Konfigurasi Ruang, Alur Pergerakan di Gedung, dan Keselamatan di Halte Bus Transjakarta Tarakan

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Desain Halte Transjakarta Tarakan Dinilai Sempit, Mengancam Keamanan dan Kenyamanan Penumpang. Penelitian yang dilakukan oleh Amadea Gita Larasati Baginda dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa agaimana konfigurasi ruang yang sempit dan sirkulasi yang terhambat di Halte Transjakarta Tarakan berdampak langsung pada penurunan tingkat keamanan, pelanggaran ruang privasi, serta gangguan pergerakan penumpang selama jam sibuk.

Penelitian yang dilakukan oleh Amadea Gita Larasati Baginda dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa 
evaluasi penting bagi perencana kota dan otoritas transportasi dalam merancang halte di masa depan.

Realitas Kepadatan Transportasi Publik di Jakarta
Sebagai megapolitan yang akrab dengan kemacetan lalu lintas, Jakarta sangat bergantung pada moda transportasi publik seperti Mass Rapid Transit (MRT), Light Rapid Transit (LRT), dan Transjakarta. Transjakarta menjadi salah satu infrastruktur paling vital yang menopang mobilitas harian jutaan warga. Sistem BRT ini menggunakan jalur khusus dan peron tinggi setinggi 110 cm dari permukaan jalan untuk memastikan kelancaran arus penumpang. Namun, kenyamanan fisik di dalam halte sering kali belum sejalan dengan tingginya pertumbuhan jumlah penggunaHalte Tarakan yang terletak di Jakarta Pusat merupakan salah satu titik transit yang mengalami tekanan infrastruktur yang sangat berat. Halte ini melayani dua rute sibuk dengan permintaan penumpang yang masif, yaitu Rute 8 (Lebak Bulus-Pasar Baru) dan Rute 10H (Tanjung Priok-Bundaran Senayan). Kedua rute ini melintasi kawasan pusat aktivitas dan terhubung dengan Halte Juanda yang juga menjadi sumber utama penumpukan penumpang. Ketika kapasitas fisik halte tidak mampu menampung lonjakan penumpang, kualitas layanan menurun drastis dan memicu antrean panjang yang melelahkan.

Mengamati Kondisi Halte pada Jam Sibuk Commuter
Untuk melihat langsung realitas operasional di lapangan, pengumpulan data dilakukan menggunakan metode analisis kualitatif melalui studi kasus bangunan dan studi literatur. Pengamatan langsung di lokasi dilakukan pada tanggal 22 Januari 2026, tepat pada puncak kepadatan malam hari antara pukul 17.00 hingga 18.30 WIB. Alat bantu yang digunakan meliputi kamera ponsel, catatan lapangan, laptop, dan kartu e-money untuk akses masukMelalui pemetaan ruang dan dokumentasi visual, kondisi fisik halte yang berbentuk balok memanjang dan sempit ini dianalisis secara mendalam. Fokus analisis diarahkan pada bagaimana dimensi bangunan, penempatan fasilitas, dan perilaku penumpang saling memengaruhi, serta bagaimana penataan tersebut berdampak pada kelancaran sirkulasi arus manusia dan aspek keselamatan.

Temuan Utama: Lima Masalah Krusial di Halte Tarakan
Analisis arsitektural di lapangan mengidentifikasi sejumlah cacat desain dan ketidaksesuaian tata ruang yang sangat mengganggu kenyamanan pengguna:
  • Kapasitas Ruang yang Sangat Terbatas: Dimensi halte yang sangat sempit hanya mampu menampung maksimal tiga baris antrean penumpang. Kondisi ini membuat ruang gerak aktif menjadi hilang, sehingga penumpang kesulitan berjalan untuk mencapai pintu keberangkatan bus.
  • Penyempitan di Area Pintu Masuk dan Keluar: Alur sirkulasi utama terhambat karena jalur masuk dan keluar berada pada akses yang sama. Masalah diperparah oleh keberadaan ruang staf di dekat area tap-in/out yang memakan badan jalan, sehingga lebar jalur menyempit hingga tersisa sekitar 1 meter saja.
  • Hilangnya Ruang Privasi dan Risiko Kriminalitas: Akibat kepadatan yang melebihi kapasitas ideal, batas-batas ruang personal antar-manusia menjadi kabur. Lingkungan yang terlalu berhimpitan ini meningkatkan kerentanan penumpang terhadap tindakan kriminal, seperti pencopetan, pelecehan seksual, dan pelanggaran wilayah privasi.
  • Waktu Tunggu yang Melebihi Batas Toleransi: Penumpang sering kali harus berdiri mengantre selama lebih dari 30 menit bahkan hingga 1 jam karena bus yang datang sudah terisi penuh dari halte sebelumnya. Minimnya fasilitas penunjang di mana hanya tersedia satu buah kursi panjang membuat penumpang mengalami kelelahan fisik di dalam ruang yang panas.Akses Penyeberangan Jalan yang Berbahaya: Berbeda dengan mayoritas halte Transjakarta yang menggunakan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), akses menuju Halte Tarakan hanya mengandalkan zebra cross biasa di permukaan jalan. Mengingat lokasinya yang berada di tengah persimpangan jalan yang padat, konfigurasi ini menjadi ancaman keselamatan yang nyata bagi pejalan kaki.
Implikasi Kebijakan dan Dampak Nyata Bagi Tata Kota
Hasil studi ini memberikan rekomendasi konkret bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola Transjakarta bahwa penambahan armada bus tidak akan efektif jika infrastruktur haltenya tetap menjadi titik sumbat (bottleneck). Ketika kapasitas ruang halte tidak sebanding dengan volume penumpang, efisiensi sistem BRT secara keseluruhan akan menurun, yang pada akhirnya dapat membuat masyarakat frustrasi dan kembali beralih ke kendaraan pribadiOleh karena itu, pembangunan atau renovasi halte Transjakarta di masa depan wajib memprioritaskan perluasan ruang, pemisahan jalur masuk dan keluar yang tegas, serta penempatan ruang operasional staf yang tidak mengganggu sirkulasi utama. Integrasi fasilitas penyeberangan yang aman seperti JPO atau pelican crossing juga mendesak untuk diterapkan di Halte Tarakan demi melindungi keselamatan nyawa para pengguna transportasi publik.

Profil Penulis
Amadea Gita Larasati Baginda adalah akademisi dan peneliti arsitektur lulusan Universitas Kristen Indonesia. Keahlian ilmiahnya berfokus pada bidang desain arsitektur, konfigurasi ruang publik, sirkulasi bangunan, serta pengkajian ekologi dan keselamatan infrastruktur perkotaan

Sumber Penelitian
Amadea Gita Larasati Baginda (2026). Space Configuration, Building Circulation, and Safety in Transjakarta Bus Shelter Tarakan. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) 2026. 
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.4
URLhttps://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar