Dari Produktivisme ke Pertanian Terpadu: Lintasan Sejarah Paradigma, Ketegangan Keberlanjutan, Digitalisasi, dan Agenda Kebijakan untuk Transisi Sistem Pertanian

Ilustrasi by AI

Penelitian IPOSS Jakarta: Pertanian Terintegrasi Jadi Kunci Transisi Menuju Sistem Pangan Berkelanjutan

Transformasi pertanian dunia tidak lagi cukup hanya mengejar produktivitas tinggi. Sebuah studi terbaru yang ditulis oleh Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta menunjukkan bahwa masa depan pertanian bergantung pada kemampuan mengintegrasikan aspek produksi, lingkungan, teknologi digital, dan tata kelola kelembagaan dalam satu sistem yang saling terhubung. Temuan tersebut dipublikasikan pada 2026 dalam Multitech Journal of Science and Technology (MJST) melalui artikel berjudul From Productivism to Integrated Agriculture: Historical Trajectories of Paradigms, Sustainability Tensions, Digitalization, and Policy Agendas for Agricultural System Transition.

Penelitian ini menjadi penting karena sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pertumbuhan populasi global, degradasi lingkungan, perubahan iklim, serta tuntutan peningkatan produksi pangan menempatkan sistem pertanian konvensional dalam tekanan besar. Model pertanian yang berkembang sejak Revolusi Hijau memang berhasil meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memunculkan berbagai dampak negatif seperti penurunan kualitas tanah, pencemaran lingkungan, dan ketimpangan sosial-ekonomi di kalangan petani.

Dalam studinya, Judijanto menelaah perkembangan paradigma pertanian dari masa ke masa melalui tinjauan literatur kualitatif integratif yang mencakup berbagai publikasi ilmiah periode 2020–2026. Analisis dilakukan untuk memahami bagaimana sejarah perkembangan pertanian membentuk paradigma modern serta mengidentifikasi arah transformasi menuju pertanian terintegrasi yang lebih berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pertanian dunia bergerak melalui beberapa fase besar. Pertama adalah pertanian subsisten yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga. Fase berikutnya ditandai dengan intensifikasi produksi dan modernisasi yang semakin kuat sejak Revolusi Industri hingga Revolusi Hijau. Pada tahap ini, penggunaan mesin, pupuk kimia, dan pestisida sintetis berhasil meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Namun, keberhasilan tersebut juga menghasilkan berbagai konsekuensi ekologis. Kerusakan tanah, hilangnya keanekaragaman hayati, ketergantungan pada input eksternal, serta meningkatnya risiko perubahan iklim mendorong munculnya paradigma baru yang lebih menekankan keberlanjutan. Paradigma tersebut berkembang dalam bentuk pertanian berkelanjutan, agroekologi, dan pertanian digital berbasis presisi.

Menurut penelitian ini, perdebatan utama dalam pertanian modern bukan lagi soal apakah produktivitas harus ditingkatkan atau tidak, melainkan bagaimana produktivitas tersebut dicapai dan siapa yang menanggung biaya sosial maupun ekologisnya. Di satu sisi, pendekatan produktivisme menekankan efisiensi dan peningkatan hasil. Di sisi lain, pendekatan agroekologi dan keberlanjutan menekankan pemulihan fungsi ekosistem, keadilan sosial, serta ketahanan pangan jangka panjang. Sementara itu, digitalisasi menawarkan peluang efisiensi baru tetapi juga memunculkan tantangan terkait kepemilikan data dan kesenjangan akses teknologi.

Salah satu temuan terpenting penelitian ini adalah kuatnya bukti yang mendukung konsep pertanian terintegrasi sebagai strategi masa depan. Model ini menghubungkan berbagai komponen pertanian dalam satu sistem yang saling mendukung.

Beberapa contoh model pertanian terintegrasi yang dianalisis meliputi:

• Integrasi tanaman dan ternak (crop-livestock integration).
• Sistem padi dan ikan (rice-fish farming).
• Agroforestri yang menggabungkan tanaman pertanian dan pohon.
• Integrasi tanaman, ternak, dan bioenergi.

Berbagai model tersebut terbukti mampu meningkatkan diversifikasi pendapatan, memperkuat siklus nutrisi alami, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, serta memperkuat ketahanan sistem pertanian terhadap perubahan iklim dan gangguan pasar. Namun, penelitian juga menegaskan bahwa keberhasilan integrasi sangat bergantung pada desain sistem, kondisi lokal, kapasitas petani, dan dukungan kelembagaan yang tersedia. Tidak semua model memberikan hasil yang sama di setiap wilayah.

Judijanto menekankan bahwa pertanian terintegrasi tidak boleh dipahami sekadar sebagai penambahan unit usaha baru di lahan pertanian. Konsep ini merupakan desain ulang sistem pertanian secara menyeluruh yang menghubungkan tanaman, ternak, air, energi, limbah, serta tata kelola dalam satu kerangka yang saling mendukung. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan limbah sebagai sumber daya baru, memperbaiki kualitas tanah, mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal, dan meningkatkan efisiensi produksi secara keseluruhan.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan publik. Transisi menuju pertanian terintegrasi tidak dapat mengandalkan inovasi teknologi semata. Pemerintah perlu membangun koordinasi lintas sektor yang menghubungkan pangan, lingkungan, ketahanan iklim, dan perdagangan. Selain itu, diperlukan insentif pembiayaan, akses kredit, asuransi pertanian, program penyuluhan berbasis desain sistem, serta tata kelola data yang adil agar digitalisasi tidak justru memperlebar kesenjangan antara petani kecil dan pelaku usaha besar.

Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang sangat besar. Sebagai negara agraris yang menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi sumber daya alam, dan kebutuhan peningkatan produksi pangan, pendekatan pertanian terintegrasi dapat menjadi salah satu strategi penting untuk mencapai ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini juga menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, organisasi petani, dan masyarakat dalam membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan inklusif.

Profil Penulis

Loso Judijanto adalah peneliti yang berafiliasi dengan IPOSS Jakarta. Dalam penelitian ini, ia berfokus pada kajian sejarah perkembangan pertanian, transformasi paradigma pertanian, agroekologi, digitalisasi pertanian, serta perumusan kebijakan untuk mendukung transisi menuju sistem pertanian terintegrasi yang berkelanjutan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: From Productivism to Integrated Agriculture: Historical Trajectories of Paradigms, Sustainability Tensions, Digitalization, and Policy Agendas for Agricultural System Transition
Penulis: Loso Judijanto
Afiliasi: IPOSS Jakarta
Jurnal: Multitech Journal of Science and Technology (MJST)
Volume dan Nomor: Vol. 3, No. 5
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar