Program pendampingan penyusunan laporan keuangan berbasis Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) yang dilakukan oleh Universitas Methodist Indonesia berhasil meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan pelaku UMKM di Kota Medan. Program ini dipimpin oleh Duma Rahel Situmorang bersama Farida Sagala, Lamria Sagala, Mitha Christina Ginting, Gracesiella Y. Simanjuntak, Thomas Sumarsan Goh, Januardi Mesakh, Dimita H.P. Purba, Saur Melianna Sipayung, dan Septony Benyamin Siahaan, serta dipublikasikan pada 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB).
Penelitian ini menyoroti masih rendahnya kemampuan pelaku UMKM di Medan dalam menyusun laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi. Padahal, UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian daerah. Data Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan menunjukkan terdapat sekitar 45 ribu UMKM yang bergerak di sektor kuliner, fesyen, kerajinan, jasa, hingga pengolahan hasil pertanian pada 2024.
Namun, sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi masalah serius dalam pengelolaan keuangan. Sekitar 72 persen UMKM di Medan belum memahami kerangka SAK EMKM, sementara hanya 15 persen yang pernah menyusun laporan keuangan sesuai standar. Kondisi ini membuat banyak UMKM kesulitan memperoleh akses pembiayaan dari bank karena laporan keuangan menjadi syarat utama pengajuan kredit usaha.
Program pendampingan ini melibatkan 30 pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha yang dipilih berdasarkan komitmen mereka untuk mengembangkan usaha dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research yang menekankan kolaborasi langsung antara tim peneliti dan pelaku usaha.
Tim peneliti menemukan beberapa persoalan utama yang dihadapi peserta, antara lain:
- Rendahnya pemahaman dasar akuntansi dan SAK EMKM
- Ketidakmampuan menyusun laporan keuangan standar
- Kebiasaan mencampur keuangan pribadi dan usaha
- Tidak adanya sistem pencatatan transaksi yang terstruktur
- Minimnya akses terhadap pelatihan akuntansi yang terjangkau
- Kurangnya komunitas belajar dan konsultasi bagi UMKM
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim pengabdian menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan intensif selama sepuluh minggu. Materi pelatihan mencakup prinsip dasar akuntansi, penyusunan laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan sesuai standar SAK EMKM. Peserta juga diberikan template pencatatan transaksi yang disesuaikan dengan jenis usaha masing-masing.
Program pendampingan meliputi:
- Empat sesi workshop SAK EMKM
- Pelatihan pencatatan transaksi harian
- Konsultasi intensif melalui grup WhatsApp
- Evaluasi berkala laporan keuangan peserta
- Simulasi pengajuan kredit ke lembaga keuangan
Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan akuntansi dan pengelolaan keuangan peserta. Setelah program selesai:
- Sebanyak 87 persen peserta mampu menyusun laporan keuangan sederhana sesuai SAK EMKM secara mandiri
- Pemahaman tentang komponen laporan keuangan meningkat dari 18 persen menjadi 89 persen
- Kemampuan memisahkan keuangan pribadi dan usaha meningkat dari 32 persen menjadi 91 persen
- Kesiapan mengajukan kredit usaha meningkat dari 14 persen menjadi 79 persen
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah meningkatnya kesadaran peserta terhadap pentingnya memisahkan keuangan pribadi dan bisnis. Banyak peserta sebelumnya menggunakan pendapatan usaha untuk kebutuhan pribadi tanpa pencatatan yang jelas, sehingga sulit mengetahui kondisi usaha yang sebenarnya. Setelah pendampingan dilakukan, peserta menjadi lebih disiplin dalam mengatur anggaran dan arus kas usaha.
Program ini juga memberikan dampak ekonomi langsung. Beberapa peserta berhasil memperoleh persetujuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) setelah memperbaiki kualitas laporan keuangan mereka sesuai standar SAK EMKM. Peneliti menilai hal ini menjadi bukti bahwa laporan keuangan yang baik dapat meningkatkan peluang UMKM mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan.
Menurut Duma Rahel Situmorang dan tim dari Universitas Methodist Indonesia, pendekatan “learning by doing” yang dipadukan dengan pendampingan berkelanjutan terbukti efektif meningkatkan kompetensi akuntansi pelaku UMKM. Peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi langsung menerapkan sistem pencatatan keuangan dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Program ini juga menghasilkan pembentukan “Komunitas Akuntansi UMKM Medan”, yaitu forum belajar dan konsultasi yang memungkinkan para pelaku usaha terus berbagi pengalaman dan meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan mereka setelah program resmi berakhir.
Peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan literasi keuangan dan kemampuan akuntansi merupakan faktor penting dalam memperkuat daya saing UMKM serta memperluas akses terhadap lembaga keuangan. Mereka juga merekomendasikan kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan untuk memastikan keberlanjutan program pendampingan akuntansi bagi UMKM di Indonesia.
Profil Penulis
- Duma Rahel Situmorang – Universitas Methodist Indonesia; bidang keahlian pendidikan akuntansi dan pengelolaan keuangan UMKM.
- Farida Sagala – Universitas Methodist Indonesia.
- Lamria Sagala – Universitas Methodist Indonesia.
- Mitha Christina Ginting – Universitas Methodist Indonesia.
- Gracesiella Y. Simanjuntak – Universitas Methodist Indonesia.
- Thomas Sumarsan Goh – Universitas Methodist Indonesia.
- Januardi Mesakh – Universitas Methodist Indonesia.
- Dimita H.P. Purba – Universitas Methodist Indonesia.
- Saur Melianna Sipayung – Universitas Methodist Indonesia.
- Septony Benyamin Siahaan – Universitas Methodist Indonesia.
Sumber Penelitian
Situmorang, D. R., Sagala, F., Sagala, L., Ginting, M. C., Simanjuntak, G. Y., Goh, T. S., Mesakh, J., Purba, D. H. P., Sipayung, S. M., & Siahaan, S. B. (2026). Assistance in the Preparation of SAK EMKM-Based Financial Statements for MSMEs in Medan City. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 4, April 2026, hlm. 345–358.

0 Komentar