Makna Kata Tak Selalu Sama: Studi UNIMED Ungkap Tantangan Komunikasi Antarbudaya
Perbedaan budaya ternyata bisa mengubah makna bahasa secara signifikan, bahkan ketika kata-katanya sama. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru oleh Muhammad Natsir bersama Redikson Caesar Manullang, Naufal Afif Malay, Yansen Partogi Saragih, dan Fadilla Husin Aruan dari Universitas Negeri Medan (UNIMED). Studi yang diterbitkan pada 2026 di International Journal of Integrative Research ini mengungkap bagaimana makna bahasa dipahami dan dinegosiasikan dalam komunikasi lintas budaya, serta mengapa kesalahpahaman sering terjadi meski secara tata bahasa tidak ada kesalahan. Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya interaksi global—baik di ruang kelas multikultural, dunia kerja internasional, maupun komunikasi digital—di mana orang sering berbagi bahasa yang sama, tetapi tidak selalu berbagi makna yang sama.
Latar Belakang: Bahasa Sama, Makna Berbeda
Dalam konteks globalisasi, komunikasi lintas budaya semakin intens. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa memahami arti kata secara literal tidak cukup untuk memahami maksud sebenarnya. Perbedaan norma sosial, nilai budaya, dan pengalaman hidup membuat setiap individu menafsirkan pesan secara berbeda. Akibatnya, ungkapan yang tampak sederhana bisa menimbulkan kebingungan, kecanggungan, bahkan konflik sosial. Sebagai contoh, kalimat seperti “That’s interesting” bisa diartikan sebagai pujian dalam satu budaya, tetapi dianggap sindiran halus dalam budaya lain.
Metodologi: Menggali Pengalaman Nyata di Lingkungan Multikultural
Data dikumpulkan melalui:
Temuan Utama: Tiga Pola Kesalahpahaman Makna
Ketegangan antara Makna Literal dan Makna Sosial
Implikasi: Pentingnya Literasi Pragmatik dan Sensitivitas Budaya
Beberapa implikasi penting dari penelitian ini:
Kutipan Akademik
Muhammad Natsir dan tim dari Universitas Negeri Medan menyatakan bahwa makna bahasa “tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga sangat terkait dengan identitas, emosi, dan hubungan sosial.”
Profil Penulis
-Muhammad Natsir – Peneliti utama, Universitas Negeri Medan; ahli pragmatik dan komunikasi lintas budaya
-Redikson Caesar Manullang – Peneliti, Universitas Negeri Medan; fokus linguistik sosial
-Naufal Afif Malay – Peneliti, Universitas Negeri Medan; kajian komunikasi multikultural
-Yansen Partogi Saragih – Peneliti, Universitas Negeri Medan; bidang bahasa dan pendidikan
-Fadilla Husin Aruan – Peneliti, Universitas Negeri Medan; fokus linguistik dan budaya
-Redikson Caesar Manullang – Peneliti, Universitas Negeri Medan; fokus linguistik sosial
-Naufal Afif Malay – Peneliti, Universitas Negeri Medan; kajian komunikasi multikultural
-Yansen Partogi Saragih – Peneliti, Universitas Negeri Medan; bidang bahasa dan pendidikan
-Fadilla Husin Aruan – Peneliti, Universitas Negeri Medan; fokus linguistik dan budaya

0 Komentar