Program yang melibatkan sekitar 40 anggota PKK tersebut menunjukkan bahwa edukasi singkat yang praktis dan interaktif dapat membantu peserta memahami cara mencatat keuangan, menentukan prioritas kebutuhan, serta menerapkan strategi belanja yang lebih bijak. Hasil ini dinilai penting karena pengelolaan keuangan keluarga merupakan fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga.
Di tengah meningkatnya biaya hidup perkotaan, banyak keluarga menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran. Kondisi ini sering kali diperburuk oleh kurangnya kebiasaan pencatatan keuangan, sulitnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta kecenderungan melakukan pembelian impulsif akibat promosi atau diskon.
Menurut tim peneliti, ibu rumah tangga memiliki peran strategis sebagai pengelola utama keuangan keluarga. Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan pada kelompok ini dapat memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan rumah tangga.
Program edukasi yang diselenggarakan di Kelurahan Kwitang dirancang dalam format singkat selama 30 menit. Meski singkat, kegiatan ini menekankan pendekatan yang mudah dipahami dan langsung dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal mengenai pengelolaan keuangan keluarga. Selanjutnya, mereka mendapatkan materi tentang pencatatan pemasukan dan pengeluaran, penentuan skala prioritas kebutuhan, strategi belanja cerdas, serta pentingnya menabung untuk kebutuhan jangka panjang.
Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi dan simulasi sederhana yang menggambarkan kondisi nyata rumah tangga. Peserta juga diberi kesempatan berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mengatur keuangan keluarga.
Dalam sesi edukasi, tim menjelaskan bahwa langkah paling sederhana untuk mengendalikan kondisi keuangan rumah tangga adalah dengan mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Melalui pencatatan tersebut, keluarga dapat mengetahui alokasi dana untuk kebutuhan pokok seperti makanan, listrik, transportasi, pendidikan anak, hingga tabungan.
Selain itu, peserta diajak memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Pemahaman ini dinilai penting untuk mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak dan membantu keluarga membuat keputusan keuangan yang lebih rasional.
Strategi belanja cerdas juga menjadi fokus utama kegiatan. Beberapa tips yang diberikan antara lain membuat daftar belanja sebelum berbelanja, membandingkan harga produk, serta tidak mudah tergoda oleh promosi yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Nilai rata-rata pre-test yang semula berada pada angka 83,42 meningkat menjadi 94,47 pada post-test. Secara keseluruhan terjadi peningkatan pemahaman sebesar 13,25 persen.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa materi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh peserta. Tidak hanya dari sisi pengetahuan, perubahan juga terlihat pada pola pikir peserta yang mulai menyadari pentingnya perencanaan keuangan dan pengendalian pengeluaran.
Evaluasi kepuasan peserta juga menunjukkan hasil yang sangat positif. Seluruh aspek penilaian memperoleh skor rata-rata di atas 5 dari skala 6. Aspek dengan nilai tertinggi adalah kepuasan terhadap kegiatan dan manfaat yang dirasakan peserta setelah mengikuti program.
Selama sesi diskusi, banyak peserta mengungkapkan bahwa mereka sering mengalami kesulitan mengatur pengeluaran karena pendapatan yang terbatas. Sebagian besar juga mengaku belum terbiasa mencatat keuangan keluarga secara rutin dan masih sering melakukan pembelian spontan akibat pengaruh promosi.
Melalui simulasi yang dilakukan, peserta mulai memahami pentingnya menyusun prioritas kebutuhan dan menahan keinginan yang tidak mendesak. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir dari perilaku konsumtif menuju pengelolaan keuangan yang lebih terencana.
Ossi Ferli dan tim dari STIE Indonesia Banking School menilai bahwa pendidikan keuangan yang sederhana, praktis, dan kontekstual lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku dibandingkan pendekatan yang terlalu teoritis. Pendekatan partisipatif yang melibatkan diskusi dan berbagi pengalaman juga membantu peserta memahami materi secara lebih mendalam.
Temuan ini memiliki implikasi yang luas bagi masyarakat. Peningkatan literasi keuangan tidak hanya membantu keluarga menghindari defisit anggaran dan utang konsumtif, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga dalam menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Bagi pemerintah daerah maupun organisasi masyarakat, hasil ini menunjukkan bahwa program edukasi keuangan berbasis komunitas dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Program serupa juga berpotensi diperluas ke wilayah lain dengan melibatkan kelompok masyarakat yang memiliki peran penting dalam pengelolaan ekonomi rumah tangga.
Profil Penulis
Ossi Ferli merupakan akademisi dan peneliti dari STIE Indonesia Banking School (IBS). Bidang keahliannya meliputi literasi keuangan, manajemen keuangan, perilaku keuangan, serta edukasi keuangan masyarakat. Penelitian ini juga melibatkan Santi Rimadias, Fasya Febiani, Furkon Ardhani, Muhammad Leonardo, dan Reksa Akbar Maulana dari STIE Indonesia Banking School.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Family Financial Management Education and Smart Shopping for Housewives in the Kwitang Sub-District Area
Penulis: Ossi Ferli, Santi Rimadias, Fasya Febiani, Furkon Ardhani, Muhammad Leonardo, dan Reksa Akbar Maulana
Jurnal: Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP)
Volume: 5, Nomor 2
Tahun: 2026
0 Komentar