Bank Jatim Justru Tumbuh Saat Pandemi, Peneliti Ungkap Tiga Kunci Ketahanannya

Ilustrasi by AI

MALANG – Ketika sebagian besar bank di Indonesia mengalami tekanan profitabilitas dan peningkatan risiko kredit selama pandemi COVID-19, PT Bank Jawa Timur (Bank Jatim) justru mencatatkan kinerja yang berlawanan. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Irawan Budi Prasetyo dan Rina Rahmawati dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara Malang mengungkap bahwa Bank Jatim berhasil meningkatkan profitabilitas sekaligus menekan biaya operasional selama masa krisis. Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa bank daerah tidak hanya mampu bertahan menghadapi guncangan ekonomi, tetapi juga dapat tumbuh melalui strategi yang tepat.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS). Studi ini menyoroti bagaimana ketahanan organisasi atau organizational resilience dapat menjadi faktor utama yang membedakan lembaga keuangan yang sekadar bertahan dari yang mampu berkembang di tengah krisis.

Pandemi Mengguncang Industri Perbankan

Pandemi COVID-19 memberikan tekanan besar terhadap industri perbankan nasional. Banyak bank menghadapi peningkatan kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL), penurunan aktivitas ekonomi, serta melemahnya profitabilitas.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mayoritas bank mengalami penurunan kinerja keuangan selama periode pandemi. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi pada Bank Jatim.

Menurut data yang dianalisis peneliti, Return on Assets (ROA) Bank Jatim meningkat dari 2,89 persen pada 2019 menjadi 7,60 persen pada 2021. Pada saat yang sama, rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) turun drastis dari 72,32 persen menjadi 34,32 persen.

Pencapaian tersebut menjadikan Bank Jatim sebagai salah satu kasus unik dalam industri perbankan Indonesia selama masa pandemi.

Meneliti Ketahanan Organisasi Bank Jatim

Untuk memahami faktor di balik keberhasilan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus komparatif kualitatif.

Data yang dianalisis berasal dari laporan keuangan triwulanan Bank Jatim periode 2018–2022, laporan internal terkait penggunaan layanan digital, serta regulasi dan data industri perbankan yang relevan.

Fokus penelitian berada pada Cabang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang dipilih sebagai unit analisis karena memiliki data yang lengkap dan menunjukkan kinerja luar biasa selama pandemi.

Peneliti kemudian membandingkan perubahan indikator keuangan dengan teori ketahanan organisasi dan berbagai penelitian sebelumnya mengenai dampak pandemi terhadap sektor perbankan.

Tiga Faktor Utama yang Membuat Bank Jatim Bertahan dan Tumbuh

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga mekanisme utama yang menjadi sumber ketahanan Bank Jatim selama krisis.

1. Transformasi Digital yang Dipercepat

Faktor pertama adalah percepatan digitalisasi melalui platform mobile banking JConnect.

Ketika mobilitas masyarakat dibatasi selama pandemi, Bank Jatim mempercepat pengembangan fitur layanan digital dan mendorong nasabah untuk beralih ke transaksi elektronik.

Langkah ini menghasilkan beberapa keuntungan sekaligus:

  • Menurunkan biaya transaksi
  • Mengurangi ketergantungan pada layanan kantor cabang
  • Meningkatkan pendapatan berbasis layanan digital
  • Mempertahankan aktivitas nasabah selama pembatasan sosial

Peneliti menemukan bahwa digitalisasi menjadi salah satu pendorong utama peningkatan efisiensi operasional bank.

2. Restrukturisasi Kredit yang Proaktif

Faktor kedua adalah kebijakan restrukturisasi kredit yang dilakukan secara aktif.

Alih-alih menunggu debitur mengalami gagal bayar, Bank Jatim secara proaktif mengidentifikasi sektor-sektor yang rentan terdampak pandemi, seperti usaha kecil dan sektor pariwisata.

