Remaja Perokok di Denpasar Dominan Alami Gangguan Tidur, Vape Jadi Pemicu Utama

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Denpasar - Kebiasaan merokok pada remaja di Kota Denpasar berkaitan erat dengan buruknya kualitas tidur. Temuan ini dipublikasikan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Warmadewa dan dimuat dalam jurnal ilmiah Asian Journal of Healthcare Analytics tahun 2026. Penelitian tersebut menemukan bahwa lebih dari separuh remaja perokok aktif mengalami kualitas tidur yang buruk, dengan rokok elektrik atau vape menjadi jenis rokok yang paling banyak digunakan.

Penelitian dilakukan oleh Made Rangga Dwinanta Putra bersama Pande Ayu Naya Kasih Permatananda, Desak Putu Citra Udiyani, Anak Agung Sri Agung Aryastuti, dan Putu Nita Cahyawati. Studi ini menyoroti meningkatnya masalah kesehatan tidur pada remaja yang memiliki kebiasaan merokok aktif, terutama di tengah tren penggunaan vape yang semakin populer.

Para peneliti menjelaskan bahwa gangguan tidur pada remaja kini menjadi persoalan kesehatan yang semakin serius, baik di tingkat global maupun nasional. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan sekitar 73,4 persen remaja di Indonesia mengalami gangguan tidur. Di sisi lain, angka perokok remaja juga terus meningkat, termasuk di Bali dan Kota Denpasar.

Menurut tim peneliti, nikotin dalam rokok memiliki efek stimulan terhadap sistem saraf pusat. Zat ini membuat tubuh tetap terjaga lebih lama, memperpanjang waktu untuk tertidur, dan mengurangi kualitas tidur nyenyak. Pada perokok aktif, otak juga cenderung mengalami ketergantungan nikotin sehingga tubuh terdorong untuk terus merokok, bahkan pada malam hari.

“Perokok membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibandingkan non-perokok, dan kualitas tidur mereka cenderung lebih ringan serta kurang nyenyak,” tulis tim peneliti dalam laporan studinya.

Penelitian dilakukan menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 66 responden yang merupakan mahasiswa aktif perokok di Warmadewa University dilibatkan dalam penelitian ini. Seluruh responden berusia 18–24 tahun dan telah menjadi perokok aktif setidaknya selama enam bulan.

Untuk mengukur kualitas tidur, peneliti menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index atau PSQI versi Indonesia. Instrumen ini menilai beberapa aspek tidur seperti durasi tidur, waktu mulai tidur, gangguan tidur, efisiensi tidur, hingga gangguan aktivitas pada siang hari.

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting:

  • 80,3 persen responden merupakan laki-laki.
  • Seluruh responden berada pada kategori remaja akhir usia 18–24 tahun.
  • 47 persen responden menggunakan rokok elektrik atau vape.
  • 40,9 persen menggunakan campuran vape dan rokok konvensional.
  • 56,1 persen responden mengalami kualitas tidur buruk.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan vape kini menjadi tren dominan di kalangan remaja perokok di Denpasar. Peneliti menilai kondisi ini dipengaruhi oleh persepsi bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok biasa, ditambah desain modern, variasi rasa, serta promosi besar-besaran di media sosial.

Padahal, menurut penelitian ini, vape tetap mengandung nikotin yang dapat memicu gangguan tidur dan ketergantungan. Efek stimulan nikotin membuat otak terus aktif sehingga tubuh sulit memasuki fase tidur dalam dan pemulihan optimal.

Penelitian juga menemukan bahwa remaja laki-laki lebih rentan menjadi perokok aktif dibanding perempuan. Faktor sosial dan budaya dinilai berperan besar dalam kondisi tersebut. Rokok masih sering diasosiasikan dengan maskulinitas, kedewasaan, dan penerimaan sosial di lingkungan pertemanan.

Selain itu, usia 18–24 tahun dianggap sebagai fase pencarian identitas diri. Pada tahap ini, remaja cenderung lebih mudah terpengaruh lingkungan sosial dan media digital, termasuk dalam mencoba kebiasaan merokok.

Tim peneliti menyebut buruknya kualitas tidur dapat berdampak luas terhadap kesehatan fisik maupun mental remaja. Kurang tidur berkaitan dengan menurunnya konsentrasi belajar, gangguan suasana hati, kelelahan, penurunan produktivitas, hingga meningkatnya risiko gangguan psikologis.

Nikotin juga dapat memengaruhi pola tidur REM atau Rapid Eye Movement, yaitu fase tidur penting yang berkaitan dengan pemulihan otak dan fungsi memori. Pada perokok aktif, fase tidur ini dapat terganggu sehingga tubuh tidak mendapatkan istirahat optimal meskipun durasi tidur terlihat cukup.

56.1%>43.9%56.1\% > 43.9\%

56.1%>43.9%

Perbandingan di atas menunjukkan jumlah remaja perokok dengan kualitas tidur buruk lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki kualitas tidur baik. Peneliti menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius bagi orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah.

Menurut Pande Ayu Naya Kasih Permatananda dan timnya, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk memperkuat program edukasi kesehatan remaja, khususnya terkait bahaya merokok terhadap kualitas tidur dan kesehatan mental.

Peneliti juga mendorong adanya upaya promotif dan preventif yang lebih aktif, termasuk kampanye antirokok di sekolah dan media sosial. Mereka menilai edukasi tentang dampak vape perlu diperluas karena masih banyak remaja yang menganggap rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok konvensional.

Selain itu, penelitian lanjutan dinilai penting untuk mengetahui hubungan lebih mendalam antara tingkat kecanduan nikotin, durasi merokok, dan tingkat keparahan gangguan tidur pada remaja.

Profil Penulis

Made Rangga Dwinanta Putra merupakan peneliti di bidang kesehatan remaja dari University of Warmadewa.

Pande Ayu Naya Kasih Permatananda adalah akademisi dan peneliti kesehatan dari University of Warmadewa yang memiliki fokus penelitian pada kesehatan tidur, kesehatan mental, dan perilaku kesehatan remaja.

Desak Putu Citra Udiyani, Anak Agung Sri Agung Aryastuti, dan Putu Nita Cahyawati juga merupakan peneliti dari University of Warmadewa yang aktif dalam penelitian kesehatan masyarakat dan kesehatan remaja.

Sumber Penelitian

Judul penelitian: Overview of Sleep Quality in Active Smoking Adolescents in Denpasar City
Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics, Vol. 5 No. 1 Tahun 2026

Posting Komentar

0 Komentar