko komplikasi, memperpanjang masa perawatan, bahkan berpotensi menyebabkan kematian.
Laporan internasional yang dikutip dalam penelitian menyebutkan bahwa AMR secara langsung menyebabkan sekitar 1,2 juta kematian dan berkontribusi terhadap 4,95 juta kematian pada tahun 2019. Sementara itu, laporan Global Antimicrobial Resistance Surveillance System (GLASS) 2025 menunjukkan bahwa sekitar satu dari enam infeksi bakteri yang terkonfirmasi telah resisten terhadap antibiotik yang umum digunakan. Di Indonesia sendiri, surveilans nasional melalui Surveillance of Indonesian Network on Antimicrobial Resistance (SINAR) juga menunjukkan bahwa resistensi antibiotik terus berkembang di berbagai daerah.
Para peneliti menilai rendahnya pengetahuan masyarakat menjadi salah satu penyebab utama penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Banyak orang masih mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter, menghentikan pengobatan sebelum waktunya, atau menggunakan antibiotik untuk penyakit yang sebenarnya tidak disebabkan oleh bakteri. Kebiasaan tersebut mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan.
Untuk melihat efektivitas edukasi dalam mengatasi masalah tersebut, tim peneliti melaksanakan program penyuluhan kesehatan di ruang tunggu Poli Penyakit Dalam RSUD Haji Provinsi Jawa Timur pada 19 November 2025. Penelitian melibatkan 54 pengunjung poli yang dipilih menggunakan metode total sampling, yaitu seluruh pengunjung yang hadir sebelum kegiatan dimulai.
Sebelum mengikuti penyuluhan, seluruh peserta diminta mengerjakan pretest berisi sepuluh pertanyaan mengenai penggunaan antibiotik dan resistensi antimikroba. Selanjutnya peserta mengikuti penyuluhan selama sekitar satu jam yang disampaikan oleh tim Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) RSUD Haji Provinsi Jawa Timur menggunakan media presentasi yang dirancang sederhana agar mudah dipahami masyarakat. Setelah kegiatan selesai, peserta kembali mengerjakan posttest dengan pertanyaan yang sama untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode edukasi sederhana tersebut memberikan dampak yang sangat besar terhadap peningkatan pemahaman peserta.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- 53 dari 54 responden (98,1%) mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti penyuluhan.
- Penyuluhan terbukti efektif meningkatkan pemahaman mengenai penggunaan antibiotik yang benar dan bahaya resistensi antimikroba.
- Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara peningkatan pengetahuan dengan karakteristik responden seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, maupun pekerjaan.
- Artinya, materi edukasi dapat dipahami secara merata oleh berbagai kelompok masyarakat.
Karakteristik responden juga menunjukkan keberagaman peserta penelitian. Sebanyak 70,4 persen responden merupakan perempuan, kelompok usia terbanyak berada pada rentang 26–35 tahun, mayoritas berpendidikan SMA, dan separuh responden merupakan ibu rumah tangga. Meski demikian, keberhasilan edukasi tidak dipengaruhi oleh latar belakang tersebut. Semua kelompok menunjukkan peningkatan pemahaman yang relatif sama setelah mengikuti penyuluhan.
Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi kesehatan yang sederhana, interaktif, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami mampu menjangkau masyarakat dengan berbagai tingkat pendidikan maupun usia. Hasil tersebut juga sejalan dengan sejumlah penelitian internasional yang menyebutkan bahwa intervensi edukasi berbasis komunitas efektif meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional.
Dalam pembahasannya, tim peneliti menjelaskan bahwa keberhasilan penyuluhan kemungkinan dipengaruhi oleh metode penyampaian yang komunikatif, penggunaan materi presentasi yang sederhana, serta sesi diskusi yang berlangsung aktif karena tingginya antusiasme peserta. Bahkan sesi tanya jawab berlangsung lebih lama dibandingkan waktu yang telah direncanakan, menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar.
Temuan ini memiliki implikasi yang luas bagi dunia kesehatan. Edukasi mengenai penggunaan antibiotik tidak harus dilakukan melalui program yang rumit atau membutuhkan teknologi tinggi. Penyuluhan singkat di fasilitas pelayanan kesehatan terbukti mampu meningkatkan pemahaman masyarakat secara signifikan.
Jika diterapkan secara rutin di rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun pusat pelayanan kesehatan lainnya, program serupa berpotensi membantu menekan penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Dalam jangka panjang, langkah tersebut dapat memperlambat laju munculnya resistensi antimikroba sekaligus mendukung keberhasilan pengobatan infeksi di Indonesia.
Retno Hernik Mulyati Andayani dan tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Surabaya menegaskan bahwa edukasi kesehatan merupakan strategi yang inklusif karena dapat diterima oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa dipengaruhi faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, maupun pekerjaan. Dengan kata lain, penyuluhan yang dirancang secara sederhana tetap mampu menghasilkan perubahan pengetahuan yang berarti bagi masyarakat.
Profil Singkat Penulis
Retno Hernik Mulyati Andayani merupakan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya yang berfokus pada bidang promosi kesehatan dan edukasi masyarakat.
Novita Arbianti adalah peneliti dari Universitas Muhammadiyah Surabaya yang menaruh perhatian pada bidang kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit infeksi.
Annisa Dewi Maharani merupakan penulis korespondensi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan bidang kajian kesehatan masyarakat, edukasi kesehatan, dan resistensi antimikroba.
Sumber Penelitian
Judul: The Effect of Education on Improving Knowledge of Antimicrobial Resistance Among Outpatients at the Internal Medicine Clinic of the Haji Provincial General Hospital in East Java
Penulis: Retno Hernik Mulyati Andayani, Novita Arbianti, Annisa Dewi Maharani
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 6, 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i6.16649
URL Jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar
0 Komentar