Kualitas Laporan Keberlanjutan Sektor Properti Indonesia Dinilai Meningkat Signifikan

Ilustrasi by AI

Kualitas laporan keberlanjutan (sustainability reporting) perusahaan properti dan real estat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami peningkatan signifikan selama periode 2020–2024, meski masih terdapat kesenjangan besar pada aspek lingkungan dan sosial. Temuan itu diungkap dalam penelitian Reny Ernitasari, Mukhzarudfa, Ratih Kusumastuti, dan Wiwik Tiswiyanti dari Universitas Jambi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Management Analytics (IJMA). Penelitian ini menganalisis kualitas pelaporan Environmental, Social, and Governance (ESG) pada delapan perusahaan properti dan real estat yang terdaftar di BEI selama 2020–2024.

Penelitian menjelaskan bahwa sektor properti dan real estat memiliki dampak lingkungan dan sosial yang besar. Aktivitas konstruksi, pengembangan lahan, dan operasional bangunan berkontribusi terhadap konsumsi energi, emisi karbon, penggunaan air, hingga dampak sosial terhadap masyarakat sekitar. Seiring meningkatnya tuntutan global terhadap pembangunan berkelanjutan melalui Sustainable Development Goals (SDGs) dan Paris Climate Agreement, perusahaan properti dituntut meningkatkan transparansi dan akuntabilitas keberlanjutan.

Peneliti menyoroti bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Morningstar Sustainalytics telah memperkuat pengawasan ESG melalui sistem penilaian risiko ESG emiten. Emiten diklasifikasikan berdasarkan tingkat risiko ESG mulai dari negligible risk hingga severe risk. Kebijakan ini mendorong perusahaan tercatat, termasuk sektor properti, untuk meningkatkan kualitas pengungkapan ESG mereka.

Menurut penelitian, pelaporan keberlanjutan di sektor properti Indonesia masih relatif tertinggal dibanding sektor pertambangan, perbankan, dan manufaktur. Banyak perusahaan properti masih berada pada tahap awal penerapan standar pelaporan internasional seperti Global Reporting Initiative (GRI).

Penelitian menggunakan teori institusional (Institutional Theory) sebagai kerangka analisis untuk menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas pelaporan ESG. Peneliti mengidentifikasi tiga bentuk tekanan institusional utama, yaitu:

  • tekanan koersif dari regulasi pemerintah dan BEI,
  • tekanan mimetik dari perusahaan sejenis,
  • dan tekanan normatif dari standar profesional serta ekspektasi industri.

Penelitian dilakukan menggunakan metode content analysis terhadap laporan keberlanjutan delapan perusahaan properti dan real estat yang terdaftar di BEI. Kualitas pengungkapan ESG diukur menggunakan 114 indikator Global Reporting Initiative (GRI) yang terdiri dari:

  • 31 indikator lingkungan,
  • 35 indikator sosial,
  • dan 48 indikator tata kelola perusahaan.

Kualitas pengungkapan kemudian diklasifikasikan ke dalam empat kategori berdasarkan pedoman IDX/Sustainalytics, yaitu:

  • Very Good (>80% pengungkapan),
  • Good (60–80%),
  • Sufficient (40–60%),
  • dan Low (<40%).

Hasil penelitian menunjukkan dimensi tata kelola (Governance/G) menjadi aspek dengan kualitas pengungkapan tertinggi dibanding dimensi lainnya. Rata-rata skor Governance mencapai sekitar 79,73 persen, sedangkan dimensi lingkungan (Environmental/E) hanya 42,50 persen dan dimensi sosial (Social/S) sebesar 38,33 persen.

Peneliti menyimpulkan perusahaan properti Indonesia relatif lebih matang dalam pelaporan tata kelola karena aspek tersebut lebih dahulu diinstitusionalisasikan melalui regulasi pasar modal. Sebaliknya, pengungkapan lingkungan dan sosial masih dalam tahap berkembang dan sebagian besar bersifat sukarela.

