Perilaku Merokok Siswa Dinilai Merusak Kesehatan dan Moral di SMA Tinangkung Utara


Perilaku merokok di kalangan siswa SMA terbukti berdampak serius terhadap kesehatan fisik sekaligus pembentukan moral remaja. Temuan ini dipaparkan oleh Karmila P. Lamadang, Bahrun S. Hamadi, Ilmi Dwi Purnamasari Kumali, Nurul Avia, dan Nurhaida Tolodo dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai dalam artikel ilmiah yang terbit di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) tahun 2026. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Tinangkung Utara dan dinilai penting karena menyoroti ancaman rokok bukan hanya bagi perokok aktif, tetapi juga bagi lingkungan sekolah secara keseluruhan, termasuk pembentukan karakter siswa dari perspektif Pendidikan Agama Islam.

Fenomena merokok pada remaja masih menjadi persoalan serius di lingkungan pendidikan Indonesia. Masa SMA merupakan fase perkembangan yang rentan terhadap pengaruh sosial, rasa ingin tahu, dan dorongan untuk menunjukkan kedewasaan. Dalam konteks ini, rokok kerap dipandang sebagian siswa sebagai simbol penerimaan kelompok atau citra “lebih dewasa”. Namun di balik itu, penelitian ini menunjukkan adanya dampak yang jauh lebih luas: gangguan kesehatan, pelanggaran disiplin sekolah, hingga melemahnya nilai moral dan tanggung jawab diri.

Karmila P. Lamadang dan tim menemukan bahwa faktor teman sebaya menjadi pemicu paling dominan. Banyak siswa mulai mencoba rokok karena ajakan teman, tekanan kelompok, atau keinginan agar diterima dalam lingkungan sosialnya. Selain itu, faktor keluarga, lingkungan sekitar, dan rasa penasaran juga memperbesar peluang munculnya kebiasaan tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang diperkuat data kuantitatif sederhana melalui wawancara, angket, dan telaah dokumen sekolah. Responden melibatkan guru Pendidikan Agama Islam (PAI), guru Bimbingan Konseling (BK), siswa perokok, dan siswa nonperokok. Dengan metode ini, peneliti mampu memotret perilaku merokok siswa secara lebih komprehensif, mulai dari penyebab hingga dampaknya terhadap kesehatan dan pembentukan akhlak.

Hasil penelitian menunjukkan sejumlah temuan penting:
-faktor teman sebaya menjadi pemicu utama siswa mulai merokok
-rasa ingin tahu dan dorongan tampil dewasa memperkuat perilaku
-sebagian siswa mengaku merokok bahkan di area sekolah
-keluhan kesehatan yang muncul meliputi batuk, sesak napas, dan pusing
-siswa nonperokok juga terdampak sebagai perokok pasif
-sebagian siswa merasa menyesal setelah memahami dampak agama dan kesehatan

Dari sisi kesehatan, temuan paling nyata adalah gangguan pada sistem pernapasan. Siswa yang merokok melaporkan lebih sering mengalami batuk, sesak napas, dan penurunan daya tahan tubuh. Sementara itu, siswa yang tidak merokok tetap menghadapi risiko karena sering terpapar asap rokok di lingkungan sekolah maupun rumah. Kondisi ini mempertegas bahwa dampak rokok tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif.

Dari perspektif Pendidikan Agama Islam, perilaku merokok dipandang bertentangan dengan prinsip menjaga kesehatan sebagai amanah dari Allah SWT. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, menjaga diri, dan tidak membahayakan orang lain menjadi dasar moral yang dinilai tidak sejalan dengan kebiasaan merokok. Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa siswa yang memiliki pemahaman agama lebih baik cenderung menunjukkan rasa penyesalan dan keinginan untuk berhenti.

Karmila P. Lamadang dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki posisi strategis sebagai benteng moral untuk menekan perilaku menyimpang remaja. Ketika nilai-nilai agama diintegrasikan secara konsisten dalam pembelajaran dan pembinaan karakter, siswa lebih mampu mengontrol diri terhadap kebiasaan yang merugikan kesehatan.

Implikasi penelitian ini sangat relevan bagi dunia pendidikan dan kebijakan sekolah. Temuan ini menegaskan perlunya kawasan bebas rokok yang diawasi secara konsisten, bukan sekadar aturan tertulis. Sekolah juga perlu memperkuat edukasi kesehatan, layanan konseling, dan kegiatan ekstrakurikuler positif agar siswa memiliki alternatif aktivitas yang lebih sehat dan produktif.

Bagi guru PAI, penelitian ini memperlihatkan pentingnya memasukkan materi tentang menjaga kesehatan, akhlak, dan tanggung jawab diri dalam pembelajaran sehari-hari. Sementara bagi guru BK, pendekatan konseling yang empatik dan berkelanjutan dapat membantu siswa secara bertahap keluar dari kebiasaan merokok.

Peran orang tua juga menjadi faktor penting. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi hangat di rumah, pengawasan, serta keteladanan perilaku sangat berpengaruh terhadap keputusan anak untuk mencoba atau menghindari rokok.

Profil Penulis
Karmila P. Lamadang merupakan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai yang memiliki fokus pada bidang pendidikan agama Islam, pembentukan karakter remaja, dan perilaku sosial siswa. Dalam penelitian ini, ia berkolaborasi dengan Bahrun S. Hamadi, Ilmi Dwi Purnamasari Kumali, Nurul Avia, dan Nurhaida Tolodo untuk memperkuat kajian tentang hubungan perilaku merokok, kesehatan, dan moral siswa sekolah menengah.

Sumber Penelitian

Karmila P. Lamadang, Bahrun S. Hamadi, Ilmi Dwi Purnamasari Kumali, Nurul Avia, & Nurhaida Tolodo. (2026). The Impact of Smoking Behavior on Students' Health and Morals from the Perspective of Islamic Religious Education at State Senior High School 1 North Tinangkung. International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), 4(3), 277–284. 
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i3.187


Posting Komentar

0 Komentar