Nilai Tukar dan Suku Bunga Tekan Pertumbuhan UMKM Jawa Barat, Ini Temuan Peneliti

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jakarta Timur - Pergerakan nilai tukar rupiah dan suku bunga terbukti memainkan peran penting dalam menentukan pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Barat. Hal ini diungkap dalam riset terbaru yang ditulis oleh Albertus Maria Setyastanto, Sumaryoto, dan Syaiful dari Universitas Borobudur, yang dipublikasikan pada 2026. Temuan ini menjadi penting karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi daerah dan sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi makro.

Penelitian ini menyoroti bagaimana fluktuasi rupiah dan perubahan suku bunga memengaruhi biaya produksi, akses pembiayaan, serta daya beli pasar. Dalam konteks ekonomi yang kerap mengalami volatilitas, pemahaman ini menjadi kunci bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk menjaga keberlanjutan bisnis kecil.

Secara umum, UMKM di Indonesia menghadapi tantangan besar ketika nilai tukar melemah. Banyak pelaku usaha masih bergantung pada bahan baku impor, sehingga depresiasi rupiah langsung meningkatkan biaya produksi. Di sisi lain, suku bunga yang tinggi membuat pinjaman menjadi lebih mahal, sehingga pelaku UMKM kesulitan mengembangkan usaha.

Untuk menggali fenomena ini secara mendalam, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan Kepala Subbagian Pengendalian Inflasi serta tiga staf ekonomi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Selain itu, analisis dokumen kebijakan dan laporan ekonomi dilakukan untuk memperkuat temuan lapangan.

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan utama:

Depresiasi rupiah meningkatkan biaya produksi
UMKM yang bergantung pada bahan impor mengalami kenaikan biaya signifikan. Hal ini memaksa pelaku usaha menaikkan harga atau menekan margin keuntungan.

Ketidakpastian nilai tukar menghambat investasi
Fluktuasi kurs membuat pelaku UMKM ragu untuk memperluas usaha atau membeli peralatan baru.

Manfaat bagi eksportir tidak merata
Melemahnya rupiah memang meningkatkan daya saing produk ekspor, tetapi keuntungan ini sering tergerus oleh mahalnya bahan baku impor.

Suku bunga tinggi membatasi akses kredit
Kenaikan suku bunga membuat pinjaman lebih mahal, terutama bagi usaha mikro dan kecil yang memiliki keterbatasan jaminan.

UMKM kecil paling rentan
Dampak negatif suku bunga dan nilai tukar lebih besar dirasakan oleh usaha skala kecil dibanding usaha menengah.

Salah satu narasumber dari pemerintah daerah menekankan bahwa stabilitas ekonomi makro sangat penting bagi keberlangsungan UMKM. Sementara itu, staf ekonomi daerah menyoroti perlunya dukungan pelatihan, digitalisasi, dan penguatan rantai pasok lokal agar pelaku usaha lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Penelitian ini juga mengaitkan temuan lapangan dengan berbagai studi sebelumnya. Secara umum, perubahan nilai tukar dan suku bunga tidak hanya berdampak langsung pada biaya dan kredit, tetapi juga memengaruhi inflasi, daya beli masyarakat, dan kepercayaan investor. Kombinasi faktor-faktor ini menentukan apakah UMKM mampu bertahan atau justru mengalami penurunan kinerja.

Albertus Maria Setyastanto dari Universitas Borobudur menegaskan bahwa kebijakan ekonomi harus dirancang secara terkoordinasi. Stabilitas nilai tukar dan kebijakan suku bunga yang tepat perlu diimbangi dengan program pendukung seperti kredit mikro bersubsidi dan penguatan produksi lokal. Menurutnya, tanpa intervensi yang tepat, UMKM akan terus menghadapi tekanan dari faktor eksternal yang sulit dikendalikan.

Dari sisi kebijakan, penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis:

  • Memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi
  • Memperluas akses kredit murah bagi UMKM, terutama melalui program pembiayaan mikro
  • Mengembangkan rantai pasok lokal guna mengurangi ketergantungan pada impor
  • Meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan dan digitalisasi
  • Menyediakan informasi harga dan pasar untuk mengurangi ketidakpastian usaha

Dampak dari rekomendasi ini cukup luas. Jika diterapkan secara konsisten, kebijakan tersebut dapat meningkatkan daya tahan UMKM terhadap krisis, memperluas lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif.

Profil Penulis
Albertus Maria Setyastanto adalah akademisi dari Universitas Borobudur yang memiliki fokus pada ekonomi makro dan pengembangan UMKM. Ia bekerja sama dengan Sumaryoto dan Syaiful, yang juga merupakan peneliti di bidang ekonomi dan kebijakan publik. Ketiganya aktif meneliti isu-isu terkait stabilitas ekonomi dan dampaknya terhadap sektor usaha kecil.

Sumber Penelitian
Setyastanto, Albertus Maria; Sumaryoto; Syaiful. 2026. The Role of Exchange Rates and Interest Rates in the Growth of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in West Java. Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES), Vol. 2 No. 2, halaman 99–106.

Posting Komentar

0 Komentar