Perbedaan sistem kesehatan, budaya masyarakat, dan kapasitas ekonomi membuat Indonesia dan Jepang menghadapi pandemi Covid-19 dengan hasil yang berbeda. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Firmansyah, Edison C. Sembiring, dan Soehatman Ramli dari Universitas Sahid. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS) edisi April 2026.
Penelitian ini membandingkan tata kelola penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia dan Jepang, mulai dari kebijakan pemerintah, kesiapan sistem kesehatan, respons masyarakat, hingga dampak ekonomi yang ditimbulkan selama pandemi berlangsung.
Menurut peneliti, pandemi Covid-19 menjadi salah satu krisis kesehatan global terbesar sejak diumumkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Maret 2020. Indonesia dan Jepang sama-sama menghadapi lonjakan kasus, tetapi memilih strategi yang berbeda dalam mengendalikan penyebaran virus.
Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kemudian Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk membatasi mobilitas warga. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan aktivitas publik, penutupan tempat umum, hingga pengurangan kapasitas transportasi. Namun, implementasinya dinilai menghadapi tantangan besar akibat lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah serta tingginya tekanan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Jepang memilih pendekatan yang lebih berbasis kesadaran masyarakat tanpa menerapkan lockdown total. Pemerintah Jepang mengandalkan kedisiplinan warga dan budaya tanggung jawab kolektif untuk menekan penyebaran virus. Strategi utama Jepang dikenal dengan pendekatan “3C”, yaitu menghindari ruang tertutup (closed spaces), kerumunan (crowded spaces), dan kontak dekat (close contact).
Penelitian mencatat bahwa Jepang memiliki sistem kesehatan yang lebih siap dibandingkan Indonesia. Infrastruktur medis, kapasitas rumah sakit, fasilitas ICU, dan distribusi tenaga kesehatan di Jepang dinilai lebih merata dan terorganisasi. Sebaliknya, Indonesia menghadapi keterbatasan rumah sakit, kekurangan oksigen medis, dan distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, terutama di daerah terpencil.
Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi komparatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pejabat pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum. Penelitian juga menggunakan laporan pemerintah, jurnal akademik, serta data dari WHO, UNICEF, dan IMF sebagai sumber pendukung.
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting:
- Jepang lebih mengandalkan partisipasi sukarela masyarakat dibandingkan penegakan aturan ketat.
- Tingkat kedisiplinan masyarakat Jepang membantu menekan penyebaran virus tanpa lockdown total.
- Indonesia mengalami tekanan besar pada rumah sakit akibat lonjakan pasien Covid-19.
- Sektor informal dan UMKM di Indonesia menjadi kelompok ekonomi yang paling terdampak pandemi.
- Jepang mampu mengurangi dampak ekonomi melalui stimulus fiskal dan sistem distribusi bantuan yang lebih terorganisasi.
Penelitian juga menemukan bahwa faktor budaya sangat memengaruhi efektivitas kebijakan pandemi. Masyarakat Jepang dinilai memiliki budaya disiplin dan kepatuhan tinggi terhadap aturan publik, termasuk penggunaan masker dan pembatasan mobilitas. Sebaliknya, di Indonesia, faktor ekonomi dan kebiasaan sosial seperti kegiatan keagamaan dan pertemuan keluarga besar sering menjadi hambatan dalam penerapan protokol kesehatan.
Selain itu, penelitian menyoroti ketimpangan kapasitas fiskal kedua negara. Jepang dinilai memiliki kemampuan lebih besar dalam memberikan stimulus ekonomi kepada masyarakat dan dunia usaha selama pandemi. Sementara di Indonesia, distribusi bantuan sosial dan stimulus ekonomi masih menghadapi persoalan keterlambatan dan ketidaktepatan sasaran.
Menurut Firmansyah dan tim peneliti, pengalaman Jepang menunjukkan pentingnya investasi jangka panjang pada sistem kesehatan, kesiapan krisis, dan edukasi publik. Indonesia dinilai perlu memperkuat koordinasi kebijakan, meningkatkan kapasitas rumah sakit, memperluas pemerataan tenaga kesehatan, serta memperkuat perlindungan sosial bagi kelompok rentan.
Penelitian ini dinilai penting karena memberikan gambaran mengenai bagaimana faktor budaya, tata kelola pemerintahan, dan kesiapan sistem kesehatan memengaruhi keberhasilan penanganan pandemi. Hasil studi juga dapat menjadi bahan evaluasi dalam menghadapi potensi krisis kesehatan global di masa depan.
Profil Penulis
- Firmansyah - Universitas Sahid
- Edison C. Sembiring - Universitas Sahid
- Soehatman Ramli - Universitas Sahid
Sumber Penelitian
Firmansyah, Sembiring, Edison C., & Ramli, Soehatman. Management Impact Analysis of Governance in Handling the Covid 19 Pandemic in Indonesia and Japan. Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4 No. 5, April 2026, halaman 377–394.

0 Komentar