Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memandang Bahasa Tetun bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga simbol identitas budaya, persaudaraan, dan jembatan sosial yang menghubungkan masyarakat di kedua sisi perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste memiliki karakteristik unik. Masyarakat di Kabupaten Belu dan Malaka, Nusa Tenggara Timur, memiliki hubungan sejarah, budaya, serta kekerabatan yang erat dengan masyarakat di Distrik Bobonaro, Timor Leste. Kedekatan tersebut membuat Bahasa Tetun tetap digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari meskipun kedua negara memiliki sistem pemerintahan dan kebijakan bahasa yang berbeda.
Di Timor Leste, Bahasa Tetun berstatus sebagai bahasa resmi negara bersama Bahasa Portugis. Sementara itu, di Indonesia, Bahasa Tetun masih diposisikan sebagai bahasa daerah yang digunakan terutama oleh masyarakat di kawasan perbatasan.
Bahasa yang Menyatukan Dua Komunitas
Penelitian dilakukan pada Januari hingga April 2026 dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNWIRA yang berasal dari Kabupaten Belu dan memiliki kemampuan berbahasa Tetun.
Tim peneliti menggunakan diskusi kelompok terarah (focus group discussion), wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta studi dokumentasi untuk memahami bagaimana mahasiswa memandang penggunaan Bahasa Tetun dalam kehidupan sosial dan diplomasi budaya.
Dari hasil pengumpulan data, hampir seluruh informan menyatakan bahwa Bahasa Tetun merupakan bahasa pertama yang mereka gunakan sejak kecil. Bahasa tersebut masih aktif digunakan dalam lingkungan keluarga, pasar tradisional, kegiatan adat, pelayanan publik, hingga interaksi lintas batas negara.
Mahasiswa menggambarkan Bahasa Tetun sebagai “bahasa kehidupan” karena digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari dan mampu menciptakan komunikasi yang lebih akrab dibandingkan penggunaan bahasa lain.
Menurut para responden, penggunaan Bahasa Tetun memberikan sejumlah manfaat, antara lain:
- Mempermudah komunikasi antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste.
- Memperkuat hubungan sosial dan kekeluargaan lintas batas negara.
- Menjaga nilai budaya dan tradisi lokal.
- Mengurangi kesalahpahaman dalam interaksi masyarakat perbatasan.
- Menumbuhkan rasa saling percaya dan solidaritas antarkomunitas.
Diplomasi Budaya Berjalan dari Masyarakat ke Masyarakat
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa diplomasi budaya di wilayah perbatasan lebih banyak berlangsung melalui interaksi langsung masyarakat daripada melalui jalur resmi pemerintah.
Bahasa Tetun berfungsi sebagai sarana people-to-people diplomacy atau diplomasi antarwarga. Melalui bahasa yang sama, masyarakat dapat berinteraksi dalam kegiatan perdagangan, festival budaya, upacara adat, hingga hubungan keluarga yang melintasi batas negara.
Penelitian menemukan bahwa penggunaan Bahasa Tetun mampu menciptakan suasana komunikasi yang lebih terbuka dan harmonis. Bahasa ini juga membantu masyarakat memahami nilai, tradisi, dan kebiasaan masing-masing sehingga memperkuat hubungan sosial yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Hendrikus Saku Bouk menjelaskan bahwa Bahasa Tetun memiliki nilai strategis sebagai instrumen diplomasi budaya karena menjadi simbol identitas bersama yang masih hidup dan digunakan secara aktif oleh masyarakat perbatasan.
Dalam praktiknya, Bahasa Tetun berperan sebagai jembatan budaya yang memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Timor Leste dari tingkat akar rumput.
Belum Ada Kebijakan Resmi yang Kuat
Meski memiliki peran penting, penelitian ini menemukan bahwa hingga saat ini belum terdapat kebijakan formal yang secara khusus mengatur penggunaan Bahasa Tetun sebagai instrumen diplomasi budaya di wilayah perbatasan.
Bahasa Tetun masih digunakan secara alami berdasarkan kebutuhan sosial masyarakat. Penggunaannya belum terintegrasi secara sistematis dalam kebijakan pendidikan, pemerintahan, maupun program diplomasi budaya resmi.
Para mahasiswa yang menjadi responden penelitian mendukung adanya penguatan kebijakan yang lebih jelas agar Bahasa Tetun dapat dimanfaatkan secara optimal.
Beberapa tantangan yang masih dihadapi antara lain:
- Belum adanya regulasi resmi terkait penggunaan Bahasa Tetun.
- Keterbatasan bahan ajar dan literatur pembelajaran.
- Kurangnya tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus.
- Dominasi Bahasa Indonesia dalam sektor pendidikan dan administrasi.
- Pengaruh globalisasi yang mendorong generasi muda menggunakan bahasa nasional maupun bahasa asing.
- Perbedaan dialek dan kemampuan berbahasa di berbagai komunitas.
Menurut penelitian tersebut, tantangan-tantangan ini membuat penggunaan Bahasa Tetun dalam diplomasi budaya masih bersifat situasional dan belum terkelola secara terstruktur.
Peluang Besar untuk Pendidikan dan Pariwisata
Di balik berbagai kendala tersebut, penelitian juga melihat peluang besar bagi pengembangan Bahasa Tetun pada masa depan.
Bahasa ini dinilai berpotensi diperkuat melalui pendidikan muatan lokal di sekolah-sekolah perbatasan, pengembangan materi pembelajaran, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pelestarian bahasa.
Selain itu, Bahasa Tetun juga dapat menjadi aset penting dalam sektor pariwisata budaya dan ekonomi lintas batas. Penggunaan bahasa yang dipahami oleh kedua komunitas diyakini mampu meningkatkan kualitas interaksi sosial sekaligus memperluas kerja sama ekonomi antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste.
Penelitian juga menyoroti peluang pemanfaatan media sosial, aplikasi pembelajaran bahasa, dan digitalisasi konten budaya sebagai strategi modern untuk menjaga keberlangsungan Bahasa Tetun di tengah perkembangan teknologi.
Para mahasiswa yang menjadi responden menilai bahwa pelestarian Bahasa Tetun tidak hanya penting untuk menjaga identitas budaya masyarakat perbatasan, tetapi juga untuk memperkuat hubungan sosial dan kerja sama jangka panjang antara kedua negara.
Profil Penulis
Hendrikus Saku Bouk merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Nusa Tenggara Timur. Fokus kajiannya meliputi komunikasi lintas budaya, komunikasi masyarakat perbatasan, diplomasi budaya, serta hubungan sosial masyarakat Indonesia–Timor Leste.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Perception of Communication Science Students from Belu on the Policy of Using Tetun Language in Cultural Diplomacy of the Indonesian–Timor Leste Community in the Border Region
Penulis: Hendrikus Saku Bouk
Afiliasi: Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume: 5 Nomor 5
Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i5.65
URL Jurnal: https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar