Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jakarta Barat - Kegagalan Murid Jadi Kunci Pemuridan: Studi Injil Markus dan Teologi Bonhoeffer. Penelitian yang dilakukan oleh Emilia Kartika, Hiu Willison, David Sulardi Sastro, dan Yosef Antonius dari Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Philosophy and Religion (AJPR) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana Injil Markus menggambarkan para murid sebagai sosok yang sering gagal memahami ajaran Yesus.
Penelitian yang dilakukan oleh Emilia Kartika, Hiu Willison, David Sulardi Sastro, dan Yosef Antonius dari Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way menyoroti bahwa kegagalan bukanlah hambatan, melainkan ruang pembentukan iman.
Pemuridan Modern Dinilai Terlalu Berorientasi Hasil
Dalam banyak gereja saat ini, pemuridan sering dipersempit menjadi kegiatan belajar doktrin atau program pelatihan yang terstruktur. Keberhasilan diukur dari kehadiran, penyelesaian kurikulum, atau penguasaan materi. Namun, pendekatan ini dinilai menciptakan kesenjangan. Banyak jemaat memahami ajaran, tetapi tidak terlibat aktif dalam membimbing orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pemuridan belum menghasilkan transformasi yang mendalam. Sebaliknya, Injil Markus menghadirkan gambaran yang berbeda. Para murid digambarkan tidak sempurna mereka sering takut, salah paham, bahkan meninggalkan Yesus di saat krisis. Meski demikian, Yesus tetap memanggil dan membentuk mereka.
Metode: Membaca Injil Markus Secara Naratif dan Teologis
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan fokus pada teks Injil Markus sebagai sumber utama. Para peneliti menganalisis kisah-kisah yang menggambarkan hubungan Yesus dengan kedua belas murid, khususnya momen-momen kegagalan mereka. Pendekatan ini dipadukan dengan pemikiran Dietrich Bonhoeffer, khususnya konsep Nachfolge atau “mengikut Kristus” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Analisis dilakukan secara tematik dan naratif tanpa membandingkan dengan Injil lainnya, sehingga menghasilkan pembacaan yang lebih mendalam terhadap Markus.
Temuan Utama: Kegagalan Adalah Bagian dari Proses
Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting:
Penelitian yang dilakukan oleh Emilia Kartika, Hiu Willison, David Sulardi Sastro, dan Yosef Antonius dari Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way menyoroti bahwa kegagalan bukanlah hambatan, melainkan ruang pembentukan iman.
Pemuridan Modern Dinilai Terlalu Berorientasi Hasil
Dalam banyak gereja saat ini, pemuridan sering dipersempit menjadi kegiatan belajar doktrin atau program pelatihan yang terstruktur. Keberhasilan diukur dari kehadiran, penyelesaian kurikulum, atau penguasaan materi. Namun, pendekatan ini dinilai menciptakan kesenjangan. Banyak jemaat memahami ajaran, tetapi tidak terlibat aktif dalam membimbing orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pemuridan belum menghasilkan transformasi yang mendalam. Sebaliknya, Injil Markus menghadirkan gambaran yang berbeda. Para murid digambarkan tidak sempurna mereka sering takut, salah paham, bahkan meninggalkan Yesus di saat krisis. Meski demikian, Yesus tetap memanggil dan membentuk mereka.
Metode: Membaca Injil Markus Secara Naratif dan Teologis
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan fokus pada teks Injil Markus sebagai sumber utama. Para peneliti menganalisis kisah-kisah yang menggambarkan hubungan Yesus dengan kedua belas murid, khususnya momen-momen kegagalan mereka. Pendekatan ini dipadukan dengan pemikiran Dietrich Bonhoeffer, khususnya konsep Nachfolge atau “mengikut Kristus” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Analisis dilakukan secara tematik dan naratif tanpa membandingkan dengan Injil lainnya, sehingga menghasilkan pembacaan yang lebih mendalam terhadap Markus.
