Peneliti Makassar Ubah Limbah Ikan Gabus Menjadi Tepung Fungsional Bernilai Gizi Tinggi
Penelitian terbaru dari Gemah Delti dari Politeknik ATI Makassar menunjukkan bahwa limbah pengolahan ikan gabus dapat diolah menjadi tepung fungsional bernilai gizi tinggi. Studi yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Contemporary Sciences ini menemukan bahwa kepala, kulit, dan tulang ikan gabus yang biasanya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi bahan pangan fungsional melalui teknologi autoclave dan mesin pengering.
Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap pengelolaan limbah pangan dan ekonomi sirkular. Industri pengolahan ikan selama ini umumnya hanya memanfaatkan daging ikan, sementara bagian lain seperti tulang, kulit, dan kepala dibuang sebagai limbah. Padahal, bagian-bagian tersebut masih mengandung protein, albumin, kalsium, dan mineral penting yang bernilai tinggi bagi kesehatan manusia.
Menurut penelitian tersebut, limbah pengolahan ikan tidak hanya menimbulkan pencemaran lingkungan dan bau tidak sedap, tetapi juga menyebabkan hilangnya potensi ekonomi yang sebenarnya dapat dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah.
Ikan gabus atau Channa striata dikenal luas di Indonesia sebagai sumber protein dan albumin yang tinggi. Penelitian sebelumnya yang dikutip dalam jurnal menyebutkan bahwa kandungan protein ikan gabus bahkan lebih tinggi dibandingkan telur, ayam, maupun daging sapi. Namun selama ini, pemanfaatan ikan gabus masih berfokus pada bagian daging putihnya saja.
Melalui penelitian ini, Gemah Delti mencoba mengembangkan limbah ikan gabus menjadi tepung fungsional yang dapat digunakan sebagai bahan tambahan pangan dan fortifikasi nutrisi.
Proses penelitian dilakukan menggunakan pendekatan eksperimental di laboratorium Agro Processing Technology milik Politeknik ATI Makassar. Limbah ikan gabus dari kegiatan praktikum mahasiswa dikumpulkan dan diolah melalui beberapa tahapan produksi.
Tahapan pengolahan meliputi:
- Penyortiran kepala, kulit, dan tulang ikan
- Pencucian bahan baku
- Pemanasan menggunakan autoclave sekitar 100°C
- Penggilingan bahan
- Pengeringan menggunakan mesin pengering
- Penepungan dan penyaringan hingga menjadi tepung halus
Proses pengeringan dilakukan selama 24 jam dalam beberapa tahap untuk mengurangi kadar air dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Setelah itu, tepung dikemas menggunakan plastik food grade dengan sistem vakum agar kualitas produk tetap terjaga.
Produk tepung fungsional kemudian diuji menggunakan analisis sensorik dan pengujian laboratorium. Penilaian sensorik dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan terhadap aroma, rasa, warna, dan tekstur produk. Sementara itu, pengujian kimia dilakukan untuk mengetahui kandungan air, lemak, abu, kalsium, fosfor, dan protein.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung fungsional dari limbah ikan gabus memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan layak digunakan sebagai bahan pangan.
Beberapa hasil utama penelitian meliputi:
- Kandungan fosfor mencapai 7,42 persen
- Kandungan kalsium mencapai 2,43 persen
- Kandungan lemak sebesar 6,77 persen
- Produk mengandung protein albumin
- Kadar air hanya 2,6 persen
- Aroma, rasa, warna, dan tekstur diterima panelis uji
Peneliti juga menemukan bahwa tepung memiliki warna cokelat muda, tekstur halus, tidak menggumpal, dan aroma khas yang masih dapat diterima sebagai produk pangan. Proses pemanasan dan pengeringan dinilai berperan penting dalam mengurangi bau amis yang biasanya muncul pada limbah ikan.
Menurut Gemah Delti, kandungan fosfor dan kalsium yang tinggi menunjukkan bahwa tepung fungsional ini berpotensi menjadi sumber mineral untuk mendukung kesehatan tulang. Kandungan albumin dan protein di dalamnya juga membuka peluang pemanfaatan sebagai bahan fortifikasi makanan dan produk nutrisi kesehatan.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa kandungan gizi penting tidak hanya terdapat pada daging ikan, tetapi juga tersebar pada bagian kepala, tulang, dan kulit yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Selain memberikan nilai tambah ekonomi, pemanfaatan limbah ikan gabus juga dinilai dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah organik industri pangan. Konsep ini sejalan dengan prinsip zero waste dan ekonomi sirkular yang kini semakin banyak diterapkan dalam industri pangan global.
Dampak penelitian ini berpotensi luas bagi masyarakat dan dunia usaha. Tepung fungsional berbahan limbah ikan gabus dapat dikembangkan menjadi bahan baku makanan ringan, produk fortifikasi gizi, bahan bakery, makanan instan, hingga suplemen kesehatan. Inovasi ini juga dapat membantu industri kecil dan menengah menciptakan produk pangan lokal bernilai tinggi dengan biaya bahan baku yang lebih efisien.
Bagi sektor pendidikan dan riset, penelitian ini menunjukkan bahwa laboratorium pendidikan vokasi dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri pangan modern. Penelitian ini juga mendukung pengembangan teknologi pengolahan pangan berkelanjutan berbasis sumber daya lokal Indonesia.
Meski demikian, peneliti mengakui bahwa penelitian masih dilakukan dalam skala laboratorium dan belum mencakup pengujian stabilitas penyimpanan jangka panjang maupun pengujian keamanan pangan secara menyeluruh. Kajian terkait kontaminasi mikrobiologi, logam berat, serta formulasi produk komersial masih perlu dilakukan pada penelitian berikutnya.
Penelitian lanjutan juga direkomendasikan untuk menguji penggunaan tepung fungsional ini dalam berbagai produk olahan pangan agar dapat diketahui tingkat penerimaan konsumen secara lebih luas.
Profil Penulis
Gemah Delti merupakan peneliti dan akademisi dari Politeknik ATI Makassar yang memiliki fokus penelitian pada teknologi pengolahan pangan, inovasi produk agroindustri, dan pemanfaatan limbah pangan berkelanjutan. Penelitiannya banyak berkaitan dengan pengembangan produk bernilai tambah dari sumber daya lokal Indonesia.

0 Komentar