Analisis Unsur Budaya dan Desain Layang-Layang Bebean Bali

Illustration by ai

FORMOSA NEWS-  BALI

Layang-Layang Bebean Bali Simpan Filosofi Tri Datu dan Tradisi Syukur Pasca Panen

Layang-layang Bebean yang selama ini menghiasi langit Bali ternyata tidak sekadar menjadi sarana hiburan atau perlombaan. Penelitian yang dilakukan oleh Indah Fitriana Hapsari dan Vania Aqmarani Sulaiman dari Universitas Mercu Buana pada tahun 2026 mengungkap bahwa desain layang-layang Bebean menyimpan berbagai unsur budaya Bali, mulai dari filosofi keagamaan, simbol kehidupan sosial, hingga tradisi rasa syukur masyarakat agraris Bali.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) Volume 6 Nomor 5 Tahun 2026. Studi ini menyoroti bagaimana bentuk, warna, material, dan struktur layang-layang Bebean merepresentasikan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali.

Bali dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki tradisi layang-layang paling kuat. Setiap tahun, berbagai daerah di Pulau Dewata menyelenggarakan festival layang-layang yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Dalam tradisi masyarakat Bali, terdapat tiga jenis layang-layang tradisional utama, yaitu Pecukan atau Tekuk, Janggan, dan Bebean.

Bebean menjadi salah satu jenis yang paling populer karena bentuknya yang menyerupai ikan besar. Kata “be” dalam bahasa Bali berarti ikan. Bentuk inilah yang kemudian menjadi identitas utama layang-layang Bebean.

Menurut Hapsari dan Sulaiman, layang-layang Bebean bukan sekadar karya kerajinan, tetapi juga media visual yang menyampaikan cerita budaya masyarakat Bali. Karena itu, memahami desain Bebean berarti memahami sebagian nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Bali.

Meneliti Unsur Budaya dalam Desain Bebean

Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Peneliti mengumpulkan data melalui observasi, dokumentasi, serta kajian literatur yang berkaitan dengan tradisi layang-layang Bali.

Analisis difokuskan pada beberapa aspek utama, yaitu:

  • Bentuk dan struktur layang-layang
  • Warna yang digunakan
  • Material pembuatannya
  • Fungsi sosial dan budaya
  • Simbol-simbol budaya yang melekat pada desain

Melalui pendekatan tersebut, peneliti berupaya mengungkap hubungan antara desain visual layang-layang dengan filosofi hidup masyarakat Bali.

Bentuk Ikan yang Sarat Makna

Secara visual, layang-layang Bebean memiliki bentuk menyerupai ikan lengkap dengan kepala, badan, sirip, dan ekor yang memanjang. Saat diterbangkan, layang-layang ini bergerak bergoyang mengikuti arah angin sehingga terlihat seperti ikan yang sedang berenang di udara.

Masyarakat Bali mengaitkan Bebean dengan unsur air yang dalam ajaran Hindu Bali berhubungan dengan Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta.

Penelitian menemukan bahwa dalam tradisi tertentu, kehadiran layang-layang Bebean dianggap wajib dalam kegiatan festival layang-layang yang diselenggarakan masyarakat adat. Karena itu, Bebean memiliki posisi penting dalam kebudayaan Bali.

Selain bentuk dasarnya, terdapat beberapa variasi Bebean yang berkembang di masyarakat, antara lain:

1. Bebean Ikan Duri

Memiliki sirip yang lebih runcing dan struktur tubuh yang tajam. Jenis ini dikenal memiliki manuver terbang yang lebih cepat dibandingkan tipe lainnya.

2. Bebean Ikan Kecil

Ditandai dengan ukuran ekor yang lebih pendek dan bentuk tubuh yang lebih ramping. Jenis ini banyak ditemukan di wilayah Bali Tengah, Bali Barat, dan Bali Timur.

3. Bebean Ikan Jago

Memiliki kepala berbentuk kotak dan ekor menyerupai sabit. Jenis ini sering menggunakan kombinasi warna hitam-putih, hitam-kuning, atau hitam-merah yang memiliki makna religius bagi masyarakat Bali.

