Temuan tersebut muncul di tengah tingginya angka anemia pada ibu hamil di Indonesia. Kondisi ini bukan sekadar masalah kurang darah, melainkan dapat memicu komplikasi serius seperti perdarahan saat persalinan, berat badan lahir rendah, hingga hambatan pertumbuhan janin. Selama ini program suplementasi zat besi telah diterapkan secara luas, tetapi anemia tetap ditemukan pada banyak ibu hamil karena masalah gizi bersifat kompleks dan dipengaruhi berbagai faktor.
Langi dan Sirait menyoroti bahwa pemeriksaan status gizi melalui lingkar lengan atas masih belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bagian dari skrining rutin anemia. Padahal, ukuran sederhana ini dapat menggambarkan cadangan energi dan protein dalam tubuh ibu hamil yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin.
Penelitian berjudul “The Relationship between Nutritional Status Based on Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and Hemoglobin Levels in Pregnant Women” menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Tim peneliti melibatkan 190 ibu hamil yang dipilih secara acak di Puskesmas Bogor Timur. Pengumpulan data dilakukan sejak 22 Desember 2025 hingga 14 Februari 2026. Peneliti menganalisis hubungan antara ukuran lingkar lengan atas, usia kehamilan, serta kondisi anemia menggunakan uji statistik Chi-Square.
Secara umum, mayoritas responden berada pada usia reproduksi aman 20–35 tahun sebanyak 77 persen. Sebagian besar juga memiliki status gizi baik dengan ukuran MUAC atau LILA di atas 23,5 sentimeter. Namun, anemia tetap ditemukan pada 43 ibu hamil atau sekitar 23 persen dari seluruh sampel penelitian.
Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa lingkar lengan atas memiliki hubungan nyata dengan kejadian anemia. Ibu hamil dengan MUAC atau LILA kurang dari 23,5 sentimeter—yang menandakan risiko kekurangan energi kronis—lebih sering mengalami anemia dibandingkan ibu dengan ukuran lengan normal.
Beberapa hasil penting penelitian meliputi:
- 23% ibu hamil mengalami anemia dengan kadar hemoglobin di bawah 11 g/dL
- 16% responden memiliki MUAC/LILA di bawah 23,5 cm
- Ibu dengan MUAC berisiko mengalami anemia sebesar 38,7%
- Sementara ibu dengan MUAC normal mengalami anemia sebesar 19,5%
- Hubungan antara MUAC dan anemia terbukti signifikan secara statistik (p=0,019)
Penelitian ini juga menemukan pola lain yang tidak kalah penting, yaitu hubungan antara usia kehamilan dan anemia. Risiko anemia meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan.
Pada trimester pertama, anemia ditemukan pada 7,9 persen ibu hamil. Angka tersebut naik menjadi 33,3 persen pada trimester kedua dan mencapai 40 persen pada trimester ketiga. Hubungan ini tergolong sangat kuat secara statistik dengan nilai p=0,000.
Menurut peneliti, peningkatan risiko pada trimester akhir berkaitan dengan proses fisiologis kehamilan. Volume plasma darah ibu meningkat lebih cepat dibandingkan produksi sel darah merah, sehingga kadar hemoglobin tampak menurun. Pada saat yang sama, kebutuhan zat besi janin juga mencapai puncaknya sehingga cadangan besi ibu semakin terkuras.
Menariknya, penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara usia ibu maupun jumlah persalinan (paritas) dengan anemia. Hal ini menunjukkan bahwa anemia dapat dialami baik oleh ibu usia muda maupun usia reproduksi ideal, tergantung pada kondisi gizi dan kepatuhan terhadap asupan nutrisi serta suplementasi zat besi.
Louisa Ariantje Langi dan tim menjelaskan bahwa hubungan antara ukuran lingkar lengan dan anemia bersifat biologis. Saat tubuh kekurangan energi dan protein, tubuh mulai menggunakan jaringan otot sebagai sumber energi. Kondisi ini dapat mengurangi ketersediaan protein yang diperlukan untuk pembentukan heme, komponen utama hemoglobin dalam darah. Akibatnya, kadar hemoglobin menurun dan risiko anemia meningkat.
Bagi layanan kesehatan, temuan ini membawa pesan praktis yang kuat. Pemeriksaan LILA atau MUAC relatif mudah, murah, dan tidak membutuhkan alat laboratorium rumit. Karena itu, skrining gizi melalui lingkar lengan atas dapat dilakukan sejak kunjungan antenatal pertama untuk mendeteksi ibu hamil berisiko lebih awal.
Peneliti merekomendasikan tiga langkah utama bagi fasilitas kesehatan:
- Skrining gizi sejak awal kehamilan menggunakan MUAC/LILA
- Intervensi khusus berdasarkan trimester, terutama pada trimester ketiga yang memiliki risiko anemia tertinggi
- Edukasi gizi terintegrasi mengenai konsumsi protein dan makanan kaya zat besi, terutama bagi ibu dengan MUAC di bawah 23,5 sentimeter
Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa pencegahan anemia tidak cukup hanya mengandalkan tablet tambah darah. Status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan juga memegang peranan besar dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi.
Profil Penulis
Dr. Louisa Ariantje Langi merupakan akademisi pada Departemen Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, dengan fokus keilmuan pada kesehatan masyarakat dan kesehatan maternal.
Dr. Batara Imanuel Sirait berasal dari Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, dengan bidang keahlian kesehatan reproduksi dan kebidanan.
0 Komentar