Kinerja Keuangan Unilever Indonesia Mulai Pulih pada 2025, Namun Masih Bergantung pada Efek Divestasi
MAKASSAR – Kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada 2025 setelah beberapa tahun mengalami tekanan yang cukup berat. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Indah Lestari Anwar dari Universitas Negeri Makassar dan dipublikasikan dalam International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) tahun 2026.
Penelitian tersebut menganalisis laporan keuangan Unilever Indonesia selama periode 2021–2025 untuk melihat perubahan kondisi keuangan perusahaan di tengah dampak pandemi, inflasi global, perubahan perilaku konsumen, hingga restrukturisasi bisnis melalui pelepasan unit usaha es krim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahun 2025 menjadi titik balik setelah empat tahun berturut-turut perusahaan mengalami penurunan pada berbagai indikator keuangan. Namun, pemulihan tersebut dinilai belum sepenuhnya berasal dari pertumbuhan bisnis inti, melainkan dipengaruhi oleh transaksi divestasi yang bersifat satu kali.
Tekanan Bertubi-tubi Sejak Pandemi
Sebagai salah satu perusahaan barang konsumsi terbesar di Indonesia, Unilever menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan daya beli masyarakat pascapandemi, kenaikan harga bahan baku global pada 2022, pergeseran konsumen ke produk yang lebih murah, serta dampak kampanye boikot geopolitik sejak akhir 2023 memberikan tekanan besar terhadap penjualan perusahaan.
Dalam periode tersebut, penjualan bersih Unilever turun dari sekitar Rp41,2 triliun pada 2022 menjadi Rp35,1 triliun pada 2024. Pada saat yang sama, perusahaan juga melakukan langkah strategis berupa divestasi seluruh bisnis es krim kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia pada November 2024 dengan nilai transaksi sekitar Rp7 triliun.
Menurut Indah Lestari Anwar, transaksi ini secara signifikan mengubah struktur keuangan perusahaan pada 2025 dan menjadi faktor penting dalam membaiknya sejumlah rasio keuangan.
Likuiditas Meningkat Setelah Masuknya Dana Divestasi
Salah satu indikator yang diamati dalam penelitian adalah kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek atau likuiditas.
Selama periode 2021–2024, kondisi likuiditas terus melemah. Rasio lancar (current ratio) turun dari 61,4 persen pada 2021 menjadi hanya 44,6 persen pada 2024.
Namun pada 2025 terjadi perbaikan cukup besar:
- Current Ratio naik menjadi 74,1 persen
- Quick Ratio naik menjadi 56,9 persen
- Aset lancar meningkat dari Rp5,28 triliun menjadi Rp10,55 triliun
Peningkatan tersebut terutama berasal dari masuknya dana hasil penjualan bisnis es krim. Meski demikian, kedua rasio tersebut masih berada di bawah standar ideal industri barang konsumsi cepat saji (FMCG).
Peneliti menilai perbaikan likuiditas ini merupakan sinyal positif, tetapi keberlanjutannya masih perlu dibuktikan melalui peningkatan kinerja operasional perusahaan.
Utang Masih Tinggi, Tetapi Struktur Modal Membaik
Penelitian juga menemukan bahwa kondisi solvabilitas atau kemampuan perusahaan mengelola utang mengalami dua fase yang berbeda.
Pada periode 2021–2024, rasio utang terhadap modal (Debt to Equity Ratio/DER) melonjak dari 341,3 persen menjadi 646,6 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh menurunnya ekuitas perusahaan akibat kebijakan pembagian dividen yang besar selama beberapa tahun.
Pada 2025, situasi mulai membaik:
- DER turun dari 646,6 persen menjadi 347,3 persen
- Debt to Asset Ratio (DAR) turun dari 86,6 persen menjadi 77,6 persen
- Ekuitas meningkat dari Rp2,15 triliun menjadi Rp4,48 triliun
Walaupun terjadi perbaikan, tingkat utang perusahaan masih tergolong tinggi dibandingkan standar umum perusahaan non-keuangan.
Penelitian ini menyoroti pentingnya pengelolaan modal yang lebih hati-hati agar perusahaan tidak kembali mengalami tekanan keuangan dalam jangka panjang.
Profitabilitas Tetap Relatif Kuat
Di tengah berbagai tantangan, Unilever masih mampu mempertahankan tingkat keuntungan yang cukup baik.
Margin laba kotor (Gross Profit Margin/GPM) tetap stabil pada kisaran 46–50 persen sepanjang periode penelitian. Angka ini berada di atas standar industri FMCG yang umumnya sekitar 40 persen.
Sementara itu:
- Net Profit Margin (NPM) turun dari 14,6 persen pada 2021 menjadi 9,6 persen pada 2024
- NPM kembali naik menjadi 11,1 persen pada 2025
- Return on Assets (ROA) turun dari 30,2 persen menjadi 17,7 persen
- Return on Equity (ROE) turun dari 135,2 persen menjadi 79 persen
Menurut peneliti, perbaikan laba pada 2025 menunjukkan bahwa program efisiensi biaya yang dijalankan perusahaan mulai memberikan hasil. Pengeluaran pemasaran serta biaya administrasi dan umum berhasil ditekan dibandingkan tahun sebelumnya.
Efisiensi Aset Justru Menurun
Berbeda dengan indikator lainnya, rasio aktivitas perusahaan mengalami penurunan pada 2025.
Total Asset Turnover (TAT), yang mengukur kemampuan aset menghasilkan penjualan, turun dari 1,91 kali menjadi 1,60 kali. Ini merupakan pertama kalinya rasio tersebut berada di bawah standar industri selama periode penelitian.
Penurunan ini bukan disebabkan oleh memburuknya operasional perusahaan, melainkan karena total aset meningkat tajam akibat masuknya dana divestasi, sementara penjualan dari segmen es krim sudah tidak lagi tercatat.
Peneliti menilai kondisi ini sebagai fase transisi yang lazim terjadi setelah restrukturisasi bisnis besar.
Implikasi bagi Investor dan Manajemen
Penelitian menyimpulkan bahwa pemulihan kinerja keuangan Unilever Indonesia pada 2025 belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan organik perusahaan.
Sebagian besar perbaikan rasio keuangan berasal dari transaksi penjualan bisnis es krim yang bersifat satu kali. Oleh karena itu, keberlanjutan pemulihan sangat bergantung pada kemampuan manajemen memanfaatkan dana hasil divestasi untuk investasi produktif dan penguatan modal kerja.
Bagi investor, penelitian ini menjadi pengingat bahwa peningkatan rasio keuangan tidak selalu menunjukkan perbaikan fundamental bisnis. Analisis terhadap sumber perbaikan tersebut menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi.
Indah Lestari Anwar menegaskan bahwa sinyal positif yang muncul pada 2025 perlu dibaca secara hati-hati karena sebagian besar berasal dari perubahan struktur aset dan modal, bukan dari lonjakan penjualan atau pertumbuhan laba operasional yang signifikan.
Profil Penulis
Indah Lestari Anwar, S.E., M.M. merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Makassar. Bidang kajiannya meliputi manajemen keuangan, analisis laporan keuangan, kinerja perusahaan, serta tata kelola korporasi. Penelitian yang dipublikasikannya berfokus pada evaluasi kesehatan keuangan perusahaan dan implikasinya terhadap investor maupun pengambil kebijakan.
0 Komentar