TK Negeri Sakay Lebih Mandiri Setelah Program Pembiasaan Enam Pekan


Anak-anak di Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai menemukan satu persoalan penting di pendidikan usia dini: banyak murid taman kanak-kanak di wilayah kepulauan masih sangat bergantung pada guru untuk urusan sehari-hari. Temuan itu datang dari studi yang ditulis Rahma, Amelia Haruna, Fri, Muliati R. Umar, dan Nadia A. Minggu, yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences. Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa kemandirian anak usia dini ternyata bisa meningkat cukup cepat lewat rutinitas sederhana yang dilakukan secara konsisten di sekolah dan rumah. 

Lokasi risetnya adalah TK Negeri Sakay di Desa Sakay, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sekolah ini menjadi sorotan karena menghadapi masalah yang juga banyak ditemui di daerah 3T dan kepulauan: anak-anak belum terbiasa mengurus diri sendiri, sementara akses pelatihan guru dan dukungan pendidikan keluarga masih terbatas. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, masalah ini bukan soal “anak manja” semata, tetapi berkaitan langsung dengan pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan kesiapan belajar anak di tahap berikutnya. 

Peneliti mengamati 35 siswa, mewawancarai 5 guru dan 1 kepala sekolah, serta menelaah catatan perkembangan anak di sekolah. Mereka lalu menjalankan program pembiasaan kemandirian selama enam pekan, disertai pendampingan guru dan diskusi dengan orang tua. Pendekatannya sederhana: anak-anak tidak hanya diajari, tetapi dibiasakan untuk melakukan sendiri aktivitas rutin di sekolah. 
Masalahnya Nyata: Banyak Anak Belum Bisa Urus Hal Dasar Sendiri
Sebelum program dimulai, gambaran kondisi anak cukup mencolok. Dari 35 anak yang diamati:
-27 anak (76,2%) masih sangat bergantung pada guru untuk kegiatan fisik dasar seperti berpakaian, merapikan tas, atau makan.
-28 anak (81%) belum mampu menyelesaikan tugas belajar secara mandiri.
-23 anak (66,7%) belum menunjukkan kemandirian sosial-emosional yang memadai, misalnya antre, meminta bantuan dengan sopan, atau menyelesaikan konflik kecil dengan teman. 

Artinya, persoalan kemandirian bukan hanya terlihat saat anak makan atau memakai sepatu, tetapi juga saat belajar dan berinteraksi sosial.
Peneliti mencatat, kondisi ini tidak berdiri sendiri. Ada beberapa faktor yang ikut membentuknya
1. Pola asuh yang terlalu melindungi anak
2. Kurangnya pembiasaan mandiri di rumah
3. Belum adanya program sekolah yang terstruktur
4. Keterbatasan pengetahuan guru tentang strategi menumbuhkan kemandirian
5. Kondisi geografis wilayah kepulauan yang membatasi akses pelatihan dan sumber belajar
Dengan kata lain, anak tidak bisa langsung dituntut mandiri jika lingkungan rumah dan sekolah belum sama-sama mendukung. Dilatih Lewat Rutinitas, Bukan Ceramah. Yang menarik dari studi ini adalah intervensinya tidak rumit. Program kemandirian dirancang dalam tiga tahap:
1. Tahap pengenalan, guru memberi contoh langsung aktivitas mandiri
2. Tahap latihan terbimbing, anak mencoba melakukan sendiri dengan bantuan bertahap
3. Tahap penguatan, anak didorong menjalankan rutinitas dengan pengawasan minimal 

Materi pembiasaan berfokus pada tiga area utama:

Kemandirian fisik
Anak dibiasakan untuk:
-memakai pakaian sendiri
-merapikan sepatu
-membawa dan merapikan tas 
-makan sendiri
Kemandirian tugas belajar
Anak dibiasakan untuk:
-menyelesaikan lembar kerja sendiri
-mengambil alat tulis tanpa menunggu disuruh
-mengembalikan perlengkapan ke tempat semula
Kemandirian sosial-emosional
Anak dibiasakan untuk:
antre
-meminta bantuan dengan sopan
-menyelesaikan konflik kecil dengan teman secara mandiri 

