Penilaian Insidensi, Tingkat Keparahan Penyakit Virus Keriting Daun Lada (PepYLCV) dan Dinamika Populasi Vektor (Bemisia Tabaci) di Negara Bagian Kebbi, Nigeria


Wabah Virus Keriting Daun Cabai Mengancam Produksi, Studi di Nigeria Ungkap Pola Penyebaran

Serangan virus keriting daun pada tanaman cabai terbukti meluas di Nigeria bagian barat laut, menurut penelitian terbaru yang dipimpin oleh I. J. Yusuf dari Abdullahi Fodio University of Science and Technology, Aliero, bersama tim lintas universitas. Studi yang dipublikasikan pada 2026 ini menyoroti tingkat infeksi, keparahan gejala, serta dinamika populasi serangga penular yang berdampak langsung pada produktivitas cabai—komoditas penting bagi petani kecil di Afrika. Penelitian ini menjadi penting karena cabai (Capsicum spp.) bukan hanya bahan pangan utama, tetapi juga sumber pendapatan bagi jutaan petani. Nigeria sendiri merupakan produsen cabai terbesar di Afrika. Namun, produksi cabai terus terancam oleh penyakit virus, terutama Pepper Leaf Curl Virus (PLCV), yang dikenal mampu menurunkan hasil panen secara signifikan.

Ancaman Virus dan Serangga Penular

PLCV merupakan salah satu penyakit virus paling merusak pada tanaman cabai di Nigeria. Virus ini ditularkan oleh serangga kecil bernama kutu kebul (Bemisia tabaci), yang menghisap cairan tanaman dan menyebarkan virus dari satu tanaman ke tanaman lain. Gejala infeksi tidak bisa dianggap ringan. Tanaman yang terinfeksi menunjukkan daun keriting, menguning, pertumbuhan terhambat, hingga gugurnya bunga. Dalam kondisi parah, tanaman bisa mati sebelum panen. Masalahnya, pengendalian serangga ini semakin sulit. Penggunaan insektisida yang berlebihan justru memicu resistensi, membuat kutu kebul semakin sulit dikendalikan.

Metode Penelitian Lapangan

Tim peneliti melakukan survei lapangan pada musim kemarau Desember 2021 di dua wilayah utama penghasil cabai di Negara Bagian Kebbi, yaitu Aliero dan Jega. Sebanyak 30 tanaman cabai dipilih secara acak di setiap lokasi penelitian. Para peneliti kemudian:

-Mengamati gejala visual infeksi virus
-Mengukur tingkat keparahan gejala menggunakan skala sederhana
-Menghitung jumlah kutu kebul pada daun muda tanaman

Pendekatan ini memungkinkan peneliti mendapatkan gambaran nyata kondisi lapangan, termasuk hubungan antara jumlah serangga dan tingkat infeksi penyakit.

Temuan Utama: Infeksi Tinggi dan Pola Variatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus PLCV telah menyebar luas di seluruh lokasi penelitian, dengan variasi tingkat infeksi dan keparahan.
Beberapa temuan kunci meliputi:
-Tingkat infeksi tertinggi ditemukan di Kashin Zama (60%)
-Wilayah lain seperti Aliero dan Birnin Malan mencatat 53,33%
-Tingkat terendah tetap tinggi, yaitu 40% di Jega
Untuk keparahan gejala:
-Aliero mencatat tingkat keparahan tertinggi (2,2)
-Disusul Kashin Zama (2,0)
-Jega terendah (1,5), namun tetap menunjukkan infeksi signifikan
Sementara itu, populasi kutu kebul juga cukup tinggi:
-Kashin Zama: 23 ekor per tanaman
-Aliero: 21 ekor
-Jega: 18 ekor
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa hubungan antara jumlah kutu kebul dan tingkat infeksi tidak selalu linear. Artinya, meskipun jumlah serangga tidak terlalu tinggi, tingkat infeksi tetap bisa besar. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor lain seperti kondisi lingkungan, varietas tanaman, dan riwayat infeksi juga berperan.

Faktor Penyebab Tingginya Penyebaran

Penelitian mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mempercepat penyebaran virus:
Penggunaan varietas rentan
Tanaman cabai yang tidak memiliki ketahanan genetik lebih mudah terinfeksi.
Sanitasi lahan yang buruk
Sisa tanaman terinfeksi menjadi sumber penyebaran virus.
Penggunaan insektisida berlebihan
Memicu resistensi kutu kebul dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Sistem pertanian intensif tanpa rotasi
Menyediakan habitat stabil bagi hama dan virus.
Menurut Yusuf dan timnya, “tingginya tingkat infeksi di beberapa wilayah kemungkinan besar dipicu oleh kombinasi varietas rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung populasi vektor.”

Dampak bagi Petani dan Ketahanan Pangan

Dampak dari penyebaran PLCV tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan dan ekonomi lokal.Jika tidak dikendalikan, penyakit ini dapat menyebabkan:
-Penurunan hasil panen secara drastis
-Kerugian ekonomi bagi petani kecil
-Ketidakstabilan pasokan cabai di pasar
Dalam skenario terburuk, infeksi berat dapat menyebabkan gagal panen total.

Strategi Pengendalian yang Direkomendasikan

Penelitian ini tidak hanya mengungkap masalah, tetapi juga menawarkan solusi praktis berbasis lapangan. Beberapa strategi yang direkomendasikan meliputi:
-Menggunakan varietas cabai tahan virus
-Menerapkan sanitasi lahan secara rutin
-Melakukan rotasi tanaman untuk memutus siklus hama
-Mengurangi ketergantungan pada insektisida kimia
-Mengontrol gulma yang dapat menjadi inang alternatif virus
Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan penggunaan pestisida secara terus-menerus.

Profil Penulis

Ibrahim J. Yusuf, M.Sc.
Peneliti utama dari Abdullahi Fodio University of Science and Technology, Aliero, Nigeria. Bidang keahlian: patologi tanaman dan epidemiologi penyakit tanaman.z
Dr. A. Musa – Abdullahi Fodio University of Science and Technology
Dr. I. Bello – Usman Danfodiyo University Sokoto
Dr. I. U. Mohammed – Abdullahi Fodio University of Science and Technology
Dr. I. D. Yusif – Federal University Dutse
Dr. A. Muhammad – Abdullahi Fodio University of Science and Technology
U. Z. Khadija, M.Sc. – Federal University of Agriculture Zuru
A. Afiu, M.Sc. – Federal University of Agriculture Zuru
Tim ini terdiri dari para ahli di bidang pertanian, entomologi, dan patologi tanaman yang berfokus pada peningkatan ketahanan pangan di Afrika.
Sumber Penelitian
Yusuf, I. J., Musa, A., Bello, I., Mohammed, I. U., Yusif, I. D., Muhammad, A., Khadija, U. Z., & Afiu, A. (2026).
“Assessment of Pepper Leaf Curl Virus Disease Incidence, Severity (PepYLCV) and Vector (Bemisia tabaci) Population Dynamics in Kebbi State, Nigeria.”
International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4(3), 381–390.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i3.20

Posting Komentar

0 Komentar