Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS). Studi ini menyoroti bagaimana ketahanan organisasi atau organizational resilience dapat menjadi faktor utama yang membedakan lembaga keuangan yang sekadar bertahan dari yang mampu berkembang di tengah krisis.
Pandemi Mengguncang Industri Perbankan
Pandemi COVID-19 memberikan tekanan besar terhadap industri perbankan nasional. Banyak bank menghadapi peningkatan kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL), penurunan aktivitas ekonomi, serta melemahnya profitabilitas.
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mayoritas bank mengalami penurunan kinerja keuangan selama periode pandemi. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi pada Bank Jatim.
Menurut data yang dianalisis peneliti, Return on Assets (ROA) Bank Jatim meningkat dari 2,89 persen pada 2019 menjadi 7,60 persen pada 2021. Pada saat yang sama, rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) turun drastis dari 72,32 persen menjadi 34,32 persen.
Pencapaian tersebut menjadikan Bank Jatim sebagai salah satu kasus unik dalam industri perbankan Indonesia selama masa pandemi.
Meneliti Ketahanan Organisasi Bank Jatim
Untuk memahami faktor di balik keberhasilan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus komparatif kualitatif.
Data yang dianalisis berasal dari laporan keuangan triwulanan Bank Jatim periode 2018–2022, laporan internal terkait penggunaan layanan digital, serta regulasi dan data industri perbankan yang relevan.
Fokus penelitian berada pada Cabang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang dipilih sebagai unit analisis karena memiliki data yang lengkap dan menunjukkan kinerja luar biasa selama pandemi.
Peneliti kemudian membandingkan perubahan indikator keuangan dengan teori ketahanan organisasi dan berbagai penelitian sebelumnya mengenai dampak pandemi terhadap sektor perbankan.
Tiga Faktor Utama yang Membuat Bank Jatim Bertahan dan Tumbuh
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga mekanisme utama yang menjadi sumber ketahanan Bank Jatim selama krisis.
1. Transformasi Digital yang Dipercepat
Faktor pertama adalah percepatan digitalisasi melalui platform mobile banking JConnect.
Ketika mobilitas masyarakat dibatasi selama pandemi, Bank Jatim mempercepat pengembangan fitur layanan digital dan mendorong nasabah untuk beralih ke transaksi elektronik.
Langkah ini menghasilkan beberapa keuntungan sekaligus:
- Menurunkan biaya transaksi
- Mengurangi ketergantungan pada layanan kantor cabang
- Meningkatkan pendapatan berbasis layanan digital
- Mempertahankan aktivitas nasabah selama pembatasan sosial
Peneliti menemukan bahwa digitalisasi menjadi salah satu pendorong utama peningkatan efisiensi operasional bank.
2. Restrukturisasi Kredit yang Proaktif
Faktor kedua adalah kebijakan restrukturisasi kredit yang dilakukan secara aktif.
Alih-alih menunggu debitur mengalami gagal bayar, Bank Jatim secara proaktif mengidentifikasi sektor-sektor yang rentan terdampak pandemi, seperti usaha kecil dan sektor pariwisata.
Melalui program restrukturisasi yang sejalan dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank mampu menjaga kualitas kredit dan mengendalikan lonjakan kredit bermasalah.
Hasilnya, rasio NPL Bank Jatim tetap berada di bawah 2 persen sepanjang periode krisis, jauh di bawah batas maksimal 5 persen yang ditetapkan regulator.
3. Pengendalian Biaya yang Ketat
Faktor ketiga adalah disiplin pengelolaan biaya operasional.
Bank Jatim melakukan berbagai langkah efisiensi, antara lain:
- Menunda perjalanan dinas yang tidak mendesak
- Mengurangi pelatihan tatap muka
- Membatasi perekrutan pegawai baru
- Meninjau ulang kontrak dengan vendor
- Memaksimalkan layanan digital
Strategi ini menghasilkan penurunan BOPO yang sangat signifikan hingga mencapai 34,32 persen pada tahun 2021, salah satu tingkat efisiensi terbaik dalam industri perbankan nasional pada saat itu.
Kinerja Keuangan yang Menjadi Pengecualian
Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kinerja Bank Jatim merupakan fenomena yang berbeda dibandingkan tren umum industri.
Beberapa indikator utama yang dicatat selama penelitian antara lain:
- ROA meningkat dari 2,89% (2019) menjadi 7,60% (2021)
- NPL tetap terkendali di bawah 2%
- BOPO turun dari 72,32% menjadi 34,32%
- Likuiditas berhasil kembali ke level normal pada 2022 setelah terjadi lonjakan permintaan kredit selama pandemi
Menurut Irawan Budi Prasetyo dan Rina Rahmawati dari STIE Malangkuçeçwara, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa krisis tidak selalu berujung pada penurunan kinerja. Dalam kondisi tertentu, krisis justru dapat menjadi momentum percepatan transformasi organisasi.
Pelajaran bagi Industri Perbankan
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi bank pembangunan daerah maupun lembaga keuangan lainnya.
Para peneliti menegaskan bahwa investasi digital yang dilakukan sebelum atau selama krisis dapat memberikan manfaat jangka panjang berupa efisiensi biaya dan peningkatan layanan.
Selain itu, restrukturisasi kredit yang dilakukan secara cepat dan proaktif terbukti membantu menjaga kualitas aset sekaligus mempertahankan hubungan dengan nasabah.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengendalian biaya yang disiplin dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif saat kondisi ekonomi tidak menentu.
Menurut Prasetyo dan Rahmawati, bank daerah memiliki peluang untuk bergerak lebih lincah dibandingkan bank nasional yang lebih besar karena proses pengambilan keputusan yang relatif lebih cepat.
Relevansi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi, dan perubahan perilaku konsumen, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa ketahanan organisasi bukan hanya tentang bertahan menghadapi krisis.
Ketahanan organisasi juga dapat menjadi kemampuan untuk memanfaatkan krisis sebagai peluang melakukan transformasi.
Kasus Bank Jatim menunjukkan bahwa kombinasi digitalisasi, manajemen risiko yang proaktif, dan efisiensi operasional dapat menciptakan peningkatan kinerja bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.
Profil Penulis
Irawan Budi Prasetyo merupakan peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara Malang yang memiliki minat penelitian pada bidang manajemen keuangan, kinerja perbankan, dan ketahanan organisasi.
Rina Rahmawati merupakan dosen dan peneliti di STIE Malangkuçeçwara Malang dengan fokus keahlian pada manajemen keuangan, strategi bisnis, transformasi digital, dan pengembangan organisasi.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: When a Regional Bank Thrived: A Resilience Case Study of PT Bank Jawa Timur During and After COVID-19
Penulis: Irawan Budi Prasetyo, Rina Rahmawati
Afiliasi: STIE Malangkuçeçwara Malang
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Tahun Publikasi: 2026
Volume: 4 Nomor 5, halaman 365–374
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i5.449
URL Resmi Jurnal: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar