Strategi Pengembangan Bisnis Hidroponik di Kota Ambon


Ilustrasi by AI 
FORMOSA NEWS

Bisnis Hidroponik Ambon Tumbuh Pesat di Tengah Tantangan Cuaca dan Infrastruktur

Bisnis pertanian hidroponik di Kecamatan Baguala, Kota Ambon, menunjukkan potensi pertumbuhan besar seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap sayuran sehat dan bebas pestisida. Penelitian yang dilakukan oleh Pattimura University melalui peneliti Alice Luhukay, Leunard O. Kakisina, dan Weldemina B. Parera menemukan bahwa usaha hidroponik di Ambon memiliki peluang pasar yang kuat, meski masih menghadapi kendala pelatihan teknis, pemasaran digital, hingga risiko cuaca ekstrem. Penelitian tersebut dipublikasikan pada 2026 dalam Internasional Journal of Integrative Sciences (IJIS).

Hasil penelitian ini penting karena hidroponik mulai menjadi solusi pertanian perkotaan di wilayah dengan keterbatasan lahan seperti Kota Ambon. Permintaan sayuran higienis dari hotel, supermarket, restoran, dan konsumen rumah tangga terus meningkat sejak pandemi COVID-19 mendorong kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat.

Hidroponik Jadi Solusi Pertanian Perkotaan

Hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa tanah dengan memanfaatkan larutan nutrisi sebagai sumber hara tanaman. Sistem ini memungkinkan tanaman tumbuh lebih efisien dengan penggunaan air yang lebih hemat dan risiko serangan hama tanah yang lebih rendah. Media tanam seperti rockwool digunakan karena mampu menyimpan air dan oksigen secara optimal untuk pertumbuhan akar.

Peneliti dari Pattimura University menjelaskan bahwa tren konsumsi sayuran sehat di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sayuran hidroponik seperti selada, bayam, pakcoy, sawi, kale, dan seledri kini semakin diminati pasar modern karena dianggap lebih bersih dan aman dikonsumsi.

Kota Ambon menjadi salah satu wilayah yang mulai aktif mengembangkan pertanian hidroponik sebagai alternatif usaha pertanian modern. Kecamatan Baguala dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki kapasitas produksi hidroponik terbesar di Ambon serta menjadi pusat pengembangan usaha hidroponik di kawasan tersebut.

Penelitian Libatkan Pelaku Usaha dan Pemerintah

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif kualitatif yang didukung data kuantitatif. Tim peneliti memilih tiga unit usaha hidroponik aktif di kawasan Passo Larier, Negeri Latta, dan Passo Indah sebagai objek penelitian.

Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dokumentasi, serta Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pelaku usaha hidroponik, pemerintah desa, pengamat hidroponik, dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Ambon.

Para pelaku usaha yang menjadi responden memiliki pengalaman usaha antara tiga hingga sepuluh tahun. Tingkat pendidikan mereka bervariasi, mulai dari lulusan sekolah menengah hingga magister, menunjukkan adanya keragaman kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan usaha hidroponik.

Peneliti menggunakan analisis SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang memengaruhi perkembangan bisnis hidroponik di Ambon.

Produk Higienis Jadi Kekuatan Utama

Penelitian menemukan bahwa usaha hidroponik di Baguala memiliki sejumlah kekuatan penting yang mendukung pengembangan bisnis.

Beberapa keunggulan utama yang ditemukan antara lain:

  • Produk lebih higienis dan dianggap lebih sehat oleh konsumen
  • Harga produk relatif terjangkau
  • Fasilitas produksi seperti greenhouse sudah memadai
  • Pelaku usaha memiliki pengalaman bisnis cukup panjang

Peneliti mencatat bahwa permintaan dari hotel, supermarket, dan restoran menjadi peluang pasar terbesar bagi pelaku usaha hidroponik. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi makanan sehat membuat pasar sayuran hidroponik terus berkembang.

Dalam analisis internal penelitian, harga produk yang terjangkau memperoleh skor kekuatan tertinggi. Produk yang higienis dan fasilitas produksi yang memadai juga dinilai menjadi modal penting untuk memperluas pasar.

Minim Pelatihan dan Digitalisasi Jadi Hambatan

Di balik peluang besar tersebut, penelitian juga menemukan sejumlah kelemahan serius yang masih dihadapi pelaku usaha hidroponik di Ambon.

Kendala utama yang ditemukan meliputi:

  • Tidak adanya pelatihan teknis dan pendampingan berkelanjutan
  • Minim bantuan dari pemerintah, universitas, maupun lembaga non-pemerintah
  • Pemasaran digital belum dimanfaatkan secara optimal
  • Belum ada kerja sama formal antar pelaku usaha hidroponik

Sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan pemasaran konvensional dan belum aktif menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook, maupun WhatsApp Business untuk memperluas promosi produk.

Menurut peneliti dari Pattimura University, rendahnya pemanfaatan teknologi digital membuat potensi pasar hidroponik belum berkembang maksimal, terutama untuk menjangkau konsumen di luar Ambon.

Cuaca Ekstrem dan Ketergantungan Listrik Jadi Ancaman

Penelitian juga mengungkap sejumlah ancaman eksternal yang dapat mengganggu keberlanjutan usaha hidroponik.

Ancaman utama yang dihadapi pelaku usaha meliputi:

  • Cuaca ekstrem dan angin kencang yang merusak tanaman
  • Ketergantungan tinggi terhadap pasokan listrik
  • Minim regenerasi pelaku usaha muda
  • Sebagian pelaku usaha belum memiliki rencana ekspansi jangka panjang

Karena sistem hidroponik sangat bergantung pada pompa air dan sirkulasi nutrisi berbasis listrik, gangguan pasokan listrik dapat langsung memengaruhi proses produksi tanaman.

Peneliti menyarankan penggunaan sistem cadangan listrik, pengaturan jadwal tanam yang lebih fleksibel, hingga pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya untuk mengurangi risiko operasional akibat cuaca ekstrem dan pemadaman listrik.

Strategi Pengembangan Fokus pada Digitalisasi dan Kolaborasi

Tim peneliti menyimpulkan bahwa bisnis hidroponik di Ambon memiliki peluang berkembang sangat besar apabila didukung strategi pengembangan yang tepat.

Beberapa rekomendasi utama dari penelitian ini meliputi:

  • Memperluas promosi melalui media sosial dan pemasaran digital
  • Membentuk koperasi atau forum pelaku usaha hidroponik
  • Meningkatkan pelatihan teknis dan manajerial
  • Memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan perguruan tinggi
  • Mendorong keterlibatan generasi muda dalam bisnis hidroponik

Menurut Alice Luhukay dan tim dari Pattimura University, bisnis hidroponik dapat menjadi bagian penting dalam penguatan ketahanan pangan perkotaan sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis pertanian modern di Ambon. Mereka menilai kolaborasi kelembagaan dan digitalisasi pemasaran akan menjadi kunci keberlanjutan usaha hidroponik di masa depan.

Profil Penulis

Alice Luhukay merupakan peneliti dari Pattimura University yang fokus pada pengembangan agribisnis dan pertanian perkotaan.

Leunard O. Kakisina adalah akademisi dari Pattimura University dengan bidang keahlian ekonomi pertanian dan strategi pembangunan wilayah.

Weldemina B. Parera merupakan peneliti di Pattimura University yang meneliti sistem pertanian berkelanjutan dan pengembangan usaha masyarakat.

Sumber Penelitian

Judul Jurnal: Hydroponic Business Development Strategy In Ambon City
Jurnal: Internasional Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar