LAGUNA – Pelatihan Basic Life Support atau BLS terbukti meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri mahasiswa Biologi dalam menghadapi kondisi darurat medis. Temuan ini dipublikasikan oleh Asnar L. Aloro, Joel C. Bondad, dan Albert R. Castillo dari Laguna State Polytechnic University, Filipina, dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research tahun 2026.
Penelitian tersebut menyoroti pentingnya keterampilan pertolongan pertama bagi mahasiswa sains, khususnya mahasiswa Biologi yang kerap terlibat dalam kegiatan laboratorium, penelitian lapangan, hingga aktivitas luar ruangan yang memiliki risiko kecelakaan atau kondisi medis mendadak.
BLS merupakan keterampilan dasar penyelamatan hidup yang mencakup tindakan seperti resusitasi jantung paru atau CPR, bantuan pernapasan, penanganan tersedak, hingga penggunaan Automated External Defibrillator (AED). Kemampuan ini selama ini lebih banyak diajarkan pada mahasiswa kedokteran dan keperawatan, sementara mahasiswa bidang sains lain masih jarang mendapatkan pelatihan serupa.
Asnar L. Aloro dan tim menilai kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena mahasiswa Biologi juga berpotensi menghadapi situasi darurat di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari. Karena itu, penelitian dilakukan untuk mengukur perubahan kemampuan dan kesiapan mahasiswa setelah mengikuti pelatihan BLS.
Penelitian menggunakan metode pre-test dan post-test terhadap 35 mahasiswa Bachelor of Science in Biology di Laguna State Polytechnic University San Pablo City Campus. Mayoritas peserta berusia 21 hingga 30 tahun, didominasi mahasiswa perempuan dan sebagian besar berada pada tingkat akhir perkuliahan.
Sebelum pelatihan dilakukan, sebagian besar mahasiswa mengaku belum terlalu percaya diri dalam melakukan tindakan penyelamatan dasar. Kemampuan menggunakan AED menjadi salah satu aspek dengan tingkat kepercayaan diri terendah. Nilai rata-rata kemampuan penggunaan AED sebelum pelatihan hanya mencapai 1,857 dalam skala empat poin.
Mahasiswa juga masih ragu melakukan kompresi dada, memberikan bantuan napas, hingga mengambil keputusan cepat dalam kondisi darurat medis. Banyak peserta merasa takut melakukan kesalahan atau justru membahayakan korban.
Namun setelah mengikuti pelatihan langsung berbasis praktik dan simulasi, terjadi peningkatan signifikan pada hampir seluruh aspek kemampuan peserta.
Nilai pemahaman mahasiswa terhadap langkah-langkah BLS meningkat dari 2,943 menjadi 3,714. Kemampuan melakukan kompresi dada naik dari 2,543 menjadi 3,343. Sementara kemampuan memberikan bantuan napas meningkat dari 2,457 menjadi 3,434.
Peningkatan paling terlihat terjadi pada kemampuan mengenali tanda henti jantung dan kesiapan melakukan tindakan penyelamatan pada situasi nyata. Rasa percaya diri mahasiswa dalam menghadapi kondisi darurat juga meningkat setelah mengikuti simulasi langsung.
Penelitian menunjukkan mahasiswa menjadi lebih siap membantu keluarga, teman, maupun orang asing yang mengalami kondisi gawat darurat. Kepercayaan diri dalam mengingat langkah-langkah CPR saat berada di bawah tekanan juga mengalami peningkatan signifikan.
Menurut Joel C. Bondad dan tim, pendekatan pembelajaran berbasis praktik menjadi faktor utama yang membuat pelatihan BLS efektif meningkatkan kesiapan mahasiswa. Simulasi langsung membantu peserta memahami prosedur penyelamatan secara lebih realistis dibanding hanya mempelajari teori di kelas.
Penelitian juga menemukan bahwa pelatihan BLS tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi turut membentuk kesiapan mental mahasiswa ketika menghadapi situasi darurat. Setelah pelatihan, peserta lebih mampu mengelola stres dan mengambil keputusan cepat dalam kondisi kritis.
Meski kemampuan peserta meningkat, sebagian besar mahasiswa tetap merasa perlu mengikuti pelatihan lanjutan secara berkala. Peneliti menilai hal tersebut wajar karena keterampilan BLS membutuhkan latihan berulang agar kemampuan tetap terjaga.
Hasil analisis statistik dalam penelitian memperlihatkan peningkatan kemampuan peserta bersifat signifikan dan bukan terjadi secara kebetulan. Nilai uji statistik menunjukkan pelatihan BLS memberikan dampak nyata terhadap kesiapan tanggap darurat mahasiswa Biologi.
Albert R. Castillo menyebut pelatihan seperti ini penting diterapkan lebih luas di perguruan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang sering bekerja di lapangan atau laboratorium. Menurutnya, kemampuan penyelamatan dasar dapat menjadi keterampilan hidup yang sangat penting di luar konteks akademik.
Peneliti merekomendasikan agar pelatihan Basic Life Support dimasukkan sebagai bagian wajib dalam kurikulum mahasiswa Biologi dan program sains lainnya. Selain itu, pelatihan penyegaran dan workshop bersama tenaga profesional juga dinilai penting agar kemampuan mahasiswa terus berkembang sesuai standar terbaru.
Integrasi pelatihan BLS di lingkungan pendidikan tinggi dinilai dapat memperkuat budaya kesiapsiagaan darurat di masyarakat. Dengan semakin banyak generasi muda memahami keterampilan penyelamatan dasar, peluang keselamatan korban pada kondisi darurat diperkirakan akan meningkat.
Profil Penulis:
Asnar L. Aloro, Joel C. Bondad, dan Albert R. Castillo berasal dari Laguna State Polytechnic University, Filipina, dengan fokus penelitian pada pendidikan sains, pelatihan Basic Life Support, kesiapsiagaan darurat, dan pengembangan kompetensi mahasiswa.
Sumber Penelitian:
“Self-Perceived Competency of Bachelor of Science in Biology in Performing Basic Life Support Training in Enhancing Emergency Response Preparedness”
International Journal of Scientific Multidisciplinary Research, Vol. 4, No. 5, 2026.
0 Komentar