Penelitian berjudul Reconstructing Critical Economic Thinking through Eco-Pedagogy and Digital Sustainability Competence: A Constructivist Grounded Theory Study dipimpin oleh Ahmad Fadhil Imran bersama Dirmansyah Darwin, Nurliana, Septiannisa Paramita, dan Muhammad Yamin. Studi ini dipublikasikan dalam International Journal of Sustainability in Research (IJSR) Volume 4 Nomor 3 Tahun 2026.
Riset tersebut menyoroti bagaimana pendidikan ekonomi di perguruan tinggi selama ini masih terlalu berpusat pada logika pasar, pertumbuhan ekonomi, dan produktivitas. Akibatnya, mahasiswa dinilai belum cukup terlatih untuk mempertimbangkan dampak lingkungan, budaya konsumtif digital, maupun persoalan etika dalam aktivitas ekonomi modern.
Ahmad Fadhil Imran dan tim peneliti menemukan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis eco-pedagogy atau pedagogi ekologis mampu mengubah cara mahasiswa memandang ekonomi. Mahasiswa mulai memahami bahwa aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan, perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, hingga budaya konsumsi digital.
“Mahasiswa mulai menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi dapat membawa konsekuensi serius terhadap alam dan kehidupan sosial,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Indonesia Jadi Contoh Nyata Krisis Ekologi dan Ekonomi Digital
Penelitian ini dilakukan dalam konteks Indonesia yang dinilai menghadapi dua tekanan besar sekaligus: krisis lingkungan dan percepatan ekonomi digital.
Indonesia masih menghadapi persoalan deforestasi, pencemaran laut, ekspansi pertambangan, dan kerusakan lingkungan akibat pembangunan ekstraktif. Di sisi lain, Indonesia juga berkembang menjadi salah satu ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan pesat e-commerce, layanan digital, dan konsumsi berbasis platform online.
Kondisi tersebut menciptakan tantangan baru bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan ekonomi. Mahasiswa hidup dalam lingkungan yang dipenuhi iklan digital, budaya belanja online, serta dorongan konsumsi berbasis algoritma media sosial.
Menurut penelitian ini, banyak mahasiswa awalnya menganggap teknologi digital hanya sebagai alat praktis untuk komunikasi dan aktivitas ekonomi. Namun setelah mengikuti pembelajaran berbasis keberlanjutan, mereka mulai memahami dampak ekologis di balik penggunaan teknologi.
Beberapa mahasiswa mengaku mulai mempertanyakan kebiasaan membeli barang secara impulsif karena pengaruh iklan media sosial. Ada pula yang baru menyadari bahwa pergantian gadget secara terus-menerus turut menghasilkan limbah elektronik dan meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
Melibatkan Mahasiswa dari Bidang Ekonomi
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan Constructivist Grounded Theory untuk memahami perubahan cara berpikir mahasiswa secara mendalam.
Tim peneliti melibatkan 24 mahasiswa dari disiplin ilmu ekonomi yang berasal dari semester tiga, lima, dan tujuh. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah atau FGD, serta jurnal reflektif mahasiswa.
Alih-alih hanya mengukur angka atau statistik, penelitian ini menggali pengalaman langsung mahasiswa saat mengikuti pembelajaran yang mengintegrasikan isu lingkungan, etika, dan keberlanjutan ke dalam pendidikan ekonomi.
Hasilnya menunjukkan empat proses utama yang membentuk pola pikir ekonomi berkelanjutan mahasiswa.
Empat Tahap Perubahan Cara Berpikir Mahasiswa
1. Ecological Awakening atau Kesadaran Ekologis
Mahasiswa mulai menyadari hubungan antara aktivitas ekonomi dengan kerusakan lingkungan. Mereka memahami bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan kesejahteraan ekologis.
2. Digital Sustainability Reflexivity
Mahasiswa mulai merefleksikan dampak digitalisasi terhadap lingkungan dan perilaku konsumsi. Mereka menjadi lebih kritis terhadap budaya belanja online, iklan algoritmik, dan konsumsi digital berlebihan.
3. Ethical Reconstruction of Economic Reasoning
Cara berpikir ekonomi mahasiswa berubah dari sekadar mengejar keuntungan menjadi mempertimbangkan etika, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
4. Transformative Sustainability-Oriented Economic Consciousness
Mahasiswa mulai membangun kesadaran baru bahwa ekonomi, teknologi, lingkungan, dan tanggung jawab sosial saling terhubung dalam satu sistem besar.
Penelitian ini kemudian melahirkan kerangka konseptual baru bernama SOCET Framework atau Sustainability-Oriented Critical Economic Thinking Framework.
Kerangka tersebut menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis dalam ekonomi tidak cukup hanya berbasis logika pasar, tetapi juga harus melibatkan kesadaran ekologis, refleksi etis, dan tanggung jawab digital.
Pendidikan Ekonomi Dinilai Perlu Direformasi
Penelitian ini juga menjadi kritik terhadap sistem pendidikan ekonomi konvensional yang dinilai masih terlalu dipengaruhi paradigma neoliberal.
Dalam banyak kasus, mahasiswa diajarkan mengejar efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi tanpa cukup membahas dampak lingkungan maupun ketimpangan sosial yang muncul akibat sistem ekonomi modern.
Padahal, menurut tim peneliti, tantangan masa depan membutuhkan lulusan yang mampu memahami keterkaitan antara ekonomi, lingkungan, teknologi, dan keberlanjutan sosial.
Ahmad Fadhil Imran dan tim menilai perguruan tinggi perlu menjadikan keberlanjutan sebagai fondasi utama pendidikan ekonomi, bukan sekadar materi tambahan.
Mereka merekomendasikan penguatan pembelajaran reflektif, dialogis, dan lintas disiplin agar mahasiswa mampu berpikir lebih kritis terhadap persoalan sosial-ekologis kontemporer.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa literasi digital di kampus sebaiknya tidak hanya fokus pada kemampuan teknis menggunakan teknologi. Mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan memahami dampak sosial dan ekologis dari aktivitas digital mereka.
Relevan untuk Dunia Pendidikan dan Industri
Temuan ini dinilai relevan tidak hanya bagi dunia pendidikan, tetapi juga dunia usaha dan pembuat kebijakan.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap ESG (Environmental, Social, and Governance), ekonomi hijau, dan transformasi digital berkelanjutan, perusahaan dan institusi publik membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir secara etis dan ekologis.
Mahasiswa yang memahami keberlanjutan dinilai lebih siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan, termasuk transisi energi, ekonomi sirkular, konsumsi bertanggung jawab, dan transformasi digital hijau.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran ekologis generasi muda di tengah derasnya arus konsumsi digital global.
Profil Penulis
Ahmad Fadhil Imran, M.Pd. merupakan akademisi pada Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar. Bidang keahliannya meliputi pendidikan ekonomi, berpikir kritis ekonomi, pendidikan berkelanjutan, dan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
Penelitian ini juga melibatkan:
- Dirmansyah Darwin
- Nurliana
- Septiannisa Paramita
- Muhammad Yamin
yang seluruhnya berasal dari Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Makassar.
Sumber Penelitian
Artikel Ilmiah: Reconstructing Critical Economic Thinking through Eco-Pedagogy and Digital Sustainability Competence: A Constructivist Grounded Theory Study.
Jurnal: International Journal of Sustainability in Research (IJSR), Vol. 4 No. 3 Tahun 2026,
0 Komentar