Faktor Utama Kecelakaan Kerja di Industri Modern: Perilaku Tidak Aman dan Lemahnya Pengawasan
Penelitian terbaru oleh Hanifah Handayani dan Amri dari Institut Teknologi Petroleum Balongan mengungkap penyebab utama tingginya angka kecelakaan kerja di industri modern di Jawa Barat. Studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS) ini menyoroti pentingnya perilaku pekerja, pelatihan, dan pengawasan dalam sistem keselamatan kerja. Temuan ini menjadi penting karena kecelakaan kerja masih menjadi masalah serius di tengah pesatnya pertumbuhan industri.
Kecelakaan kerja bukan fenomena baru, tetapi tetap menjadi tantangan global. Di Indonesia, khususnya wilayah industri seperti Jawa Barat, pertumbuhan sektor manufaktur dan logistik sering kali tidak diimbangi dengan penerapan standar keselamatan yang optimal. Banyak perusahaan telah memiliki sistem keselamatan formal, namun praktik di lapangan sering kali tidak konsisten.
Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan dengan pendekatan kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 40 pekerja dilibatkan melalui kuesioner, sementara wawancara mendalam dilakukan dengan enam informan kunci, termasuk manajer operasional, supervisor, petugas K3, dan pekerja lapangan. Selain itu, peneliti juga menggunakan observasi langsung dan analisis risiko untuk memahami akar masalah kecelakaan kerja.
Untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan, penelitian ini menggabungkan beberapa metode analisis, termasuk identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRARC), diagram sebab-akibat (Fishbone), serta teknik “5 Why” untuk menggali akar masalah. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan antara faktor manusia, lingkungan, dan organisasi secara lebih menyeluruh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia menjadi penyebab paling dominan. Perilaku tidak aman, seperti mengabaikan prosedur standar dan bekerja tergesa-gesa, memiliki skor tertinggi dibanding faktor lainnya. Banyak pekerja mengaku sengaja mengambil jalan pintas demi memenuhi target produksi.
Salah satu pekerja yang diwawancarai mengatakan, “Kadang sebenarnya tahu itu berbahaya, tapi karena dikejar target, tetap dilakukan.” Pernyataan ini menggambarkan tekanan kerja yang mendorong munculnya perilaku berisiko.
Selain itu, kurangnya pelatihan dan lemahnya pengawasan juga menjadi faktor kunci. Banyak pekerja tidak mendapatkan pelatihan secara rutin, sementara jumlah pengawas yang terbatas membuat kontrol di lapangan tidak maksimal. Akibatnya, pelanggaran prosedur sering terjadi tanpa koreksi yang memadai.
Dari sisi lingkungan kerja, penelitian menemukan bahwa paparan bahaya masih cukup tinggi. Area kerja yang sempit, peralatan yang kurang aman, serta kondisi ergonomi yang tidak optimal meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika dikombinasikan dengan perilaku tidak aman.
Sementara itu, implementasi sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dinilai berada pada tingkat sedang. Penggunaan alat pelindung diri relatif baik, namun pengawasan dan pengendalian risiko masih lemah. Artinya, sistem sudah ada secara formal, tetapi belum dijalankan secara konsisten di semua lini operasional.
Analisis gabungan dari metode HIRARC, Fishbone, dan 5 Why menunjukkan bahwa akar utama kecelakaan kerja bukan hanya pada individu, melainkan pada lemahnya sistem pengawasan. Dengan kata lain, masalah utama terletak pada bagaimana organisasi mengelola keselamatan, bukan sekadar kesalahan pekerja.
Hanifah Handayani menjelaskan bahwa kecelakaan kerja terjadi akibat interaksi kompleks antara perilaku manusia dan tekanan organisasi. “Pekerja sering kali memahami risiko, tetapi kondisi kerja dan target produksi mendorong mereka untuk mengabaikan prosedur,” ujarnya.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia industri. Perusahaan tidak cukup hanya menyediakan aturan dan alat keselamatan, tetapi juga harus membangun budaya keselamatan yang kuat. Pelatihan berbasis risiko, peningkatan jumlah dan kualitas pengawasan, serta konsistensi penerapan prosedur menjadi kunci untuk menekan angka kecelakaan.
Bagi pembuat kebijakan, penelitian ini menegaskan pentingnya pengawasan implementasi standar K3 di lapangan, bukan hanya pada aspek administratif. Sementara bagi dunia pendidikan, hasil studi ini dapat menjadi dasar pengembangan kurikulum keselamatan kerja yang lebih aplikatif.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam analisis keselamatan kerja. Menggabungkan berbagai metode analisis terbukti lebih efektif dalam mengidentifikasi akar masalah dibandingkan menggunakan satu metode saja.
0 Komentar