Pengaruh Panjang Jalan, Jumlah Kamar, dan Jumlah Tempat Tidur terhadap Jumlah Tamu Hotel Berbintang di Provinsi Jawa Barat pada Periode 2018-2024

Panjang Jalan dan Kapasitas Hotel Jadi Penentu Utama Lonjakan Tamu Hotel Bintang di Jawa Barat
Jumlah tamu hotel berbintang di Provinsi Jawa Barat ternyata sangat dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur dan kapasitas akomodasi. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Adang Djatnika Effendi, bersama Amelia Hayati dan Ahmad Sopyan dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Studi yang terbit pada 2026 ini menyoroti bagaimana panjang jalan, jumlah kamar, dan jumlah tempat tidur hotel memengaruhi jumlah tamu hotel berbintang sepanjang periode 2018–2024. Penelitian ini penting karena sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah, terutama melalui kontribusinya terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas bisnis lokal. Hotel berbintang menjadi indikator penting untuk membaca dinamika pariwisata, sebab peningkatan atau penurunan jumlah tamu mencerminkan daya tarik destinasi sekaligus kesiapan fasilitas penunjangnya.

Infrastruktur dan hotel saling terkait
Tim peneliti menemukan bahwa pembangunan jalan tidak hanya berkaitan dengan transportasi, tetapi juga memengaruhi akses wisatawan menuju destinasi wisata dan pusat kegiatan ekonomi. Di wilayah seperti Jawa Barat yang memiliki banyak kota wisata, kemudahan akses menjadi faktor penting yang mendorong orang menginap di hotel. Selain akses jalan, kapasitas hotel juga berperan besar. Semakin banyak kamar dan tempat tidur yang tersedia, semakin besar kemampuan hotel untuk menampung wisatawan, terutama pada musim liburan atau saat ada acara besar. Karena itu, penelitian ini mencoba mengukur secara empiris hubungan ketiga faktor tersebut terhadap jumlah tamu hotel berbintang.

Data tujuh tahun dari BPS
Penelitian menggunakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, mencakup rentang waktu 2018–2024. Data yang dianalisis meliputi:
-panjang jalan di Jawa Barat,
-jumlah kamar hotel berbintang,
-jumlah tempat tidur hotel berbintang,
-jumlah tamu hotel berbintang.
Metode analisis yang dipakai adalah regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak statistik EViews 12. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat pengaruh masing-masing variabel secara terpisah maupun bersama-sama.

Hasil: kamar hotel paling berpengaruh
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, ketiga variabel—panjang jalan, jumlah kamar, dan jumlah tempat tidur—berpengaruh signifikan terhadap jumlah tamu hotel berbintang di Jawa Barat. Namun, ketika diuji satu per satu, jumlah kamar hotel menjadi faktor paling dominan. Beberapa temuan utama penelitian:
-Jumlah kamar hotel berpengaruh signifikan terhadap jumlah tamu.
-Jumlah tempat tidur juga berpengaruh, meski tidak sekuat jumlah kamar.
-Panjang jalan memiliki pengaruh positif, tetapi tidak signifikan secara parsial.
-Ketiga variabel bersama-sama mampu menjelaskan 95,4% variasi jumlah tamu hotel.
Model statistik yang digunakan memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah kamar memiliki koefisien paling besar. Artinya, ekspansi kapasitas hotel menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan jumlah tamu, lebih kuat dibanding sekadar penambahan infrastruktur jalan.

Dampak pandemi terlihat jelas
Salah satu temuan menarik terlihat pada data tahun 2020. Saat panjang jalan, jumlah kamar, dan jumlah tempat tidur justru meningkat, jumlah tamu hotel anjlok drastis. Peneliti mencatat hanya 119 tamu pada tahun tersebut, yang diduga kuat berkaitan dengan dampak pandemi COVID-19 terhadap mobilitas wisatawan. Setelah itu, pemulihan terlihat bertahap. Pada 2021 hingga 2024, jumlah tamu meningkat kembali, bahkan melonjak tajam pada 2024 hingga mencapai 14,4 juta tamu. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan jumlah kamar menjadi 67.250 unit dan tempat tidur menjadi 106.035 unit.

Implikasi bagi industri pariwisata
Penelitian ini memberi pesan penting bagi pemerintah daerah dan pelaku industri hotel: pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Kapasitas dan kualitas akomodasi justru menjadi kunci utama dalam menarik wisatawan untuk menginap. Menurut Adang Djatnika Effendi dan tim dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, peningkatan jumlah kamar dan fasilitas hotel dapat menjadi strategi konkret untuk mendukung pertumbuhan sektor pariwisata. Infrastruktur jalan tetap penting sebagai pendukung aksesibilitas, tetapi investasi pada fasilitas penginapan memiliki dampak lebih langsung terhadap tingkat hunian. Bagi pemerintah, hasil ini bisa menjadi dasar kebijakan untuk:
-mendorong investasi hotel di kawasan wisata,
-meningkatkan kualitas sarana akomodasi,
-menyelaraskan pembangunan jalan dengan pengembangan destinasi wisata baru.
Sementara bagi pelaku usaha hotel, hasil ini menunjukkan bahwa ekspansi kamar dan peningkatan layanan akomodasi masih menjadi strategi bisnis yang relevan untuk menghadapi pertumbuhan wisata domestik maupun internasional.

Kutipan akademik
Dalam artikel jurnalnya, Adang Djatnika Effendi menegaskan bahwa kapasitas akomodasi menjadi faktor yang lebih dominan dibanding infrastruktur jalan dalam menentukan jumlah tamu hotel berbintang di Jawa Barat. Temuan ini menegaskan bahwa permintaan sektor perhotelan sangat dipengaruhi kesiapan fasilitas yang tersedia, bukan hanya akses menuju lokasi wisata.

Profil penulis
Adang Djatnika Effendi, S.E., M.M. merupakan akademisi dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang memiliki fokus kajian pada ekonomi regional, statistik terapan, dan pembangunan sektor jasa.
Amelia Hayati dan Ahmad Sopyan juga merupakan peneliti dari universitas yang sama, dengan minat penelitian di bidang ekonomi pembangunan, pariwisata, dan analisis data sosial-ekonomi.

Sumber penelitian
Judul artikel: The Effect of Road Length, Rooms, and Beds on the Number of Star Hotel Guests in West Java Province During the 2018-2024 Period
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research, Vol. 4 No. 3 (2026)

Posting Komentar

0 Komentar