Peran Media Sosial Saat Banjir Bandang Sumatra Jadi Sorotan Peneliti Tiga Universitas Indonesia
Bencana banjir bandang yang melanda Sumatra pada akhir 2025 tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi jalur komunikasi darurat yang bergerak lebih cepat daripada saluran resmi pemerintah. Hal ini diungkap dalam artikel ilmiah “Social Media and Flash Floods: A Review from the Perspective of Responsibility and Conscience” yang ditulis oleh Chontina Siahaan, Donal Adrian, dan Retnadumillah Saliha dari Universitas Kristen Jakarta, Universitas Tadulako, serta Universitas Muhammadiyah Palu. Studi tersebut terbit pada 2026 di jurnal International Journal of Sustainable Social Science. Penelitian ini menjadi penting karena mengkaji satu fenomena yang sangat relevan di era digital: ketika bencana besar terjadi, masyarakat kini tidak lagi menunggu siaran resmi untuk memperoleh informasi. Dalam kasus banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, media sosial justru menjadi ruang utama bagi warga untuk melaporkan kondisi lapangan, menggalang bantuan, dan menilai respons pemerintah. Menurut para penulis, banjir dan longsor yang terjadi pada November–Desember 2025 termasuk salah satu tragedi ekologis terbesar di Sumatra dalam beberapa dekade terakhir. Ribuan warga terdampak, ratusan dilaporkan meninggal atau hilang, sementara infrastruktur publik seperti jembatan, sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan rusak berat. Di tengah situasi darurat tersebut, unggahan warga di platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X menjadi sumber informasi tercepat bagi masyarakat luas.
Bencana banjir bandang yang melanda Sumatra pada akhir 2025 tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi jalur komunikasi darurat yang bergerak lebih cepat daripada saluran resmi pemerintah. Hal ini diungkap dalam artikel ilmiah “Social Media and Flash Floods: A Review from the Perspective of Responsibility and Conscience” yang ditulis oleh Chontina Siahaan, Donal Adrian, dan Retnadumillah Saliha dari Universitas Kristen Jakarta, Universitas Tadulako, serta Universitas Muhammadiyah Palu. Studi tersebut terbit pada 2026 di jurnal International Journal of Sustainable Social Science. Penelitian ini menjadi penting karena mengkaji satu fenomena yang sangat relevan di era digital: ketika bencana besar terjadi, masyarakat kini tidak lagi menunggu siaran resmi untuk memperoleh informasi. Dalam kasus banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, media sosial justru menjadi ruang utama bagi warga untuk melaporkan kondisi lapangan, menggalang bantuan, dan menilai respons pemerintah. Menurut para penulis, banjir dan longsor yang terjadi pada November–Desember 2025 termasuk salah satu tragedi ekologis terbesar di Sumatra dalam beberapa dekade terakhir. Ribuan warga terdampak, ratusan dilaporkan meninggal atau hilang, sementara infrastruktur publik seperti jembatan, sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan rusak berat. Di tengah situasi darurat tersebut, unggahan warga di platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X menjadi sumber informasi tercepat bagi masyarakat luas.
Latar Belakang: Krisis Lingkungan dan Kesenjangan Komunikasi
Artikel ini menyoroti bahwa banjir bandang tidak semata dipicu oleh hujan ekstrem. Para penulis menekankan bahwa perubahan tata guna lahan, deforestasi, dan ekspansi ekonomi di kawasan hulu diduga memperparah dampak banjir. Hutan yang sebelumnya mampu menyerap air hujan dalam jumlah besar telah banyak berubah menjadi perkebunan dan kawasan eksploitasi. Kondisi ini membuat air hujan lebih cepat mengalir ke permukaan dan memicu banjir bandang. Namun, persoalan tidak berhenti pada faktor ekologis. Penelitian ini juga menilai ada kesenjangan komunikasi antara narasi resmi pemerintah dan pengalaman nyata para korban. Saat pemerintah merilis data administratif, warga di media sosial justru menyebarkan video desa terendam, jalan putus, hingga kesaksian korban yang belum menerima bantuan. Perbedaan ini memicu kritik publik terhadap lambannya respons negara.
Artikel ini menyoroti bahwa banjir bandang tidak semata dipicu oleh hujan ekstrem. Para penulis menekankan bahwa perubahan tata guna lahan, deforestasi, dan ekspansi ekonomi di kawasan hulu diduga memperparah dampak banjir. Hutan yang sebelumnya mampu menyerap air hujan dalam jumlah besar telah banyak berubah menjadi perkebunan dan kawasan eksploitasi. Kondisi ini membuat air hujan lebih cepat mengalir ke permukaan dan memicu banjir bandang. Namun, persoalan tidak berhenti pada faktor ekologis. Penelitian ini juga menilai ada kesenjangan komunikasi antara narasi resmi pemerintah dan pengalaman nyata para korban. Saat pemerintah merilis data administratif, warga di media sosial justru menyebarkan video desa terendam, jalan putus, hingga kesaksian korban yang belum menerima bantuan. Perbedaan ini memicu kritik publik terhadap lambannya respons negara.
Metode Penelitian: Wawancara dan Observasi Lapangan
Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Informan dipilih secara purposif, yaitu mereka yang dianggap paling memahami dinamika komunikasi bencana, termasuk relawan organisasi non-pemerintah dan pihak yang aktif memantau pemberitaan di media sosial.
Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Informan dipilih secara purposif, yaitu mereka yang dianggap paling memahami dinamika komunikasi bencana, termasuk relawan organisasi non-pemerintah dan pihak yang aktif memantau pemberitaan di media sosial.
