Ritual Mereresik di Pura Bali Perkuat Nilai Tri Hita Karana, Studi Baru Ungkap Peran Pendidikan Spiritual
Sebuah penelitian terbaru dari STKIP Agama Hindu Amlapura mengungkap bahwa ritual tradisional di pura Bali tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan masyarakat dalam menanamkan nilai lingkungan, sosial, dan spiritual. Penelitian ini dilakukan oleh Ni Putu Gatriyani, Ni Kadek Ayu Paramanandani, dan I Komang Badra, serta dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Sustainable Social Science. Studi tersebut meneliti praktik mereresik—ritual pembersihan dalam tradisi Hindu Bali—dan pendidikan spiritual di Pura Anggreka Sari, Banjar Dinas Batugunung, Desa Bukit, Kabupaten Karangasem. Hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan di pura ini berperan sebagai media pembelajaran nyata untuk memperkuat filosofi Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini penting karena Tri Hita Karana merupakan salah satu filosofi utama masyarakat Bali yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan dan perubahan sosial, penelitian ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan lokal masih efektif menjaga nilai-nilai tersebut di masyarakat modern.
Sebuah penelitian terbaru dari STKIP Agama Hindu Amlapura mengungkap bahwa ritual tradisional di pura Bali tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan masyarakat dalam menanamkan nilai lingkungan, sosial, dan spiritual. Penelitian ini dilakukan oleh Ni Putu Gatriyani, Ni Kadek Ayu Paramanandani, dan I Komang Badra, serta dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Sustainable Social Science. Studi tersebut meneliti praktik mereresik—ritual pembersihan dalam tradisi Hindu Bali—dan pendidikan spiritual di Pura Anggreka Sari, Banjar Dinas Batugunung, Desa Bukit, Kabupaten Karangasem. Hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan di pura ini berperan sebagai media pembelajaran nyata untuk memperkuat filosofi Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini penting karena Tri Hita Karana merupakan salah satu filosofi utama masyarakat Bali yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan dan perubahan sosial, penelitian ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan lokal masih efektif menjaga nilai-nilai tersebut di masyarakat modern.
Kearifan Lokal yang Hidup di Tengah Masyarakat
Tri Hita Karana adalah filosofi dasar dalam ajaran Hindu Bali yang mengajarkan tiga hubungan harmonis:
-Parhyangan: hubungan manusia dengan Tuhan
-Pawongan: hubungan manusia dengan sesama
-Palemahan: hubungan manusia dengan lingkungan alam
Menurut penulis, selama ini Tri Hita Karana sering dibahas dalam konteks pariwisata, pembangunan, dan kebijakan lingkungan. Namun masih sedikit penelitian yang melihat bagaimana nilai-nilai ini dipraktikkan langsung di masyarakat melalui ritual keagamaan dan pendidikan berbasis pura. Studi di Pura Anggreka Sari mengisi kekosongan tersebut.
Metode: Mengamati Ritual dan Pendidikan Komunitas
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi lapangan. Tim peneliti melakukan observasi kegiatan di pura, wawancara mendalam dengan pemangku dan warga, serta dokumentasi aktivitas ritual. Informan terdiri atas pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan peserta kegiatan mereresik serta pendidikan spiritual. Data kemudian dianalisis untuk melihat bagaimana aktivitas tersebut memperkuat nilai Tri Hita Karana di tingkat komunitas.
Temuan Utama: Ritual Menjadi Media Pendidikan Nilai
Penelitian menemukan bahwa mereresik dan pendidikan spiritual menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai moral, sosial, dan lingkungan. Temuan utama meliputi:
-Ritual pembersihan memperkuat disiplin spiritual dan kesiapan batin sebelum sembahyang.
-Pendidikan spiritual di pura meningkatkan kerja sama, empati, dan saling menghormati antarwarga.
-Kegiatan bersih-bersih bersama mendorong kesadaran lingkungan.
-Peserta menerapkan nilai Tri Hita Karana tidak hanya saat ritual, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Peneliti mencatat bahwa masyarakat tidak memandang mereresik sekadar membersihkan pura. Ritual ini juga dimaknai sebagai proses menyucikan pikiran, ucapan, dan tindakan.
Memperkuat Hubungan Manusia dan Alam
Salah satu temuan paling menonjol berkaitan dengan kesadaran ekologis. Menjelang upacara besar, warga bersama-sama membersihkan area pura, sumber air, dan lingkungan sekitar. Kegiatan ini menciptakan hubungan langsung antara spiritualitas dan tanggung jawab terhadap alam. Peserta menganggap merawat lingkungan sebagai bagian dari kewajiban religius karena alam dipandang suci. Penelitian ini menunjukkan bahwa ritual keagamaan dapat menjadi model pendidikan lingkungan berbasis budaya lokal. Dalam komunitas tertentu, pendekatan seperti ini dinilai lebih efektif dibanding kampanye formal tentang kebersihan dan konservasi.
Kohesi Sosial Melalui Pendidikan di Pura
Pendidikan spiritual di pura dilakukan melalui dharma wacana (ceramah keagamaan), doa bersama, dan diskusi ajaran Hindu. Kegiatan ini memperkuat ikatan sosial antarwarga. Peserta menyatakan mereka belajar tentang gotong royong, solidaritas, dan rasa hormat melalui ritual bersama serta kegiatan ngayah, yaitu kerja sukarela dalam persiapan upacara. Penulis menilai proses ini juga penting untuk transfer nilai antargenerasi, karena generasi muda belajar langsung dari pengalaman bersama orang tua dan tokoh adat.
Dampak bagi Pendidikan dan Keberlanjutan
Temuan penelitian ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar praktik keagamaan. Penulis menyebut integrasi ritual dan pendidikan di pura dapat menjadi model untuk pendidikan karakter, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Manfaat yang dapat dirasakan antara lain:
-memperkuat pendidikan karakter generasi muda
-menjaga identitas budaya lokal
-mendorong perlindungan lingkungan berbasis komunitas
-mendukung pariwisata berkelanjutan
-membangun perilaku etis melalui pengalaman spiritual langsung
Menurut Ni Putu Gatriyani, pura tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran nilai yang menghubungkan ajaran spiritual dengan tindakan sosial dan ekologis.
Profil Singkat Penulis
Ni Putu Gatriyani adalah dosen dan peneliti di STKIP Agama Hindu Amlapura dengan fokus kajian pendidikan agama Hindu, kearifan lokal, dan budaya masyarakat Bali.
Ni Kadek Ayu Paramanandani merupakan akademisi yang meneliti pendidikan spiritual, budaya Bali, dan etika lingkungan dalam komunitas keagamaan.
I Komang Badra adalah peneliti yang berfokus pada kearifan lokal, pembangunan masyarakat berkelanjutan, serta peran agama dalam transformasi sosial.
Sumber Penelitian
Gatriyani, N. P., Paramanandani, N. K. A., & Badra, I. K. (2026). Strengthening the Values of Tri Hita Karana through Cleansing and Spiritual Education at Pura Anggreka Sari, Banjar Dinas Batugunung, Bukit Village, Karangasem Regency. International Journal of Sustainable Social Science, 145–156.

0 Komentar