Fitur Iklan Lokasi Instagram Bantu UMKM Kuliner Makassar Datangkan Konsumen ke Toko Fisik
Pemanfaatan fitur iklan berbasis lokasi di Instagram kini menjadi strategi baru bagi pelaku UMKM kuliner di Makassar untuk menarik konsumen lokal. Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah “Utilization of the Location-Based Advertising Feature on Instagram by Makassar Culinary MSMEs to Attract Local Consumers” yang ditulis oleh Dwiyanti, Mildayanti, dan Agung Muliaman Anas dari Universitas Negeri Makassar. Studi tersebut terbit pada 2026 di jurnal International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research dan menyoroti bagaimana fitur geolokasi Instagram mampu mengubah interaksi digital menjadi kunjungan langsung ke tempat usaha. Persaingan bisnis kuliner di Makassar semakin ketat seiring meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana promosi. Tidak hanya restoran besar, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga kini memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau pelanggan. Penelitian ini menunjukkan bahwa fitur Location-Based Advertising (LBA) atau iklan berbasis lokasi menjadi alat yang efektif bagi UMKM untuk menargetkan konsumen di sekitar area usaha mereka tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar. Menurut para penulis, strategi ini sangat relevan di kota seperti Makassar, di mana banyak konsumen memilih tempat makan berdasarkan jarak, kemudahan akses, dan rekomendasi yang muncul di media sosial. Dengan menambahkan lokasi spesifik pada unggahan Instagram, pelaku usaha dapat membuat konten mereka lebih mudah ditemukan oleh pengguna yang berada di sekitar lokasi usaha.
Pemanfaatan fitur iklan berbasis lokasi di Instagram kini menjadi strategi baru bagi pelaku UMKM kuliner di Makassar untuk menarik konsumen lokal. Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah “Utilization of the Location-Based Advertising Feature on Instagram by Makassar Culinary MSMEs to Attract Local Consumers” yang ditulis oleh Dwiyanti, Mildayanti, dan Agung Muliaman Anas dari Universitas Negeri Makassar. Studi tersebut terbit pada 2026 di jurnal International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research dan menyoroti bagaimana fitur geolokasi Instagram mampu mengubah interaksi digital menjadi kunjungan langsung ke tempat usaha. Persaingan bisnis kuliner di Makassar semakin ketat seiring meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana promosi. Tidak hanya restoran besar, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga kini memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau pelanggan. Penelitian ini menunjukkan bahwa fitur Location-Based Advertising (LBA) atau iklan berbasis lokasi menjadi alat yang efektif bagi UMKM untuk menargetkan konsumen di sekitar area usaha mereka tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar. Menurut para penulis, strategi ini sangat relevan di kota seperti Makassar, di mana banyak konsumen memilih tempat makan berdasarkan jarak, kemudahan akses, dan rekomendasi yang muncul di media sosial. Dengan menambahkan lokasi spesifik pada unggahan Instagram, pelaku usaha dapat membuat konten mereka lebih mudah ditemukan oleh pengguna yang berada di sekitar lokasi usaha.
Latar Belakang: Promosi Digital Semakin Mengarah ke Pasar Lokal
Selama ini, banyak penelitian tentang pemasaran Instagram lebih fokus pada merek besar dengan jangkauan nasional atau global. Namun, studi dari Universitas Negeri Makassar ini menyoroti praktik yang lebih spesifik: bagaimana UMKM lokal memanfaatkan teknologi digital untuk mendatangkan konsumen yang benar-benar datang ke lokasi usaha. Di tengah keterbatasan anggaran, pelaku UMKM kuliner di Makassar justru berhasil memaksimalkan fitur gratis seperti geotagging, stiker lokasi di Instagram Stories, hingga iklan berbayar dengan radius geografis tertentu. Penelitian ini menilai pendekatan tersebut sangat cocok bagi bisnis yang mengandalkan kunjungan langsung atau walk-in customers.
Metode Penelitian: Mengamati Akun Instagram dan Wawancara Konsumen
Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Tim peneliti mewawancarai pemilik UMKM kuliner di Makassar yang aktif menggunakan fitur lokasi di Instagram selama minimal enam bulan. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi digital terhadap akun Instagram para pelaku usaha serta wawancara dengan konsumen lokal yang mengaku datang ke tempat makan setelah melihat unggahan berbasis lokasi di Instagram. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat secara langsung hubungan antara promosi digital dan kunjungan fisik konsumen.