Pengumpulan data dilakukan melalui:
-observasi langsung terhadap arus informasi di media sosial,
-wawancara mendalam dengan relawan,
-analisis narasi publik yang berkembang selama masa bencana.
Pendekatan ini dipilih untuk memahami bagaimana masyarakat membangun solidaritas dan menekan pemerintah melalui ruang digital.
Temuan Utama: Media Sosial Berfungsi Lebih dari Sekadar Informasi
Penelitian ini menemukan bahwa media sosial memiliki tiga peran utama selama bencana banjir bandang di Sumatra.
1. Sarana koordinasi darurat yang cepat
Media sosial membantu koordinasi antarlembaga, relawan, dan masyarakat. Informasi tentang lokasi pengungsian, akses jalan yang terputus, dan kebutuhan mendesak dapat tersebar dalam hitungan detik. Hal ini mempercepat pengiriman bantuan dibanding prosedur birokrasi formal.
2. Kanal informasi valid dari warga
Warga yang berada langsung di lokasi menjadi “reporter lapangan” yang mengunggah kondisi riil. Foto, video, dan siaran langsung memberikan gambaran aktual tentang perkembangan banjir, proses evakuasi, hingga distribusi logistik. Peneliti menyebut informasi ini sering kali lebih cepat daripada laporan resmi.
Penelitian ini menemukan bahwa media sosial memiliki tiga peran utama selama bencana banjir bandang di Sumatra.
1. Sarana koordinasi darurat yang cepat
Media sosial membantu koordinasi antarlembaga, relawan, dan masyarakat. Informasi tentang lokasi pengungsian, akses jalan yang terputus, dan kebutuhan mendesak dapat tersebar dalam hitungan detik. Hal ini mempercepat pengiriman bantuan dibanding prosedur birokrasi formal.
2. Kanal informasi valid dari warga
Warga yang berada langsung di lokasi menjadi “reporter lapangan” yang mengunggah kondisi riil. Foto, video, dan siaran langsung memberikan gambaran aktual tentang perkembangan banjir, proses evakuasi, hingga distribusi logistik. Peneliti menyebut informasi ini sering kali lebih cepat daripada laporan resmi.
3.Penggerak empati dan solidaritas nasional
Media sosial mendorong munculnya aksi spontan masyarakat untuk membantu korban. Donasi dibuka melalui unggahan akun pribadi, komunitas, hingga organisasi sosial. Banyak warganet menyebarkan nomor rekening bantuan dan mengorganisasi pengiriman kebutuhan pokok ke daerah terdampak. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai bentuk “conscience” atau hati nurani kolektif masyarakat digital.
Dampak Sosial dan Kebijakan
Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial kini tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga mekanisme kontrol sosial. Warga dapat menekan pemerintah untuk bertindak lebih cepat karena setiap keterlambatan dapat langsung menjadi sorotan publik. Bagi pembuat kebijakan, studi ini menegaskan pentingnya integrasi media sosial ke dalam sistem komunikasi bencana nasional. Pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan konferensi pers atau situs resmi, tetapi perlu memantau percakapan digital dan menjadikannya bagian dari sistem respons cepat. Di sisi lain, penelitian ini juga memberi peringatan bahwa perusahaan yang berkontribusi pada deforestasi harus ikut bertanggung jawab. Para penulis menilai kerusakan ekologis akibat aktivitas ekonomi dapat memperbesar risiko bencana dan tidak bisa dilepaskan dari aspek tanggung jawab sosial korporasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial kini tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga mekanisme kontrol sosial. Warga dapat menekan pemerintah untuk bertindak lebih cepat karena setiap keterlambatan dapat langsung menjadi sorotan publik. Bagi pembuat kebijakan, studi ini menegaskan pentingnya integrasi media sosial ke dalam sistem komunikasi bencana nasional. Pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan konferensi pers atau situs resmi, tetapi perlu memantau percakapan digital dan menjadikannya bagian dari sistem respons cepat. Di sisi lain, penelitian ini juga memberi peringatan bahwa perusahaan yang berkontribusi pada deforestasi harus ikut bertanggung jawab. Para penulis menilai kerusakan ekologis akibat aktivitas ekonomi dapat memperbesar risiko bencana dan tidak bisa dilepaskan dari aspek tanggung jawab sosial korporasi.
Pandangan Penulis
Menurut Chontina Siahaan dan tim, media sosial telah menjadi ruang moral publik dalam situasi krisis. Di sana, masyarakat bukan hanya bertukar informasi, tetapi juga mengekspresikan empati, kemarahan, serta tuntutan akuntabilitas terhadap negara dan pelaku usaha.
Mereka menilai bahwa ketika komunikasi resmi berjalan lambat, ruang digital justru memperkuat solidaritas sosial. Dalam konteks itu, teknologi bukan sekadar alat, tetapi bagian dari sistem kemanusiaan modern.
Profil Singkat Penulis
-Chontina Siahaan — akademisi dari Universitas Kristen Jakarta, bidang komunikasi sosial dan media.-Donal Adrian — peneliti dari Universitas Tadulako, fokus pada komunikasi publik dan kebencanaan.-Retnadumillah Saliha — akademisi dari Universitas Muhammadiyah Palu, bidang komunikasi masyarakat dan isu sosial.
-Chontina Siahaan — akademisi dari Universitas Kristen Jakarta, bidang komunikasi sosial dan media.
Sumber Penelitian
Sumber artikel ilmiah:
“Social Media and Flash Floods: A Review from the Perspective of Responsibility and Conscience”
Jurnal: International Journal of Sustainable Social Science, Vol. 4 No. 2 (2026)

0 Komentar