Pentingnya Pemahaman Masyarakat terhadap Liturgi Gereja Katolik di Daerah Perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - NTT - Iman Tanpa Pemahaman: Tantangan Liturgi Katolik di Perbatasan Indonesia-Timor Leste. Penelitian yang dilakukan oleh Yohana Aek Klau, dari Sekolah Tinggi Pastoral Santu Petrus Keuskupan Atambua dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Philosophy and Religion (AJPR),edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste memaknai Liturgi Gereja Katolik.

Penelitian yang dilakukan oleh Yohana Aek Klau, dari Sekolah Tinggi Pastoral Santu Petrus Keuskupan Atambua menyoroti bahwa 
kebijakan gerejawi mengenai pentingnya edukasi iman yang kontekstual di wilayah beranda negara.

Terjebak Rutinitas: Antara Kehadiran Fisik dan Pemahaman Makna

Bagi masyarakat di wilayah urban atau pusat kota, akses terhadap pendidikan teologi dan fasilitas pembentukan iman yang sistematis sangat mudah didapatkan. Sebaliknya, masyarakat yang hidup di wilayah pinggiran atau perbatasan sering kali menghadapi keterbatasan akses layanan pastoral. Peneliti melihat adanya dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang khas pada komunitas lintas batas iniDi satu sisi, masyarakat perbatasan dikenal memiliki loyalitas dan tradisi keagamaan yang sangat kuat. Mereka rajin berbondong-bondong menghadiri misa mingguan. Namun di sisi lain, tingginya angka kehadiran tersebut tidak dibarengi dengan pemahaman teologis yang mendalam. Banyak umat yang hadir hanya sekadar menjalankan kewajiban ritual formal atau mengikuti kebiasaan turun-temurun sejak kecil tanpa memahami arti dari simbol, doa, dan struktur ibadah yang mereka jalani

Metode yang digunakan untuk M
embedah Fenomena
Untuk membedah fenomena tersebut, penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Peneliti melakukan pengamatan langsung (observasi partisipatif) selama periode pastoral di lingkungan paroki perbatasan. Selain memantau jalannya perayaan ekaristi, peneliti juga mengumpulkan dokumen-dokumen paroki serta mewawancarai secara mendalam 11 orang informan kunci. Para informan ini dipilih secara cermat (purposive sampling) untuk mewakili seluruh struktur pastoral, yang terdiri dari satu orang pastor paroki, dua orang katekis, tiga petugas liturgi (lektor, pemazmur, dan anggota paduan suara), serta lima orang umat aktif. Seluruh data yang terkumpul kemudian dianalisis secara digital menggunakan perangkat lunak NVivo untuk menjaga konsistensi dan transparansi hasil riset.

Lima Temuan Utama Realitas Iman di Perbatasan
Berdasarkan analisis data yang intensif, studi ini berhasil merumuskan lima temuan utama mengenai tingkat pemahaman dan keterlibatan liturgi jemaat di perbatasan:

  • Tingkat Pemahaman Umat Masih Beragam: Mayoritas umat memang sangat setia hadir secara fisik di gereja, tetapi pemahaman mereka mengenai struktur teologis (seperti ritus tobat dan liturgi sabda) masih sangat awam. Sebagian umat menganggap ibadah sebatas rutinitas "datang, duduk, dengar khotbah, lalu pulang".
  • Pemahaman Mempengaruhi Kualitas Keterlibatan: Umat yang paham makna liturgi terbukti mengikuti misa dengan lebih fokus, sadar, dan aktif dalam menjawab doa atau bernyanyi. Sebaliknya, mereka yang kurang paham cenderung pasif dan mudah bosan sepanjang ibadah berlangsung.
  • Pendidikan Iman Menjadi Faktor Penentu: Kualitas pemahaman liturgi tidak tumbuh otomatis dari kebiasaan hadir di gereja, melainkan dibentuk oleh bimbingan pastoral yang terencana. Umat yang pernah ikut pelatihan petugas liturgi atau pendalaman Alkitab menunjukkan pemahaman yang jauh lebih matang.
  • Budaya Lokal dan Kendala Bahasa: Semangat kebersamaan dan kekerabatan di perbatasan sangat kuat, sehingga jemaat senang terlibat dalam kegiatan kelompok seperti paduan suara. Namun, penggunaan istilah-istilah keagamaan yang terlalu abstrak sering kali sulit dicerna. Umat terbukti lebih cepat menangkap makna ibadah saat dijelaskan menggunakan bahasa lokal atau contoh konkret sehari-hari.
  • Peran Vital Tokoh Pastoral: Pastor paroki, katekis, dan petugas liturgi memegang posisi strategis sebagai jembatan edukasi. Penjelasan singkat yang diberikan oleh pastor atau katekis sebelum misa atau saat pertemuan lingkungan terbukti sangat efektif membantu umat memahami arti ibadah secara sederhana.
Implikasi bagi Strategi Pastoral dan Pendidikan Masyarakat
Hasil penelitian dari Sekolah Tinggi Pastoral Santu Petrus Keuskupan Atambua ini membawa dampak penting bagi kebijakan edukasi keagamaan. Implikasi utamanya adalah perlunya pergeseran paradigma pelayanan gereja di wilayah perbatasan, dari yang awalnya hanya berorientasi pada aspek "pelaksanaan ritual" menjadi berorientasi pada "pendampingan makna". Gereja tidak boleh lagi hanya fokus mengundang umat untuk meramaikan gereja, tetapi harus mulai menyusun program katekese (pengajaran iman) liturgi yang kontekstual, berkelanjutan, dan menggunakan pendekatan budaya setempatLangkah ini penting agar agama tidak sekadar menjadi kosmetik sosial atau adat komunal, melainkan menjadi motor penggerak spiritualitas yang transformatif dalam kehidupan sehari-hari masyarakat perbatasan. Selain itu, peningkatan kapasitas dan pelatihan bagi para katekis serta petugas awam di garda terdepan paroki harus menjadi prioritas utama demi menciptakan pola komunikasi iman yang lebih segar dan membumi.

Profil Peneliti
Yohana Aek Klau adalah seorang akademisi, peneliti, dan pengajar yang mendedikasikan dirinya di Sekolah Tinggi Pastoral Santu Petrus Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Fokus keahliannya berada di bidang Teologi Pastoral dan Katekese Liturgi

Sumber Penelitian
Yohana Aek Klau 2026, The Importance of People's Understanding of the Liturgy of the Catholic Church in the Border Areas of Indonesia and the State of Timor Leste. Asian Journal of Philosophy and Religion (AJPR). Vol. 5, No. 1, Tahun 2026,. Halaman: 39-56
DOI: https://doi.org/10.55927/ajpr.v5i1.16385
URLhttps://journal.formosapublisher.org/index.php/ajpr

Posting Komentar

0 Komentar