Temuan Utama: Radius Kecil, Dampak Besar
Penelitian menemukan bahwa ada beberapa strategi yang paling efektif dalam memanfaatkan fitur lokasi Instagram.
1. Geotagging meningkatkan jangkauan ke pengguna sekitar
Unggahan yang selalu mencantumkan lokasi usaha terbukti menjangkau lebih banyak pengguna non-pengikut yang berada di area sekitar. Berdasarkan data akun yang diamati, konten dengan tag lokasi memperoleh jangkauan 25–40 persen lebih tinggi dibanding unggahan tanpa lokasi.
2. Radius iklan 3–5 kilometer paling efektif
Iklan berbayar dengan target radius sempit, sekitar 3–5 kilometer dari lokasi usaha, menghasilkan respons paling tinggi. Strategi ini membuat calon konsumen merasa tempat makan tersebut dekat dan mudah dijangkau. Banyak dari mereka langsung mengirim pesan untuk menanyakan menu, harga, atau ketersediaan tempat.
3. Tujuh dari sepuluh konsumen datang setelah melihat konten dekat lokasi
Hasil wawancara menunjukkan 7 dari 10 informan memutuskan berkunjung ke tempat kuliner setelah melihat postingan di fitur Explore Instagram yang menampilkan lokasi dekat posisi mereka saat itu. Ini menunjukkan bahwa kedekatan lokasi sangat memengaruhi keputusan spontan untuk membeli makanan.
4. Jam unggahan menentukan efektivitas
Interaksi tertinggi terjadi pada pukul 11.00 WITA dan 17.00 WITA, yaitu menjelang makan siang dan makan malam. Peneliti menyebut waktu ini sebagai momen penting ketika kebutuhan biologis (lapar) bertemu dengan paparan visual makanan di media sosial.
Budaya Lokal Memperkuat Promosi
Salah satu temuan menarik adalah penggunaan bahasa lokal Makassar dalam konten promosi. UMKM yang menggunakan istilah khas seperti ajakan nongkrong, ngopi, atau frasa sehari-hari masyarakat setempat terbukti memperoleh keterlibatan yang lebih tinggi. Menurut peneliti, hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan iklan berbasis lokasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kedekatan budaya. Saat konsumen melihat konten dengan bahasa lokal dan lokasi yang familiar, mereka merasa lebih dekat secara emosional dengan merek tersebut.
Dampak bagi Ekonomi Lokal
Temuan ini penting bagi pengembangan UMKM di Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil tidak harus bersaing melalui promosi berskala besar. Mereka justru bisa fokus menguasai pasar dalam radius kecil di sekitar lokasi usaha. Model ini disebut peneliti sebagai hyper-local dominance, yaitu strategi mendominasi pasar lokal dengan pendekatan digital yang sangat spesifik. Bagi UMKM, cara ini jauh lebih efisien karena promosi langsung menjangkau orang yang berpotensi datang dan membeli. Bagi pemerintah daerah maupun lembaga pendamping usaha, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan pelatihan literasi digital bagi UMKM, khususnya pemanfaatan fitur lokasi di media sosial sebagai sarana pemasaran murah namun efektif.
Pandangan Penulis
Menurut Dwiyanti dan tim dari Universitas Negeri Makassar, perilaku konsumen di Makassar sangat dipengaruhi mobilitas harian dan kebiasaan sosial. Banyak orang memutuskan tempat makan secara spontan berdasarkan apa yang muncul di ponsel mereka saat sedang bepergian. Karena itu, fitur lokasi di Instagram menjadi jembatan antara promosi digital dan keputusan pembelian secara langsung. Teknologi geolokasi dinilai bukan sekadar alat teknis, melainkan strategi pemasaran yang mampu membangun hubungan antara ruang digital dan aktivitas ekonomi lokal.
Profil Singkat Penulis
-Dwiyanti — dosen dan peneliti di Universitas Negeri Makassar, bidang komunikasi digital dan pemasaran UMKM.
-Mildayanti — akademisi di Universitas Negeri Makassar, fokus pada perilaku konsumen dan media sosial.
-Agung Muliaman Anas — peneliti di Universitas Negeri Makassar, bidang strategi komunikasi bisnis digital.
Sumber Penelitian
Sumber artikel ilmiah:
“Utilization of the Location-Based Advertising Feature on Instagram by Makassar Culinary MSMEs to Attract Local Consumers”
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research, Vol. 4 No. 4 (2026)

0 Komentar