Dari seluruh perusahaan yang dianalisis, Bumi Serpong Damai Tbk mencatat kualitas pengungkapan ESG tertinggi pada 2024 dengan skor 83,8 persen sehingga masuk kategori Very Good. Sementara Adhi Commuter Properti Tbk menunjukkan peningkatan paling drastis, dari 35 persen pada 2020 menjadi 82,9 persen pada 2023–2024.

Penelitian menemukan tiga pola utama perkembangan laporan ESG di sektor properti Indonesia, yaitu:

  • peningkatan progresif secara bertahap,
  • lonjakan kualitas pelaporan secara cepat,
  • dan stagnasi yang baru meningkat setelah tekanan regulasi bertambah kuat.

Perusahaan seperti Duta Pertiwi Tbk dan Bumi Serpong Damai Tbk menunjukkan peningkatan stabil di seluruh dimensi ESG. Sementara Adhi Commuter Properti Tbk mengalami lonjakan signifikan akibat tekanan institusional dan transformasi manajemen perusahaan. Sebaliknya, perusahaan seperti Triniti Dinamik Tbk dan Perintis Triniti Properti Tbk cenderung stagnan selama beberapa tahun sebelum mulai menunjukkan peningkatan pada 2024.

Salah satu temuan penting penelitian adalah adanya ketimpangan besar antara pengungkapan tata kelola dengan pengungkapan lingkungan dan sosial. Beberapa perusahaan mencatat skor tata kelola di atas 90 persen, tetapi skor lingkungan dan sosial masih berada di bawah 40 persen.

Peneliti menilai kondisi tersebut mencerminkan tahap awal adopsi ESG di negara berkembang, di mana perusahaan lebih fokus pada pelaporan berbasis kepatuhan regulasi dibanding penerapan praktik keberlanjutan yang benar-benar berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat.

Penelitian juga menemukan adanya konvergensi moderat kualitas pelaporan ESG di sektor properti. Standar deviasi skor pengungkapan ESG menurun secara bertahap selama periode penelitian, menunjukkan bahwa perusahaan dengan kualitas pelaporan rendah mulai meningkatkan standar pelaporan mereka akibat tekanan regulasi dan ekspektasi pasar.

Menurut peneliti, perusahaan dengan skor ESG di atas 80 persen dapat diinterpretasikan memiliki kapasitas pengelolaan ESG yang lebih baik dan tingkat risiko ESG yang lebih rendah dalam kerangka Sustainalytics. Sebaliknya, perusahaan dengan skor di bawah 40 persen masih dianggap rentan terhadap risiko ESG akibat lemahnya sistem pengelolaan lingkungan dan sosial.

Penelitian merekomendasikan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat insentif dan regulasi yang mendorong peningkatan kualitas pengungkapan lingkungan dan sosial, bukan hanya tata kelola perusahaan. Peneliti juga menilai perusahaan properti perlu memperkuat kapasitas internal tim ESG, khususnya dalam pengukuran dampak lingkungan dan sosial operasional perusahaan.

Temuan ini dinilai penting bagi investor, regulator, dan perusahaan karena kualitas laporan ESG semakin menjadi indikator utama dalam pengambilan keputusan investasi berkelanjutan dan penilaian risiko jangka panjang di pasar keuangan global.

Profil Penulis

  • Reny Ernitasari Universitas Jambi 
  • Mukhzarudfa Universitas Jambi 
  • Ratih Kusumastuti Universitas Jambi 
  • dWiwik Tiswiyanti -  Universitas Jambi .

Sumber Penelitian

Ernitasari, R., Mukhzarudfa, Kusumastuti, R., & Tiswiyanti, W. (2026). The Quality of Sustainability Reporting in the Property and Real Estate Sector Listed on the Indonesian Stock Exchange From 2020 to 2024. International Journal of Management Analytics (IJMA), Vol. 4 No. 2, 319–328. 

DOI: https://doi.org/10.59890/ijma.v4i2.410

URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma

Posting Komentar

0 Komentar