Warna Tri Datu Menjadi Simbol Utama

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah dominasi warna Tri Datu pada layang-layang Bebean.

Tri Datu merupakan kombinasi tiga warna sakral dalam budaya Bali, yaitu:

  • Hitam melambangkan Dewa Siwa
  • Merah melambangkan Dewa Brahma
  • Putih melambangkan Dewa Wisnu

Ketiga warna tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga menjadi simbol keseimbangan kehidupan dan penghormatan kepada kekuatan ilahi.

Menurut peneliti, penggunaan warna Tri Datu menunjukkan bahwa layang-layang Bebean merupakan representasi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Ketika diterbangkan bersama-sama dalam festival, warna-warna tersebut membentuk tampilan visual yang khas dan menjadi identitas budaya Bali yang mudah dikenali.

Material Tradisional yang Dipilih Secara Khusus

Penelitian juga mengungkap bahwa pembuatan layang-layang Bebean memerlukan pemilihan bahan yang sangat cermat.

Beberapa material utama yang digunakan meliputi:

  • Bambu Santong atau bambu Legi sebagai rangka utama
  • Senar pancing untuk mengikat struktur
  • Tali nilon sebagai penguat konstruksi
  • Kain parasut sebagai badan layang-layang
  • Benang jahit untuk menyatukan bagian-bagian kain

Menariknya, masyarakat Bali memiliki aturan tradisional dalam memilih bambu. Bambu yang digunakan umumnya berusia sekitar empat hingga lima tahun agar memiliki keseimbangan antara kekuatan dan kelenturan.

Dalam beberapa tradisi, pemotongan bambu juga dilakukan pada hari yang dianggap baik menurut kepercayaan setempat.

Suara Guangan dan Penghormatan kepada Rare Angon

Keunikan lain dari layang-layang Bebean adalah adanya komponen bernama guangan.

Guangan terletak pada bagian kepala layang-layang dan terbuat dari bambu tipis yang dipadukan dengan tali atau senar tertentu. Saat terkena angin, bagian ini menghasilkan suara khas yang menjadi ciri utama Bebean.

Dalam tradisi masyarakat Bali, suara tersebut dikaitkan dengan penghormatan kepada Rare Angon, sosok yang dipercaya sebagai penjaga atau dewa layang-layang.

Legenda Rare Angon telah lama hidup dalam budaya Bali. Tokoh ini dipercaya turun ke bumi pada musim layang-layang dan memainkan seruling untuk memanggil angin. Kepercayaan tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setelah masa panen.

Karena itu, kegiatan menerbangkan layang-layang tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang diperoleh masyarakat.

Warisan Budaya yang Terus Hidup

Penelitian ini menunjukkan bahwa layang-layang Bebean merupakan warisan budaya yang memadukan unsur seni, kepercayaan, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Festival layang-layang yang rutin diselenggarakan setiap tahun menjadi sarana pelestarian tradisi sekaligus ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, keberadaan Bebean tetap menjadi simbol identitas budaya Bali yang kuat.

Hapsari dan Sulaiman menyimpulkan bahwa filosofi Tri Datu, simbol penghormatan kepada para dewa, serta tradisi rasa syukur pasca panen masih tercermin jelas dalam desain dan struktur layang-layang Bebean hingga saat ini.

Profil Penulis

Indah Fitriana Hapsari, S.Ds., M.Ds.
Dosen dan peneliti di Universitas Mercu Buana. Bidang keahlian meliputi desain, budaya visual, dan kajian seni rupa.

Vania Aqmarani Sulaiman
Peneliti dari Universitas Mercu Buana yang menaruh perhatian pada studi budaya, desain visual, dan warisan tradisional Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul: Analysis of Cultural Elements and Design of Bali Bebean Kites
Penulis: Indah Fitriana Hapsari dan Vania Aqmarani Sulaiman
Volume: 6, Nomor 5
Tahun: 2026
Halaman: 554–562


Posting Komentar

0 Komentar