Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Sustainability in Research (IJSR) Volume 4 Nomor 3 Tahun 2026 melalui penelitian berjudul Performance Evaluation of 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Waste Treatment Facilities from a Sustainable Waste Management Perspective: A Case Study in Darmasaba Village, Badung, Bali, Indonesia. Penelitian dilakukan oleh Adick Made Surya Kencana Suweta bersama Ngakan Ketut Acwin Dwijendra dan I Made Oka Widyantara dari Program Pascasarjana Universitas Udayana, Bali.
Riset ini menilai efektivitas TPS 3R Pudak Mesari dari sisi teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan menggunakan pendekatan Sustainable Waste Management (SWM), ekonomi sirkular, serta metode Social Return on Investment (SROI). Hasilnya menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat mampu memberikan manfaat sosial dan lingkungan yang besar, meskipun belum sepenuhnya mandiri secara finansial.
Pengelolaan Sampah Bali Hadapi Tekanan Besar
Bali selama beberapa tahun terakhir menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan aktivitas pariwisata. Sistem lama yang hanya mengandalkan pola “angkut-buang” dinilai tidak lagi memadai.
Pemerintah Provinsi Bali kemudian menerapkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang pengelolaan sampah berbasis sumber. Aturan ini mendorong desa-desa membangun TPS 3R agar sampah dapat dipilah dan diolah sejak dari lingkungan masyarakat.
TPS 3R Pudak Mesari menjadi salah satu contoh yang cukup menonjol karena pernah memperoleh penghargaan sebagai fasilitas pengelolaan sampah terbaik kedua di tingkat kabupaten. Namun, menurut peneliti, belum pernah ada evaluasi ilmiah yang benar-benar mengukur apakah sistem tersebut berkelanjutan dalam jangka panjang.
Penelitian kemudian dilakukan untuk menjawab pertanyaan penting: apakah TPS 3R benar-benar efektif sebagai solusi pengelolaan sampah desa di Bali?
Melayani 702 Rumah Tangga
TPS 3R Pudak Mesari berdiri di lahan sekitar 1.000 meter persegi di Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Fasilitas ini dilengkapi area pemilahan, pengomposan, gudang kompos, kantor administrasi, serta kendaraan operasional pengangkut sampah.
Saat penelitian dilakukan, TPS 3R melayani 702 kepala keluarga atau sekitar 31 persen dari total rumah tangga di desa tersebut. Layanan tersebar di 12 banjar dengan konsentrasi terbesar di Banjar Baler Pasar, Bucu, dan Gulingan.
Tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 78 responden rumah tangga yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui survei, observasi lapangan, dan analisis dokumen operasional maupun keuangan fasilitas pengelolaan sampah tersebut.
Sampah Berhasil Dipilah dan Didaur Ulang
Hasil penelitian menunjukkan performa teknis TPS 3R tergolong baik. Produksi sampah tercatat sekitar 0,504 kilogram per orang per hari, masih sesuai standar nasional pengelolaan sampah rumah tangga.
Selama periode Juli hingga Desember, fasilitas ini mengelola sekitar 259,61 ton sampah. Komposisinya didominasi sampah organik sebesar 69,9 persen, plastik 12 persen, dan residu lainnya 18,1 persen.
Penelitian menemukan sekitar 81,9 persen sampah yang masuk masih bisa dipulihkan atau dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang dan pengomposan. Angka ini dinilai sangat baik dalam mendukung konsep ekonomi sirkular karena hanya sebagian kecil sampah yang benar-benar berakhir di TPA.
Selain itu, sistem pencatatan aliran sampah di TPS 3R Pudak Mesari dinilai sangat rapi. Peneliti mencatat tingkat mass balance mencapai 100 persen, artinya seluruh sampah yang masuk dapat terlacak proses pengolahannya.
“Sebagian besar sampah berhasil diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Dukungan Warga Sangat Tinggi
Aspek sosial menjadi salah satu kekuatan utama TPS 3R Pudak Mesari. Survei terhadap masyarakat menunjukkan tingkat partisipasi dan kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah tergolong sangat tinggi.
Penilaian sosial memperoleh skor 0,838, sedangkan aspek ekonomi mencapai 0,836. Artinya, masyarakat merasa memperoleh manfaat nyata, baik dari sisi kebersihan lingkungan maupun peluang ekonomi dari pengelolaan sampah.
Sementara itu, skor lingkungan mencapai 0,794 yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas lingkungan dan pengurangan pencemaran di wilayah desa.
Peneliti menyebut TPS 3R tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan perubahan perilaku masyarakat terkait pemilahan sampah dari rumah tangga.
Masalah Utama Ada di Keuangan
Meski unggul secara teknis dan sosial, penelitian menemukan kelemahan terbesar TPS 3R berada pada sisi keuangan.
Nilai Net Present Value (NPV) tercatat minus Rp1,22 miliar dalam proyeksi 10 tahun. Selain itu, rasio manfaat dan biaya (Benefit-Cost Ratio/BCR) hanya 0,28. Artinya, pendapatan fasilitas baru mampu menutup sekitar 28 persen dari total biaya operasional.
TPS 3R Pudak Mesari diketahui memperoleh investasi awal desa sebesar Rp2,35 miliar. Namun, pendapatan tahunan hanya sekitar Rp317 juta, sedangkan biaya operasional mencapai Rp1,12 miliar per tahun.
Kondisi ini membuat operasional TPS 3R masih sangat bergantung pada dukungan pemerintah dan sumber pendanaan eksternal.
Meski demikian, ketika manfaat sosial dan lingkungan ikut dihitung melalui metode SROI, hasilnya menjadi jauh lebih positif. Penelitian mencatat nilai SROI mencapai 1,005. Ini berarti setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan senilai Rp1.
Manfaat tersebut mencakup pengurangan biaya pembuangan sampah, penciptaan lapangan kerja hijau, pengurangan emisi karbon, peningkatan kualitas tanah dari kompos, hingga edukasi lingkungan bagi masyarakat.
Bisa Jadi Model Nasional
Peneliti menilai TPS 3R Pudak Mesari dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Indonesia, terutama untuk wilayah desa dan kawasan wisata.
Namun, mereka merekomendasikan sejumlah langkah perbaikan agar sistem lebih berkelanjutan, antara lain:
- memperkuat pelatihan pemilahan sampah bagi warga,
- meningkatkan teknologi pemrosesan sampah,
- memperluas cakupan layanan,
- memperbaiki skema tarif dan pendapatan,
- serta membangun regulasi desa tentang kewajiban pemilahan sampah rumah tangga.
Penelitian juga menyarankan pengembangan teknologi baru seperti budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) dan pengomposan cepat untuk meningkatkan nilai ekonomi sampah organik di masa depan.
Profil Penulis
Adick Made Surya Kencana Suweta merupakan peneliti dari Program Magister Pembangunan Berkelanjutan dan Keuangan, Pascasarjana Universitas Udayana, Bali. Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Dr. Ngakan Ketut Acwin Dwijendra dan Dr. I Made Oka Widyantara yang memiliki fokus kajian pada pembangunan berkelanjutan, lingkungan, serta pengelolaan infrastruktur berbasis masyarakat.
Sumber Penelitian
Artikel ilmiah: Performance Evaluation of 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Waste Treatment Facilities from a Sustainable Waste Management Perspective: A Case Study in Darmasaba Village, Badung, Bali, Indonesia.
Jurnal: International Journal of Sustainability in Research (IJSR), Volume 4 Nomor 3, Tahun 2026.
0 Komentar