Temuan Utama: Kegagalan Adalah Bagian dari Proses
Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting:
- Pemuridan bersifat relasional: Yesus memanggil murid untuk “bersama-sama dengan-Nya”, bukan sekadar belajar teori.
- Proses tidak linier: Para murid mengalami kebingungan, ketakutan, dan ambisi yang salah.
- Kegagalan berulang: Dari tidak memahami perumpamaan hingga menyangkal Yesus, kegagalan menjadi pola yang konsisten.
- Yesus tetap setia: Meski murid gagal, Yesus tidak meninggalkan mereka.
- Transformasi terjadi dalam proses: Pembentukan iman berlangsung melalui pengalaman hidup bersama Yesus, bukan hasil instan.
Menurut penulis, “kegagalan tidak menandakan kegagalan pemuridan, tetapi justru menjadi bagian esensial dalam pembentukan murid yang autentik.”
Perspektif Bonhoeffer: Pemuridan Bukan Tentang Kesempurnaan
Pemikiran Dietrich Bonhoeffer memperkuat temuan ini. Dalam konsep Nachfolge, pemuridan bukanlah perjalanan menuju kesempurnaan, melainkan respons nyata untuk mengikuti Kristus dalam segala keterbatasan manusia. Bonhoeffer juga mengkritik konsep “anugerah murah” (cheap grace), yaitu pemahaman iman tanpa komitmen nyata. Ia menekankan bahwa pemuridan sejati melibatkan pengorbanan, relasi, dan kesetiaan, bahkan di tengah kegagalan. Dalam kerangka ini, kegagalan bukanlah akhir, melainkan momen untuk menyadari ketergantungan pada kasih karunia Tuhan.
Implikasi: Gereja Perlu Ubah Cara
Temuan penelitian ini memiliki dampak besar bagi praktik gereja masa kini. Setidaknya ada lima implikasi utama:
- Dari program ke relasi. Pemuridan perlu berfokus pada hubungan personal, bukan sekadar kurikulum.
- Menerima kegagalan sebagai proses belajar. Gereja perlu menciptakan ruang aman untuk bertumbuh melalui kesalahan.
- Mendorong reproduksi murid. Tujuan pemuridan bukan hanya membentuk individu saleh, tetapi menghasilkan murid yang memuridkan orang lain.
- Menghidupkan komunitas. Pembentukan iman terjadi dalam kehidupan bersama, bukan secara individual.
- Peran pemimpin sebagai pendamping. Pemimpin gereja dipanggil untuk berjalan bersama jemaat, bukan hanya mengajar.
Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis hasil justru dapat menciptakan sistem yang eksklusif dan menekan. Sebaliknya, model yang menerima kegagalan memungkinkan pertumbuhan yang lebih autentik dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Profil Penulis
Emilia Kartika, M.Th. – Dosen teologi biblika, Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way, fokus pada studi Injil dan pemuridan.
Hiu Willison, M.Th. – Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way, Akademisi teologi praktis dengan minat pada formasi spiritual gereja.
David Sulardi Sastro, M.Th. – Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way, Peneliti teologi sistematika dan etika Kristen.
Yosef Antonius, M.Th. – Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way, Pengajar teologi pastoral dan kepemimpinan gereja.
Sumber Penelitian
Emilia Kartika, Hiu Willison, David Sulardi Sastro, Yosef Antonius (2026). “Jesus’ Discipleship and the Failure of the Disciples in the Gospel of Mark according to Dietrich Bonhoeffer”, Asian Journal of Philosophy and Religion, Vol. 5 No. 1, 2026. Hal 1-12.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajpr.v5i1.16390
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajpr
Sumber Penelitian
Emilia Kartika, Hiu Willison, David Sulardi Sastro, Yosef Antonius (2026). “Jesus’ Discipleship and the Failure of the Disciples in the Gospel of Mark according to Dietrich Bonhoeffer”, Asian Journal of Philosophy and Religion, Vol. 5 No. 1, 2026. Hal 1-12.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajpr.v5i1.16390
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajpr

0 Komentar