Masyarakat pendatang di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dinilai mampu beradaptasi dengan baik melalui penerapan nilai-nilai budaya Bugis seperti Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Andi Muh. Rusdi Maidin, Andi Tenri Ulmi Qalsum, Rajamemang, Wahyudi Putera, serta Nisma Iriani. Penelitian ini dipublikasikan dalam Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS) edisi April 2026.
Penelitian tersebut mengkaji bagaimana masyarakat pendatang menyesuaikan diri dan membangun hubungan sosial dengan warga lokal di Kabupaten Bone. Peneliti menemukan bahwa proses adaptasi sosial berlangsung melalui tiga tahap utama, yaitu adaptasi fungsional, akulturasi budaya, dan integrasi sosial.
Kabupaten Bone diketahui mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Selain angka kelahiran, peningkatan jumlah penduduk juga dipengaruhi oleh masuknya pendatang dari berbagai daerah seperti Jawa, Makassar, dan wilayah Bugis lainnya. Bone dianggap menarik karena pertumbuhan ekonomi, aktivitas perdagangan, dan posisinya sebagai pusat kawasan Bosowasipilu di Sulawesi Selatan.
Menurut penelitian, masuknya masyarakat pendatang memunculkan interaksi budaya yang intens antara warga lokal dan kelompok pendatang. Dalam kehidupan sosial masyarakat Bone, nilai budaya Pangadereng menjadi dasar penting dalam menjaga hubungan sosial. Di dalamnya terdapat konsep Siri’ na Pesse yang menekankan harga diri, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Peneliti menjelaskan bahwa pendatang yang memahami prinsip Sipakatau atau saling memanusiakan, Sipakalebbi atau saling menghormati, serta Sipakainge atau saling mengingatkan cenderung lebih cepat diterima oleh masyarakat lokal Bone.
Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi selama tiga bulan di Kecamatan Tanete Riattang, pusat Kota Watampone. Penelitian melibatkan pendatang, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan warga asli Bone sebagai informan utama.
Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor penting yang mempercepat proses adaptasi sosial pendatang:
- Penggunaan bahasa sopan seperti “Tabe’” dan “Iye’” menjadi simbol penghormatan yang sangat penting dalam interaksi sosial di Bone.
- Keterlibatan dalam acara adat seperti Mappacci dan kegiatan sosial masyarakat membantu pendatang membangun kedekatan emosional dengan warga lokal.
- Solidaritas sosial atau Pesse membuat pendatang yang menunjukkan empati terhadap kesulitan warga lebih cepat diterima sebagai bagian dari komunitas.
Meski demikian, penelitian juga menemukan beberapa tantangan dalam proses adaptasi. Perbedaan bahasa dan dialek Bugis Bone menjadi kendala awal bagi sebagian pendatang. Beberapa informan mengaku sempat merasa tidak nyaman dengan gaya bicara masyarakat Bone yang terdengar tegas dan langsung. Namun, setelah memahami budaya setempat, mereka menyadari bahwa cara komunikasi tersebut mencerminkan keterbukaan, bukan kemarahan.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya ruang publik seperti pasar tradisional dan masjid sebagai tempat terjadinya interaksi sosial antara pendatang dan masyarakat lokal. Di tempat-tempat tersebut, proses pertukaran budaya dan penyesuaian sosial berlangsung secara alami melalui aktivitas sehari-hari.
Menurut Andi Muh. Rusdi Maidin dan tim peneliti, keberhasilan integrasi sosial di Bone terjadi karena masyarakat lokal tetap mempertahankan keterbukaan terhadap keberagaman tanpa menghilangkan identitas budaya mereka sendiri. Pendatang pun cenderung mengadopsi unsur budaya lokal tanpa harus meninggalkan identitas asal mereka.
Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah daerah lebih aktif menyelenggarakan festival budaya dan forum dialog antar-etnis untuk memperkuat integrasi sosial di Kabupaten Bone. Peneliti juga menekankan pentingnya menjaga nilai budaya lokal agar tetap diwariskan kepada generasi muda di tengah perubahan sosial dan globalisasi.
Hasil penelitian dinilai penting karena menunjukkan bahwa nilai budaya lokal dapat menjadi fondasi kuat dalam menjaga harmoni sosial di tengah meningkatnya mobilitas penduduk dan keberagaman masyarakat di Indonesia.
Profil Penulis
- Andi Muh. Rusdi Maidin - Universitas Bosowa.
- Andi Tenri Ulmi Qalsum - Universitas Bosowa
- Rajamemang - Universitas Muhammadiyah Sinjai
- Wahyudi Putera - STIE Pelita Buana dan Politeknik Negeri Ujung Pandang
- Nisma Iriani Universitas Indonesia Timur
Sumber Penelitian
Maidin, Andi Muh. Rusdi, Qalsum, Andi Tenri Ulmi, Rajamemang, Putera, Wahyudi, & Iriani, Nisma. Social Adaptation of the Community to Local Residents in Bone Regency, South Sulawesi Province. Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4 No. 5, April 2026, halaman 439–448.

0 Komentar