MAKASSAR – Integrasi konsep green chemistry atau kimia hijau dalam pembelajaran kimia dinilai mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa sekaligus membangun karakter peduli lingkungan. Temuan ini dipublikasikan oleh Army Auliah, Vika Puji Cahyani, dan Islawati dari Universitas Negeri Makassar dalam jurnal International Journal of Scientific Multidisciplinary Research tahun 2026.
Penelitian tersebut menyoroti tren pembelajaran kimia modern yang mulai bergeser dari pendekatan hafalan menuju pembelajaran kontekstual yang berkaitan langsung dengan isu lingkungan dan keberlanjutan. Para peneliti menemukan bahwa konsep green chemistry kini semakin banyak diterapkan dalam kurikulum, media pembelajaran, hingga proyek praktikum berbasis kehidupan nyata.
Green chemistry sendiri merupakan pendekatan pembelajaran dan praktik kimia yang menekankan pengurangan penggunaan bahan berbahaya serta mendorong proses yang lebih aman bagi manusia dan lingkungan. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini tidak hanya mengajarkan teori kimia, tetapi juga membangun kesadaran mahasiswa terhadap tantangan global seperti perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan.
Army Auliah dan tim melakukan Systematic Literature Review dengan pendekatan PRISMA terhadap berbagai artikel ilmiah internasional yang terbit pada periode 2020–2025. Dari 124 artikel yang ditemukan di basis data Scopus, peneliti menyaring dan menganalisis 10 artikel utama yang dinilai paling relevan dengan topik integrasi green chemistry dalam pendidikan kimia.
Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran aktif seperti Project-Based Learning (PjBL), Problem-Based Learning (PBL), socio-scientific issues (SSI), dan ethnoscience memberikan dampak positif terhadap proses belajar mahasiswa.
Dalam model Project-Based Learning, mahasiswa diajak menyelesaikan proyek nyata yang berkaitan dengan masalah lingkungan dan kimia sehari-hari. Pendekatan ini dinilai efektif meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta membangun karakter konservasi lingkungan.
Sementara itu, Problem-Based Learning membantu mahasiswa memahami konsep kimia melalui pemecahan masalah nyata. Pendekatan socio-scientific issues membuat mahasiswa lebih memahami dampak sosial dan lingkungan dari penggunaan bahan kimia, termasuk isu pestisida dan limbah industri.
Pendekatan ethnoscience juga dinilai penting karena menghubungkan ilmu kimia dengan pengetahuan lokal dan budaya masyarakat. Cara ini membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa sehingga materi yang dianggap abstrak menjadi lebih mudah dipahami.
Meski demikian, penelitian ini menemukan bahwa implementasi green chemistry di perguruan tinggi masih belum merata. Banyak pembelajaran kimia yang masih berfokus pada aspek teori dan kognitif tanpa mengintegrasikan karakter lingkungan secara sistematis.
Peneliti juga menemukan bahwa media pembelajaran inovatif berbasis green chemistry masih sangat terbatas. Sebagian besar modul pembelajaran yang ada belum secara khusus menggabungkan konsep keberlanjutan, keselamatan kimia, dan pembelajaran berbasis proyek dalam satu sistem terpadu.
Menurut Vika Puji Cahyani dan tim, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan micro-module atau modul pembelajaran singkat yang lebih fleksibel, kontekstual, dan terintegrasi dengan konsep kimia hijau.
Topik laju reaksi disebut menjadi salah satu materi kimia yang potensial untuk dikembangkan menggunakan pendekatan tersebut. Materi ini selama ini dianggap abstrak dan sulit dipahami mahasiswa jika hanya dijelaskan melalui teori di kelas.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi digital dalam pengembangan media pembelajaran kimia masa depan. Integrasi teknologi dinilai dapat membuat pembelajaran lebih fleksibel, interaktif, dan mudah diakses mahasiswa dari berbagai daerah.
Selain meningkatkan kemampuan akademik, pembelajaran kimia berbasis green chemistry dinilai mampu membentuk generasi yang lebih sadar terhadap dampak lingkungan dari aktivitas manusia. Pendekatan ini dianggap relevan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Para peneliti menyimpulkan bahwa pendidikan kimia tidak lagi cukup hanya berorientasi pada penguasaan konsep ilmiah. Pembelajaran juga harus mampu membangun kesadaran sosial, kepedulian lingkungan, serta kemampuan mahasiswa dalam mencari solusi terhadap persoalan keberlanjutan di masa depan.
International Journal of Scientific Multidisciplinary Research, Vol. 4, No. 5, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i5.48
0 Komentar