Anak-anak di
Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai menemukan satu persoalan penting di
pendidikan usia dini: banyak murid taman kanak-kanak di wilayah kepulauan masih
sangat bergantung pada guru untuk urusan sehari-hari. Temuan itu datang dari
studi yang ditulis Rahma, Amelia Haruna, Fri, Muliati R. Umar, dan Nadia A.
Minggu, yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Advanced
Technology and Social Sciences. Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa
kemandirian anak usia dini ternyata bisa meningkat cukup cepat lewat rutinitas
sederhana yang dilakukan secara konsisten di sekolah dan rumah.
Lokasi risetnya
adalah TK Negeri Sakay di Desa Sakay, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai
Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sekolah ini menjadi sorotan karena menghadapi
masalah yang juga banyak ditemui di daerah 3T dan kepulauan: anak-anak belum
terbiasa mengurus diri sendiri, sementara akses pelatihan guru dan dukungan
pendidikan keluarga masih terbatas. Dalam konteks pendidikan anak usia dini,
masalah ini bukan soal “anak manja” semata, tetapi berkaitan langsung dengan
pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan kesiapan belajar anak di tahap
berikutnya.
Masalahnya Nyata: Banyak Anak Belum Bisa Urus Hal Dasar Sendiri
Peneliti mencatat, kondisi ini tidak berdiri sendiri. Ada beberapa faktor yang ikut membentuknya
2. Kurangnya pembiasaan mandiri di rumah
3. Belum adanya program sekolah yang terstruktur
4. Keterbatasan pengetahuan guru tentang strategi menumbuhkan kemandirian
5. Kondisi geografis wilayah kepulauan yang membatasi akses pelatihan dan sumber belajar
1. Tahap pengenalan, guru memberi contoh langsung aktivitas mandiri
2. Tahap latihan terbimbing, anak mencoba melakukan sendiri dengan bantuan bertahap
3. Tahap penguatan, anak didorong menjalankan rutinitas dengan pengawasan minimal
Materi pembiasaan
berfokus pada tiga area utama:
Anak dibiasakan untuk:
-memakai pakaian sendiri
-merapikan sepatu
-membawa dan merapikan tas
-makan sendiri
Kemandirian tugas belajar
Anak dibiasakan untuk:
-menyelesaikan lembar kerja sendiri
-mengambil alat tulis tanpa menunggu disuruh
-mengembalikan perlengkapan ke tempat semula
Kemandirian sosial-emosional
Anak dibiasakan untuk:
- antre
-meminta bantuan dengan sopan
-menyelesaikan konflik kecil dengan teman secara mandiri
Hasilnya Naik Tajam dalam Waktu Singkat
Setelah program berjalan, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang cukup besar.
Perubahan utama yang tercatat:
- Kemandirian
fisik naik dari 54,2% menjadi 85,7%
- Kemandirian
dalam tugas belajar naik dari 48,5% menjadi 82,8%
- Kemandirian
sosial-emosional naik dari 42,8% menjadi 77,1%
- Rata-rata
keseluruhan naik dari 48,5% menjadi 81,8%
Secara praktis,
ini berarti semakin banyak anak yang mulai bisa mengurus kebutuhan dasarnya
sendiri, menyelesaikan tugas tanpa terlalu bergantung pada guru, dan
berinteraksi lebih matang dengan teman sebaya. Peneliti dari
Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai menyimpulkan bahwa pembiasaan yang
terstruktur, konsistensi guru, dan dukungan orang tua menjadi tiga kunci utama
perubahan perilaku anak. Ini bukan perubahan instan, tetapi bukti bahwa
kemandirian dapat dibentuk lewat kebiasaan kecil yang dilakukan berulang. Dampaknya Lebih
Luas dari Sekadar Anak Bisa Pakai Sepatu Sendiri. Temuan ini penting
karena kemandirian anak usia dini sering dianggap hal sepele, padahal efeknya
besar. Anak yang lebih mandiri biasanya:- lebih percaya diri
- lebih siap mengikuti proses belajar
- lebih mudah beradaptasi dengan aturan sekolah
- lebih mampu mengelola emosi dan interaksi sosial
Masih Ada Tantangan
Meski hasilnya positif, program ini juga menghadapi hambatan. Peneliti mencatat beberapa tantangan di lapangan:
- sebagian orang tua merasa anak mereka masih terlalu kecil untuk dilatih mandiri
- pelaksanaan rutinitas di rumah belum selalu konsisten
- beberapa anak sempat menangis atau marah saat pertama kali diminta melakukan sendiri
- guru harus membagi perhatian ke banyak anak dengan kebutuhan berbeda
Profil Singkat Penulis
Penulis akademik dan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai, dengan fokus pada pendidikan anak usia dini dan pengembangan perilaku belajar anak.
Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai, terlibat dalam kajian pendidikan, pembelajaran anak usia dini, dan penguatan praktik pendidikan berbasis komunitas.
Tim penulis lain: Fri, Muliati R. Umar, dan Nadia A. Minggu, juga berasal dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai.
Judul artikel: Low Independence of Early Childhood in Sakay State Kindergarten, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency Through Analysis of Children’s Behavior in Daily Activities at School
Penulis: Rahma,
Amelia Haruna, Fri, Muliati R. Umar, Nadia A. Minggu
Jurnal:
International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Tahun: 2026
https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss/index
0 Komentar