Melalui program restrukturisasi yang sejalan dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank mampu menjaga kualitas kredit dan mengendalikan lonjakan kredit bermasalah.

Hasilnya, rasio NPL Bank Jatim tetap berada di bawah 2 persen sepanjang periode krisis, jauh di bawah batas maksimal 5 persen yang ditetapkan regulator.

3. Pengendalian Biaya yang Ketat

Faktor ketiga adalah disiplin pengelolaan biaya operasional.

Bank Jatim melakukan berbagai langkah efisiensi, antara lain:

  • Menunda perjalanan dinas yang tidak mendesak
  • Mengurangi pelatihan tatap muka
  • Membatasi perekrutan pegawai baru
  • Meninjau ulang kontrak dengan vendor
  • Memaksimalkan layanan digital

Strategi ini menghasilkan penurunan BOPO yang sangat signifikan hingga mencapai 34,32 persen pada tahun 2021, salah satu tingkat efisiensi terbaik dalam industri perbankan nasional pada saat itu.

Kinerja Keuangan yang Menjadi Pengecualian

Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kinerja Bank Jatim merupakan fenomena yang berbeda dibandingkan tren umum industri.

Beberapa indikator utama yang dicatat selama penelitian antara lain:

  • ROA meningkat dari 2,89% (2019) menjadi 7,60% (2021)
  • NPL tetap terkendali di bawah 2%
  • BOPO turun dari 72,32% menjadi 34,32%
  • Likuiditas berhasil kembali ke level normal pada 2022 setelah terjadi lonjakan permintaan kredit selama pandemi

Menurut Irawan Budi Prasetyo dan Rina Rahmawati dari STIE Malangkuçeçwara, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa krisis tidak selalu berujung pada penurunan kinerja. Dalam kondisi tertentu, krisis justru dapat menjadi momentum percepatan transformasi organisasi.

Pelajaran bagi Industri Perbankan

Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi bank pembangunan daerah maupun lembaga keuangan lainnya.

Para peneliti menegaskan bahwa investasi digital yang dilakukan sebelum atau selama krisis dapat memberikan manfaat jangka panjang berupa efisiensi biaya dan peningkatan layanan.

Selain itu, restrukturisasi kredit yang dilakukan secara cepat dan proaktif terbukti membantu menjaga kualitas aset sekaligus mempertahankan hubungan dengan nasabah.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengendalian biaya yang disiplin dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif saat kondisi ekonomi tidak menentu.

Menurut Prasetyo dan Rahmawati, bank daerah memiliki peluang untuk bergerak lebih lincah dibandingkan bank nasional yang lebih besar karena proses pengambilan keputusan yang relatif lebih cepat.

Relevansi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi, dan perubahan perilaku konsumen, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa ketahanan organisasi bukan hanya tentang bertahan menghadapi krisis.

Ketahanan organisasi juga dapat menjadi kemampuan untuk memanfaatkan krisis sebagai peluang melakukan transformasi.

Kasus Bank Jatim menunjukkan bahwa kombinasi digitalisasi, manajemen risiko yang proaktif, dan efisiensi operasional dapat menciptakan peningkatan kinerja bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.

Profil Penulis

Irawan Budi Prasetyo merupakan peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara Malang yang memiliki minat penelitian pada bidang manajemen keuangan, kinerja perbankan, dan ketahanan organisasi.

Rina Rahmawati merupakan dosen dan peneliti di STIE Malangkuçeçwara Malang dengan fokus keahlian pada manajemen keuangan, strategi bisnis, transformasi digital, dan pengembangan organisasi.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: When a Regional Bank Thrived: A Resilience Case Study of PT Bank Jawa Timur During and After COVID-19

Penulis: Irawan Budi Prasetyo, Rina Rahmawati
Afiliasi: STIE Malangkuçeçwara Malang
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Tahun Publikasi: 2026
Volume: 4 Nomor 5, halaman 365–374
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i5.449
URL Resmi Jurnal: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar