Pemetaan Suhu Permukaan Laut Optimal untuk Ikan Cakalang di Perairan Pangandaran untuk Mendukung Perikanan Skala Kecil

Gambar Ilustrasi AI

Suhu Laut Pangandaran Jadi Penentu Lokasi Ideal Penangkapan Cakalang

Peneliti dari Universitas Padjadjaran menemukan bahwa perubahan suhu permukaan laut di perairan Pangandaran sangat memengaruhi keberadaan ikan cakalang dan dapat digunakan untuk membantu nelayan kecil menentukan lokasi penangkapan ikan yang lebih efektif. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences ini menunjukkan bahwa musim angin tenggara menghasilkan kondisi laut paling ideal bagi ikan cakalang karena memicu proses upwelling atau naiknya massa air dingin kaya nutrisi ke permukaan laut.

Riset tersebut dilakukan oleh Gilar Budi Pratama dan Aisyah dari Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Temuan ini penting karena ikan cakalang atau Katsuwonus pelamis merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang menopang kehidupan masyarakat pesisir Indonesia, khususnya nelayan skala kecil.

Penelitian ini memberi gambaran bahwa informasi suhu permukaan laut dapat dimanfaatkan sebagai indikator awal untuk memetakan daerah penangkapan ikan yang potensial. Dengan informasi tersebut, nelayan dapat mengurangi biaya operasional dan waktu pencarian ikan di laut.

Perubahan Suhu Laut Pengaruhi Persebaran Ikan

Perairan Pangandaran termasuk salah satu wilayah penting bagi aktivitas perikanan pelagis di selatan Pulau Jawa. Namun, nelayan sering menghadapi ketidakpastian dalam menentukan lokasi penangkapan karena distribusi ikan berubah mengikuti kondisi oseanografi.

Dalam penelitian ini, suhu permukaan laut atau Sea Surface Temperature (SST) menjadi fokus utama karena parameter tersebut berpengaruh langsung terhadap metabolisme, pola migrasi, dan aktivitas makan ikan. Suhu laut juga memengaruhi pertumbuhan plankton yang menjadi dasar rantai makanan di laut.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ikan cakalang cenderung menyukai suhu laut pada kisaran 27–29 derajat Celsius, dengan kondisi paling ideal berada di sekitar 28 derajat Celsius. Ketika suhu berada pada rentang tersebut, aktivitas biologis dan ketersediaan makanan ikan menjadi lebih optimal.

Memetakan Suhu Laut Sepanjang 2024

Tim peneliti menggunakan data suhu permukaan laut bulanan sepanjang Januari hingga Desember 2024. Data diperoleh dari layanan Copernicus Marine Service yang menggabungkan pengamatan satelit dan pengukuran langsung di laut.

Melalui pemetaan spasial, peneliti membandingkan kondisi suhu laut di Pangandaran dengan rentang suhu optimal bagi ikan cakalang berdasarkan penelitian sebelumnya. Dari proses tersebut, wilayah laut kemudian dikategorikan menjadi area yang sesuai dan kurang sesuai bagi habitat ikan cakalang.

Hasilnya menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Pangandaran selama 2024 berkisar antara 26,21 derajat Celsius hingga 30,02 derajat Celsius.

Beberapa temuan utama penelitian antara lain:

  • Suhu tertinggi terjadi pada Februari 2024 dengan rata-rata mencapai 30,02 derajat Celsius.
  • Suhu terendah tercatat pada Agustus 2024 sebesar 26,21 derajat Celsius.
  • Kondisi suhu yang paling sesuai bagi ikan cakalang terjadi pada Januari, Mei, Juli, dan Agustus.
  • Musim angin tenggara menjadi periode paling produktif karena munculnya upwelling yang menurunkan suhu laut sekaligus meningkatkan kesuburan perairan.

Penelitian juga menemukan bahwa pada Juli dan Agustus, wilayah dengan suhu ideal meluas dari area pesisir hingga perairan lepas pantai. Kondisi tersebut membuat distribusi ikan cakalang menjadi lebih merata dan berpotensi meningkatkan hasil tangkapan nelayan.

Sebaliknya, pada akhir tahun, suhu laut kembali meningkat sehingga sebagian besar wilayah perairan menjadi kurang optimal bagi ikan cakalang.

Musim Angin Tenggara Dinilai Paling Menguntungkan

Menurut peneliti, pola perubahan suhu laut di Pangandaran sangat dipengaruhi oleh sistem monsun atau angin musiman.

Pada awal dan akhir tahun, musim angin barat laut menyebabkan suhu laut lebih hangat dan stabil. Namun, kondisi ini cenderung kurang produktif bagi perikanan karena kandungan nutrisi di permukaan laut lebih rendah.

Sementara itu, musim angin tenggara yang berlangsung pada pertengahan tahun justru membawa air dingin kaya nutrisi ke permukaan. Kondisi tersebut meningkatkan produktivitas primer laut dan mendukung ketersediaan makanan bagi ikan pelagis seperti cakalang.

Gilar Budi Pratama dan tim peneliti dari Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa suhu laut yang terlalu tinggi dapat membuat ikan bergerak ke lapisan laut yang lebih dalam sehingga lebih sulit dijangkau oleh alat tangkap nelayan kecil.

Mereka juga menegaskan bahwa periode Januari, Mei, Juli, dan Agustus menjadi waktu paling potensial untuk penangkapan cakalang di perairan Pangandaran.

Bermanfaat untuk Nelayan dan Pengelolaan Perikanan

Temuan penelitian ini dinilai penting bagi pengembangan sistem informasi daerah penangkapan ikan berbasis oseanografi di Indonesia.

Dengan memanfaatkan data suhu permukaan laut, nelayan dapat:

  • Menghemat bahan bakar saat melaut
  • Mengurangi waktu pencarian ikan
  • Menentukan lokasi tangkapan yang lebih potensial
  • Meningkatkan efisiensi operasi penangkapan
  • Mendukung praktik perikanan yang lebih berkelanjutan

Selain itu, hasil penelitian dapat membantu pemerintah dan pengelola sektor kelautan dalam menyusun strategi pengelolaan perikanan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika laut.

Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa suhu laut bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberadaan ikan cakalang. Faktor lain seperti klorofil-a, arus laut, tinggi muka laut, dan ketersediaan makanan juga memiliki pengaruh besar terhadap distribusi ikan.

Karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menggabungkan berbagai parameter oseanografi dan teknologi pemodelan modern, termasuk machine learning, agar prediksi daerah penangkapan ikan menjadi lebih akurat.

Profil Penulis

Gilar Budi Pratama merupakan akademisi dan peneliti di Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Bidang keahliannya meliputi oseanografi perikanan, pemodelan distribusi ikan pelagis, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Aisyah juga berasal dari institusi yang sama dan memiliki fokus penelitian pada pengelolaan sumber daya perikanan dan analisis lingkungan laut.

Sumber Penelitian

Judul Jurnal: Mapping Optimal Sea Surface Temperature for Skipjack Tuna in Pangandaran Waters to Support Small-Scale Fisheries
Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar