Saham Bank BUMN Ungguli Pasar pada 2022–2023, Namun Tertekan pada 2024
Portofolio saham bank-bank BUMN di Indonesia mampu memberikan imbal hasil di atas pasar selama dua tahun berturut-turut sebelum menghadapi tekanan besar pada 2024. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Fitriani Rahim dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar, yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR).
Penelitian tersebut menganalisis kinerja portofolio saham empat bank konvensional terbesar milik negara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Tabungan Negara (BBTN), dan Bank Mandiri (BMRI) selama periode 2022–2024. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi diversifikasi pada saham perbankan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar pada kondisi ekonomi yang mendukung. Namun, efektivitas strategi tersebut menurun ketika sektor perbankan menghadapi tekanan makroekonomi yang luas.
Sektor Perbankan Tetap Menjadi Pilar Pasar Modal
Sektor perbankan merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan saham bank besar sering kali menjadi indikator penting bagi arah pasar modal nasional.
Meski berasal dari sektor yang sama, masing-masing bank memiliki karakteristik bisnis yang berbeda. BRI memiliki kekuatan pada pembiayaan UMKM, BTN berfokus pada sektor properti dan perumahan, BNI banyak melayani segmen korporasi, sementara Bank Mandiri terus memperluas bisnis melalui digitalisasi dan pengembangan jaringan.
Perbedaan model bisnis tersebut membuat kinerja saham setiap bank tidak selalu bergerak searah. Karena itu, investor membutuhkan metode evaluasi yang tidak hanya melihat tingkat keuntungan, tetapi juga memperhitungkan risiko investasi yang dihadapi.
Mengukur Kinerja dengan Jensen's Alpha
Dalam penelitian ini, Fitriani Rahim menggunakan metode Jensen's Alpha, salah satu indikator yang umum digunakan dalam manajemen investasi untuk menilai apakah suatu portofolio mampu menghasilkan keuntungan di atas tingkat yang seharusnya diperoleh berdasarkan risiko pasar yang ditanggung.
Penelitian memanfaatkan data sekunder dari Bursa Efek Indonesia, Bank Indonesia, dan Investing.com selama periode 2022–2024. Keempat saham bank BUMN diberi bobot yang sama, masing-masing 25 persen, untuk membentuk satu portofolio investasi.
Metode ini memungkinkan peneliti membedakan keuntungan yang muncul karena kondisi pasar secara umum dengan keuntungan yang benar-benar dihasilkan oleh pemilihan saham dan strategi diversifikasi yang tepat.
Bank Mandiri Menjadi Saham Paling Tangguh
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Mandiri menjadi emiten dengan performa paling konsisten selama periode pengamatan.
Pada 2022, Bank Mandiri mencatat return tertinggi sebesar 39,86 persen, disusul BNI sebesar 36,73 persen dan BRI sebesar 19,90 persen. Sebaliknya, BTN mengalami penurunan sebesar 19,06 persen.
Kondisi positif masih berlanjut pada 2023. Bank Mandiri kembali menjadi pemimpin dengan return 21,90 persen, sementara BNI dan BRI masing-masing mencatat pertumbuhan di atas 16 persen. BTN kembali menjadi satu-satunya saham yang mencatat return negatif.
Situasi berubah drastis pada 2024. Seluruh saham bank yang dianalisis mengalami penurunan. BRI mencatat pelemahan terbesar sebesar 27,97 persen, sedangkan Bank Mandiri menunjukkan daya tahan terbaik dengan penurunan yang relatif lebih kecil, yaitu 5,79 persen.
Menurut hasil penelitian, konsistensi Bank Mandiri menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga kinerja di tengah perubahan kondisi ekonomi dan pasar.
Portofolio Bank BUMN Mengalahkan Pasar Selama Dua Tahun
Ketika keempat saham digabungkan dalam satu portofolio dengan bobot yang sama, hasilnya menunjukkan performa yang cukup menarik.
Portofolio menghasilkan return sebesar:
- 19,86 persen pada 2022
- 11,99 persen pada 2023
- -15,41 persen pada 2024
Analisis menggunakan Jensen's Alpha memperlihatkan bahwa portofolio tersebut berhasil memberikan keuntungan melebihi ekspektasi pasar selama dua tahun pertama.
Nilai Jensen's Alpha portofolio tercatat:
- 15,84 persen pada 2022
- 5,81 persen pada 2023
- -15,68 persen pada 2024
Alpha positif pada 2022 dan 2023 menunjukkan bahwa strategi diversifikasi antar saham bank mampu menciptakan nilai tambah bagi investor setelah memperhitungkan risiko pasar. Namun pada 2024, alpha berubah menjadi negatif akibat melemahnya kinerja sektor perbankan secara menyeluruh.
Suku Bunga dan Kondisi Pasar Berpengaruh Besar
Penelitian juga menemukan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia turut memengaruhi kinerja saham perbankan.
Tingkat suku bunga bebas risiko meningkat dari 5,50 persen pada 2022 menjadi 6,25 persen pada 2024. Pada saat yang sama, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambat tajam dari 6,17 persen pada 2023 menjadi hanya 0,63 persen pada 2024.
Kombinasi antara suku bunga yang lebih tinggi, perlambatan pasar saham, meningkatnya risiko kredit, dan tekanan likuiditas menyebabkan sektor perbankan kehilangan momentum pertumbuhan yang sebelumnya cukup kuat.
Fitriani Rahim menjelaskan bahwa diversifikasi dalam satu sektor memang dapat mengurangi risiko yang berasal dari masing-masing perusahaan. Namun strategi tersebut memiliki keterbatasan ketika seluruh sektor menghadapi tekanan yang sama akibat kondisi ekonomi makro.
Pelajaran bagi Investor
Temuan penelitian ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi investor, khususnya investor ritel yang banyak menjadikan saham bank sebagai pilihan utama investasi.
Pertama, diversifikasi tetap terbukti efektif dalam kondisi pasar yang stabil dan bertumbuh. Kedua, investor perlu memperhatikan indikator makroekonomi seperti suku bunga, inflasi, dan kondisi pasar secara keseluruhan sebelum mengambil keputusan investasi.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa diversifikasi di dalam satu sektor saja belum cukup untuk melindungi portofolio dari guncangan ekonomi yang bersifat sistemik. Oleh karena itu, kombinasi investasi lintas sektor dapat menjadi strategi yang lebih kuat untuk menghadapi ketidakpastian pasar.
Profil Penulis
Fitriani Rahim merupakan akademisi dan peneliti dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar (UNM). Bidang kajian yang ditekuni meliputi manajemen investasi, manajemen portofolio, pasar modal, analisis risiko keuangan, dan evaluasi kinerja saham.
Sumber Penelitian
Judul: Portfolio Performance Analysis of Conventional Commercial Bank Stocks Using Jensen's Alpha Method on the Indonesia Stock Exchange
Penulis: Fitriani Rahim
Afiliasi: Universitas Negeri Makassar
Jurnal: International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4 No. 5
Tahun Publikasi: 2026
0 Komentar