Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Banyumas Raya - Tahlilan Jadi Model Konseling Alami bagi Lansia Muslim, Studi di Banyumas Ungkap Manfaat Psikologisnya. Penelitian yang dilakukan oleh Budiyono, Yuslam, dan Masykuri dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana praktik budaya lokal mampu memberikan dukungan psikologis yang signifikan, terutama bagi pria lanjut usia yang menghadapi fase kehidupan penuh kehilangan dan refleksi eksistensial.
Penelitian yang dilakukan oleh Budiyono, Yuslam, dan Masykuri dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menyoroti bahwa populasi lansia di Indonesia terus meningkat, sementara akses terhadap layanan kesehatan mental formal masih terbatas, khususnya di komunitas pedesaan.
Dari Ritual Keagamaan ke Ruang Dukungan Emosional
Tahlilan umumnya dilakukan sebagai doa bersama untuk orang yang telah meninggal. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa di balik ritual tersebut, terdapat dinamika sosial dan psikologis yang menyerupai proses konseling kelompok. Penulis menemukan bahwa struktur tahlilan memiliki tahapan yang mirip dengan sesi konseling kelompok, mulai dari pembukaan, interaksi inti, hingga penutupan. Selama proses ini, para peserta khususnya lansia tidak hanya berdoa, tetapi juga berbagi pengalaman hidup, kesedihan, dan harapan. Dalam suasana yang akrab dan penuh empati, peserta mendapatkan dukungan emosional dari sesama anggota komunitas. Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan kesepian yang kerap dialami lansia.
Metode Penelitian: Menggali Makna dari Pengalaman Nyata
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi langsung dan wawancara terhadap peserta tahlilan di Banyumas Raya. Para peneliti menganalisis praktik tahlilan dengan kerangka teori konseling kelompok modern, termasuk faktor terapeutik yang dikemukakan oleh Irvin Yalom serta pendekatan logoterapi yang menekankan pencarian makna hidup. Dengan membandingkan praktik lokal dan teori psikologi, studi ini berhasil menunjukkan bahwa tahlilan bukan sekadar aktivitas religius, tetapi juga sistem dukungan psikologis yang efektif.
Momen Setelah Ritual Jadi Kunci Penting
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah pentingnya momen setelah ritual tahlilan selesai. Pada fase ini, peserta biasanya berkumpul secara informal untuk berbincang santai. Peneliti menemukan bahwa justru dalam suasana santai inilah proses konseling berlangsung lebih mendalam. Percakapan informal membuka ruang bagi lansia untuk berbagi cerita pribadi, sementara anggota lain memberikan respons empatik. Penelitian menyebutkan bahwa fase ini merupakan “titik masuk yang sangat potensial untuk intervensi konseling berbasis komunitas” . Konselor komunitas bahkan dapat dilibatkan sebagai fasilitator tanpa mengganggu keaslian budaya yang ada.
Implikasi: Alternatif Layanan Kesehatan Mental Berbasis Budaya
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan layanan kesehatan mental berbasis budaya di Indonesia. Tahlilan dapat dijadikan model konseling lokal yang:
Penelitian yang dilakukan oleh Budiyono, Yuslam, dan Masykuri dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menyoroti bahwa populasi lansia di Indonesia terus meningkat, sementara akses terhadap layanan kesehatan mental formal masih terbatas, khususnya di komunitas pedesaan.
Dari Ritual Keagamaan ke Ruang Dukungan Emosional
Tahlilan umumnya dilakukan sebagai doa bersama untuk orang yang telah meninggal. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa di balik ritual tersebut, terdapat dinamika sosial dan psikologis yang menyerupai proses konseling kelompok. Penulis menemukan bahwa struktur tahlilan memiliki tahapan yang mirip dengan sesi konseling kelompok, mulai dari pembukaan, interaksi inti, hingga penutupan. Selama proses ini, para peserta khususnya lansia tidak hanya berdoa, tetapi juga berbagi pengalaman hidup, kesedihan, dan harapan. Dalam suasana yang akrab dan penuh empati, peserta mendapatkan dukungan emosional dari sesama anggota komunitas. Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan kesepian yang kerap dialami lansia.
Metode Penelitian: Menggali Makna dari Pengalaman Nyata
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi langsung dan wawancara terhadap peserta tahlilan di Banyumas Raya. Para peneliti menganalisis praktik tahlilan dengan kerangka teori konseling kelompok modern, termasuk faktor terapeutik yang dikemukakan oleh Irvin Yalom serta pendekatan logoterapi yang menekankan pencarian makna hidup. Dengan membandingkan praktik lokal dan teori psikologi, studi ini berhasil menunjukkan bahwa tahlilan bukan sekadar aktivitas religius, tetapi juga sistem dukungan psikologis yang efektif.
Momen Setelah Ritual Jadi Kunci Penting
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah pentingnya momen setelah ritual tahlilan selesai. Pada fase ini, peserta biasanya berkumpul secara informal untuk berbincang santai. Peneliti menemukan bahwa justru dalam suasana santai inilah proses konseling berlangsung lebih mendalam. Percakapan informal membuka ruang bagi lansia untuk berbagi cerita pribadi, sementara anggota lain memberikan respons empatik. Penelitian menyebutkan bahwa fase ini merupakan “titik masuk yang sangat potensial untuk intervensi konseling berbasis komunitas” . Konselor komunitas bahkan dapat dilibatkan sebagai fasilitator tanpa mengganggu keaslian budaya yang ada.
Implikasi: Alternatif Layanan Kesehatan Mental Berbasis Budaya
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan layanan kesehatan mental berbasis budaya di Indonesia. Tahlilan dapat dijadikan model konseling lokal yang:
- Mudah diakses oleh masyarakat.
- Tidak memerlukan biaya tinggi.
- Lebih diterima secara sosial dan budaya.
- Relevan dengan nilai-nilai religius masyarakat.
Selain itu, pendekatan ini juga dapat diterapkan pada praktik budaya lain seperti arisan, pengajian rutin, atau gotong royong, yang memiliki potensi serupa sebagai ruang dukungan sosial.
Profil Penulis
Profil Penulis
Budiyono, M.Pd. – dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Akademisi dan peneliti di bidang Bimbingan dan Konseling, fokus pada pendekatan konseling berbasis budaya lokal.
Yuslam, M.Pd. – dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Dosen dan peneliti dalam bidang psikologi pendidikan dan konseling komunitas.
Masykuri, M.Pd.– dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Peneliti dengan keahlian dalam pengembangan model konseling dan dinamika kelompok.
Sumber Penelitian
Budiyono, Yuslam, Masykuri (2026), Tahlilan as an Indigenous Group Counseling Model for Elderly Muslim Men in Banyumas Raya. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) 2026, Halaman. 1001–1018
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.35
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas
Sumber Penelitian
Budiyono, Yuslam, Masykuri (2026), Tahlilan as an Indigenous Group Counseling Model for Elderly Muslim Men in Banyumas Raya. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) 2026, Halaman. 1001–1018
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.35
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar