Mengubah Pola Pikir Kewirausahaan Generasi Z dalam Memanfaatkan Peluang Bisnis Digital

Mahasiswa Gen Z UNM Beralih Jadi Wirausaha Digital, Studi Ungkap Perubahan Pola Pikir yang Signifikan
Mahasiswa Generasi Z di Universitas Negeri Makassar semakin banyak memanfaatkan peluang bisnis digital dan mulai bergeser dari pola pikir pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Hal ini terungkap dalam artikel ilmiah “Transforming the Entrepreneurial Mindset of Generation Z in Utilizing Digital Business Opportunities” yang ditulis oleh Sumiati Tahir, Sudarmi, Hasisa Haruna, Nurhayani, dan Agung Muliaman Anas dari Universitas Negeri Makassar. Penelitian yang terbit pada 2026 di International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research ini menunjukkan bahwa transformasi pola pikir kewirausahaan di kalangan mahasiswa berlangsung sangat kuat, terutama pada inovasi digital dan orientasi kemandirian ekonomi. Temuan ini penting di tengah meningkatnya tantangan dunia kerja bagi lulusan perguruan tinggi. Di era ekonomi digital, pekerjaan formal tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Mahasiswa yang tumbuh sebagai generasi digital native justru mulai melihat media sosial, e-commerce, dan layanan kreatif daring sebagai ruang usaha yang lebih fleksibel dan potensial. Para peneliti menyoroti bahwa mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNM telah menunjukkan perubahan paradigma yang nyata. Mereka tidak lagi sekadar mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan setelah lulus, tetapi mulai membangun usaha sejak masih kuliah.

Latar Belakang: Generasi Z dan Tantangan Ekonomi Digital
Perubahan ekonomi global akibat digitalisasi mendorong generasi muda untuk menyesuaikan diri dengan model bisnis baru. Di Indonesia, Generasi Z memiliki keunggulan karena terbiasa menggunakan internet, media sosial, dan aplikasi digital sejak usia dini. Namun, akses teknologi saja tidak cukup. Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak mahasiswa memiliki literasi digital tinggi, tetapi belum semuanya memiliki pola pikir bisnis yang matang. Sebagian masih mengikuti tren sesaat tanpa strategi jangka panjang. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pendidikan tinggi untuk membentuk mental kewirausahaan yang lebih berkelanjutan. Di Makassar, situasi ini menjadi menarik karena budaya lokal yang menekankan kemandirian dan keberanian berdagang berpadu dengan gaya hidup digital generasi muda. Kombinasi tersebut menciptakan peluang baru bagi lahirnya wirausaha muda berbasis teknologi.

Metode Penelitian: Melibatkan 60 Mahasiswa yang Sudah Berbisnis
Penelitian dilakukan di Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNM dengan melibatkan 60 mahasiswa aktif angkatan 2022–2024 yang sudah merintis usaha.
Tim peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui:
-wawancara mendalam,
-observasi aktivitas bisnis mahasiswa,
-dokumentasi portofolio usaha dan akun media sosial bisnis.
Seluruh responden merupakan mahasiswa yang aktif menggunakan platform digital untuk mengembangkan usaha, baik dalam bentuk toko daring, jasa kreatif, maupun bisnis berbasis konten.

Temuan Utama: E-Commerce Jadi Pilihan Dominan
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas mahasiswa memilih bisnis yang dapat dijalankan secara digital dengan modal relatif kecil.
Komposisi jenis usaha yang dijalankan responden adalah:
-41,7% bergerak di sektor e-commerce atau dropship,
-30% di bidang makanan dan minuman dengan pemasaran digital,
-20% di jasa kreatif seperti desain dan content creator,
-8,3% di layanan fintech dan reseller pulsa/data.
Menurut peneliti, dominasi e-commerce menunjukkan bahwa mahasiswa Gen Z cenderung memilih model usaha yang minim risiko modal namun memiliki jangkauan pasar luas.

Perubahan Pola Pikir Sangat Tinggi
Penelitian juga mengukur tingkat transformasi pola pikir kewirausahaan menggunakan skala 1–5. Hasilnya menunjukkan skor rata-rata 4,40, masuk kategori sangat tinggi. Rinciannya:
-keberanian mengambil risiko: 4,45
-inovasi berbasis digital: 4,60
-orientasi kemandirian ekonomi: 4,72
-ketahanan menghadapi kegagalan: 3,85
Nilai tertinggi terdapat pada orientasi kemandirian ekonomi, yang menunjukkan mahasiswa semakin terdorong untuk mandiri secara finansial melalui bisnis. Namun, aspek ketahanan mental menghadapi kegagalan masih paling rendah dibanding indikator lain.

Media Sosial Jadi Sumber Ide Bisnis
Salah satu temuan paling menonjol adalah hampir seluruh responden aktif menggunakan media sosial untuk membaca tren pasar. Sebanyak 93,3% mahasiswa rutin menganalisis tren di platform seperti TikTok dan Instagram sebelum menentukan produk yang akan dijual. Sementara itu, hanya 25% yang menggunakan iklan berbayar dan 20% yang bekerja sama dengan influencer. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar bisnis mahasiswa masih berada pada tahap organik. Mereka memanfaatkan algoritma media sosial dan tren viral untuk menarik pasar, namun belum banyak yang melakukan ekspansi bisnis profesional.

Ada Hubungan Kuat antara Pola Pikir dan Keberhasilan Bisnis
Penelitian ini juga menemukan hubungan langsung antara perubahan pola pikir dan keberlanjutan usaha. Dari mahasiswa dengan tingkat transformasi pola pikir tinggi, 84,4% berhasil mempertahankan usaha selama lebih dari enam bulan. Sebaliknya, mahasiswa dengan tingkat transformasi rendah cenderung gagal mempertahankan bisnis mereka. Menurut penulis, temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan usaha mahasiswa bukan sekadar faktor keberuntungan. Pola pikir yang matang, adaptif, dan berorientasi solusi menjadi faktor utama yang menentukan keberlangsungan bisnis.

Dampak bagi Pendidikan dan Dunia Usaha
Hasil studi ini memberi gambaran penting bagi perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan kewirausahaan tidak cukup hanya mengajarkan teori bisnis, tetapi perlu memperkuat keterampilan menghadapi risiko, kegagalan, dan tekanan psikologis. Bagi dunia usaha, temuan ini memperlihatkan bahwa Generasi Z memiliki potensi besar sebagai pelaku ekonomi kreatif baru. Dengan kemampuan membaca tren digital dan menjalankan usaha sejak kuliah, mereka dapat menjadi motor pertumbuhan UMKM berbasis teknologi. Peneliti merekomendasikan agar kurikulum kewirausahaan di perguruan tinggi memasukkan materi manajemen risiko, ketahanan mental, serta strategi ekspansi digital agar mahasiswa tidak berhenti pada usaha skala kecil.

Profil Singkat Penulis
-Sumiati Tahir — dosen dan peneliti di Universitas Negeri Makassar, bidang kewirausahaan dan pendidikan bisnis digital.
-Sudarmi — akademisi di Universitas Negeri Makassar, fokus pada ekonomi pendidikan.
-Hasisa Haruna — peneliti bidang kewirausahaan mahasiswa.
-Nurhayani — akademisi bidang pengembangan SDM.
-Agung Muliaman Anas — dosen di Universitas Negeri Makassar, spesialis strategi bisnis digital.

Sumber Penelitian
Sumber artikel ilmiah:
“Transforming the Entrepreneurial Mindset of Generation Z in Utilizing Digital Business Opportunities”
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research, Vol. 4 No. 4 (2026)


Posting Komentar

0 Komentar