Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia karena meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan komplikasi pembuluh darah. Banyak penderita hipertensi juga mengalami komorbiditas seperti gangguan profil lipid atau dislipidemia, yang memperberat kondisi kesehatan mereka. Dalam situasi tersebut, rosella (Hibiscus sabdariffa) sering dipromosikan sebagai herbal alami karena kandungan antioksidan, antosianin, dan polifenol yang diduga mampu membantu mengontrol tekanan darah dan metabolisme kolesterol.
Namun, berbagai penelitian sebelumnya menghasilkan temuan yang tidak selalu sejalan. Beberapa studi melaporkan rosella membantu menurunkan tekanan darah, sementara penelitian lain menemukan efek yang terbatas atau tidak signifikan.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, tim UKI melakukan telaah sistematis dan meta-analisis terhadap 10 uji klinis yang dipublikasikan sepanjang 2015–2025. Literatur dikumpulkan dari sejumlah basis data ilmiah seperti PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan ResearchGate. Analisis dilakukan menggunakan pedoman internasional PRISMA dan perangkat lunak RevMan 5.4 untuk menggabungkan hasil berbagai penelitian secara statistik.
Pendekatan meta-analisis dipilih karena mampu menilai kekuatan bukti secara lebih menyeluruh dibandingkan hanya melihat satu penelitian tunggal. Dengan cara ini, peneliti dapat mengevaluasi apakah manfaat rosella benar-benar konsisten pada berbagai kelompok pasien dan desain penelitian.
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi teh rosella tidak memberikan penurunan signifikan secara statistik terhadap tekanan darah maupun profil lipid pada pasien hipertensi dengan komorbiditas.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Tekanan darah sistolik (angka atas) turun rata-rata 7,75 mmHg, tetapi hasil ini tidak signifikan secara statistik.
- Tekanan darah diastolik (angka bawah) turun rata-rata 2,28 mmHg, juga belum signifikan.
- Kolesterol LDL (kolesterol jahat) hampir tidak berubah.
- Kolesterol HDL (kolesterol baik) juga tidak menunjukkan peningkatan bermakna.
Meski demikian, peneliti menemukan gambaran yang lebih kompleks ketika melakukan sensitivity analysis atau analisis tambahan dengan mengecualikan beberapa studi tertentu. Pada sebagian penelitian quasi-eksperimental, rosella tampak berpotensi menurunkan tekanan darah sistolik dalam jumlah yang cukup besar. Akan tetapi, hasil tersebut disertai tingkat variasi data yang sangat tinggi sehingga sulit dijadikan dasar kesimpulan klinis yang pasti.
Temuan ini sejalan dengan sejumlah kajian internasional yang menyatakan bahwa rosella memang memiliki potensi biologis untuk membantu mengontrol tekanan darah melalui mekanisme pelebaran pembuluh darah dan aktivitas mirip penghambat enzim ACE, tetapi kekuatan buktinya masih beragam dan belum cukup seragam untuk menggantikan terapi medis standar.
Dalam pembahasannya, tim peneliti UKI menjelaskan bahwa kandungan antosianin dan polifenol dalam rosella secara teori dapat memengaruhi metabolisme lipid dan tekanan darah. Namun, efek biologis tersebut ternyata dipengaruhi banyak faktor, mulai dari dosis seduhan, lama konsumsi, kondisi pasien, hingga kualitas desain penelitian.
Menurut Hertina Silaban dan tim dari Universitas Kristen Indonesia, hasil ini menunjukkan bahwa rosella memiliki potensi sebagai terapi komplementer, tetapi belum dapat dianggap sebagai terapi utama untuk hipertensi atau gangguan kolesterol.
Penelitian juga mengidentifikasi masalah kualitas bukti. Beberapa studi yang dianalisis memiliki risiko bias sedang hingga tinggi, sementara perbedaan dosis dan karakteristik peserta menyebabkan hasil antar penelitian sangat bervariasi. Karena itu, para peneliti menilai masih dibutuhkan uji klinis acak berskala besar dengan standar dosis rosella yang seragam.
Bagi masyarakat, pesan utama penelitian ini cukup jelas. Minum teh rosella boleh menjadi bagian dari pola hidup sehat, tetapi tidak seharusnya menggantikan obat antihipertensi yang diresepkan dokter. Pasien hipertensi tetap perlu mengutamakan terapi farmakologis, menjaga pola makan, membatasi garam, rutin berolahraga, serta memeriksakan tekanan darah secara berkala.
Studi ini sekaligus memberi pelajaran penting bahwa popularitas herbal tidak selalu identik dengan efektivitas klinis yang sudah terbukti kuat. Pendekatan berbasis bukti tetap menjadi fondasi utama dalam pengobatan modern.
0 Komentar