Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) ini menjadi penting karena menunjukkan bagaimana usaha mikro dan kecil dapat menentukan harga jual secara lebih akurat berdasarkan biaya produksi yang sebenarnya, bukan hanya berdasarkan perkiraan atau harga pasar.
Selama ini, UMKM Sf’Barik menjual anggur pala dengan harga sekitar Rp60.000 per botol. Namun penetapan harga tersebut dilakukan secara konvensional tanpa perhitungan rinci terhadap seluruh komponen biaya produksi. Kondisi seperti ini banyak ditemukan pada UMKM di berbagai daerah dan berpotensi menimbulkan kesalahan dalam menentukan keuntungan maupun strategi bisnis jangka panjang.
Produk Lokal dengan Nilai Budaya dan Keagamaan
Sf’Barik merupakan usaha kecil yang berdiri sejak 2018 di Desa Beong, Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. Usaha ini memanfaatkan komoditas pala lokal untuk menghasilkan berbagai produk olahan seperti sirup pala, dodol pala, selai pala, kopi pala, hingga anggur pala.
Produk yang menjadi fokus penelitian adalah anggur pala, salah satu produk unggulan yang memiliki nilai budaya dan keagamaan karena digunakan dalam beberapa kegiatan Perjamuan Kudus di gereja-gereja setempat.
Produksi anggur pala di Sf’Barik mencapai sekitar 200 botol per bulan. Meski permintaan pasar cukup baik, pengelola usaha belum memiliki sistem perhitungan biaya produksi yang terstruktur sehingga harga jual lebih banyak ditentukan berdasarkan pengalaman dan kondisi pasar.
Menurut para peneliti, pendekatan tersebut berisiko menyebabkan harga terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan biaya produksi yang sebenarnya.
Menghitung Biaya Produksi Secara Menyeluruh
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus dengan mengumpulkan data melalui wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi keuangan perusahaan.
Para peneliti kemudian menghitung seluruh biaya yang terlibat dalam proses produksi menggunakan metode Full Costing. Metode ini memasukkan semua unsur biaya produksi, baik biaya langsung maupun tidak langsung.
Komponen biaya yang dianalisis meliputi:
- Bahan baku dan bahan pendukung: Rp2.260.000
- Tenaga kerja langsung: Rp4.500.000
- Biaya overhead pabrik (penyusutan peralatan): Rp581.500
Total biaya produksi untuk satu siklus produksi mencapai Rp7.911.500.
Dengan kapasitas produksi sekitar 200 botol, biaya produksi riil yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu botol anggur pala tercatat sebesar Rp39.557.
Penelitian ini juga menemukan bahwa selama ini biaya penyusutan peralatan produksi belum diperhitungkan secara memadai dalam proses penetapan harga. Padahal biaya tersebut merupakan bagian penting dari biaya produksi yang harus ditanggung perusahaan.
Harga Jual Ideal Berdasarkan Perhitungan Akuntansi
Setelah memperoleh biaya produksi per botol, peneliti menerapkan metode Cost-Plus Pricing.
Metode ini menentukan harga jual dengan menambahkan margin keuntungan tertentu di atas biaya produksi. Dalam penelitian ini digunakan margin keuntungan sebesar 30 persen, yang dianggap realistis untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus tetap kompetitif di pasar.
Hasil perhitungan menunjukkan:
- Biaya produksi per botol: Rp39.557
- Margin keuntungan 30 persen: Rp11.867
- Harga jual ideal: Rp51.424 per botol
Angka tersebut ternyata lebih rendah dibandingkan harga jual yang saat ini diterapkan Sf’Barik, yakni Rp60.000 per botol.
Selisih harga mencapai Rp8.576 per botol.
Dengan volume produksi sekitar 200 botol per siklus, selisih tersebut berpotensi menghasilkan tambahan keuntungan sekitar Rp1,7 juta setiap periode produksi.
Harga Pasar Masih Diterima Konsumen
Meski harga jual aktual lebih tinggi daripada harga yang dihitung menggunakan metode akuntansi biaya, penelitian menemukan bahwa produk Sf’Barik tetap diterima pasar.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kualitas produk, proses fermentasi alami, identitas lokal yang kuat, serta nilai budaya dan keagamaan yang melekat pada produk anggur pala tersebut.
Peneliti menilai kondisi ini menunjukkan bahwa Sf’Barik secara tidak langsung telah menerapkan strategi market-based pricing, yaitu penentuan harga berdasarkan persepsi nilai yang dirasakan konsumen.
Menurut Meini Vanesa Bawonte dan tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi, penerapan metode Full Costing dan Cost-Plus Pricing tetap penting dilakukan karena memberikan dasar yang lebih objektif dalam pengambilan keputusan bisnis.
Dengan mengetahui struktur biaya secara rinci, pelaku usaha dapat mengevaluasi efisiensi produksi, mengukur profitabilitas secara lebih akurat, serta merancang strategi ekspansi yang lebih terukur.
Manfaat bagi UMKM dan Pengambil Kebijakan
Temuan penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi pelaku UMKM di Indonesia, terutama yang bergerak di sektor pengolahan pangan dan produk lokal.
Banyak usaha kecil masih menentukan harga berdasarkan kebiasaan pasar tanpa menghitung seluruh biaya produksi secara rinci. Akibatnya, mereka sering kesulitan mengetahui keuntungan yang sebenarnya diperoleh.
Penerapan metode Full Costing memungkinkan UMKM memahami biaya riil setiap produk yang dihasilkan. Sementara itu, Cost-Plus Pricing membantu menentukan harga jual yang mampu menutup seluruh biaya sekaligus menghasilkan keuntungan yang terukur.
Bagi pemerintah daerah dan lembaga pendamping UMKM, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam menyusun program pelatihan manajemen keuangan dan akuntansi biaya agar usaha kecil lebih siap menghadapi persaingan pasar.
Profil Penulis
Meini Vanesa Bawonte merupakan peneliti dari Program Studi Akuntansi, Universitas Sam Ratulangi, dengan fokus kajian pada akuntansi biaya, akuntansi manajemen, dan pengembangan UMKM.
Penelitian ini dilakukan bersama:
- Jullie Sondakh, akademisi dan peneliti bidang akuntansi manajemen dari Universitas Sam Ratulangi.
- I Gede Suwetja, akademisi Universitas Sam Ratulangi yang meneliti bidang akuntansi biaya, sistem pengendalian manajemen, dan pengembangan usaha.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Implementation of the Full Costing Method Based on Cost-Plus Pricing in Determining Cost of Goods Sold and Selling Price at Sf’barik in Beong Village, Central Siau District
Penulis: Meini Vanesa Bawonte, Jullie Sondakh, I Gede Suwetja
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Volume dan Tahun: Vol. 5 No. 5, 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.74
Afiliasi: Universitas Sam Ratulangi, Indonesia
0 Komentar