Guru juga mendapat pendampingan teknis, sementara orang tua dilibatkan melalui diskusi kelompok agar pembiasaan di sekolah tidak “putus” saat anak pulang ke rumah.
Hasilnya Naik Tajam dalam Waktu Singkat
Setelah program berjalan, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang cukup besar.
Perubahan utama yang tercatat:

  • Kemandirian fisik naik dari 54,2% menjadi 85,7%
  • Kemandirian dalam tugas belajar naik dari 48,5% menjadi 82,8%
  • Kemandirian sosial-emosional naik dari 42,8% menjadi 77,1%
  • Rata-rata keseluruhan naik dari 48,5% menjadi 81,8% 

Secara praktis, ini berarti semakin banyak anak yang mulai bisa mengurus kebutuhan dasarnya sendiri, menyelesaikan tugas tanpa terlalu bergantung pada guru, dan berinteraksi lebih matang dengan teman sebaya. Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai menyimpulkan bahwa pembiasaan yang terstruktur, konsistensi guru, dan dukungan orang tua menjadi tiga kunci utama perubahan perilaku anak. Ini bukan perubahan instan, tetapi bukti bahwa kemandirian dapat dibentuk lewat kebiasaan kecil yang dilakukan berulang.  Dampaknya Lebih Luas dari Sekadar Anak Bisa Pakai Sepatu Sendiri. Temuan ini penting karena kemandirian anak usia dini sering dianggap hal sepele, padahal efeknya besar. Anak yang lebih mandiri biasanya:
  • lebih percaya diri
  • lebih siap mengikuti proses belajar
  • lebih mudah beradaptasi dengan aturan sekolah
  • lebih mampu mengelola emosi dan interaksi sosial
Bagi sekolah, hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas PAUD tidak selalu harus dimulai dari teknologi atau fasilitas mahal. Rutinitas kelas yang konsisten, guru yang sabar, dan kerja sama dengan keluarga bisa menghasilkan perubahan nyata. Bagi orang tua, studi ini memberi pesan sederhana tetapi kuat: membantu anak tidak selalu berarti melakukan semuanya untuk anak. Dalam banyak kasus, terlalu cepat menolong justru membuat anak kehilangan kesempatan belajar mandiri. Sementara bagi pemerintah daerah dan pengelola PAUD di wilayah kepulauan, penelitian ini membuka peluang kebijakan yang lebih praktis. Program pembiasaan seperti ini relatif murah, mudah direplikasi, dan bisa dimasukkan ke dalam kurikulum harian PAUD, terutama di sekolah dengan keterbatasan sarana. 
Masih Ada Tantangan
Meski hasilnya positif, program ini juga menghadapi hambatan. Peneliti mencatat beberapa tantangan di lapangan:
  • sebagian orang tua merasa anak mereka masih terlalu kecil untuk dilatih mandiri
  • pelaksanaan rutinitas di rumah belum selalu konsisten
  • beberapa anak sempat menangis atau marah saat pertama kali diminta melakukan sendiri
  • guru harus membagi perhatian ke banyak anak dengan kebutuhan berbeda 
Karena itu, penulis merekomendasikan agar program seperti ini tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek, melainkan diintegrasikan ke dalam kurikulum resmi PAUD dan diperkuat dengan modul pembelajaran yang sesuai konteks lokal Banggai Kepulauan.
Profil Singkat Penulis

Rahma

Penulis akademik dan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai, dengan fokus pada pendidikan anak usia dini dan pengembangan perilaku belajar anak. 

Amelia Haruna
Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai, terlibat dalam kajian pendidikan, pembelajaran anak usia dini, dan penguatan praktik pendidikan berbasis komunitas. 

Tim penulis lain: Fri, Muliati R. Umar, dan Nadia A. Minggu, juga berasal dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai. 

Sumber Penelitian
Judul artikel: Low Independence of Early Childhood in Sakay State Kindergarten, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency Through Analysis of Children’s Behavior in Daily Activities at School

Penulis: Rahma, Amelia Haruna, Fri, Muliati R. Umar, Nadia A. Minggu

Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)

Tahun: 2026

DOI: 10.59890/ijatss.v4i3.185

https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss/index


Posting Komentar

0 Komentar