Soemitronomics dan Pancasila Disebut Jadi Peta Kedaulatan Ekonomi Indonesia di Era Global
Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia yang semakin dipengaruhi kekuatan negara, modal global, dan teknologi digital, sebuah kajian terbaru menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana Indonesia dapat memperkuat kedaulatan ekonominya. Artikel ilmiah yang ditulis oleh Albert Riyandi (Universitas Bina Sarana Informatika), Ali Alkatiri (Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM), serta Anang Fahmi Luqmawan Putra (UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri Purwokerto) dan terbit pada tahun 2026 menyimpulkan bahwa pemikiran ekonomi Soemitro Djojohadikusumo dapat dipadukan dengan nilai-nilai Pancasila untuk menjadi strategi menghadapi dominasi ekonomi global.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam International Journal of Integrative Sciences (IJIS) dan menyoroti tantangan baru yang dihadapi Indonesia: bukan lagi sekadar persaingan dagang, tetapi perebutan pengaruh melalui kekuatan negara, jaringan modal internasional, dan teknologi digital. Menurut penulis, Indonesia membutuhkan strategi pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga arah pembangunan sesuai nilai nasional.
Tiga Kekuatan Global yang Dinilai Membentuk Persaingan Baru
Kajian ini menggambarkan dunia saat ini berada dalam pengaruh tiga poros utama.
Pertama adalah Sovereign Power, yaitu kekuatan negara-negara besar yang mengandalkan kebijakan perdagangan, diplomasi, dan pengaruh geopolitik. Kedua adalah Transcapital Power, berupa dominasi modal dan lembaga keuangan global. Ketiga adalah Technology Power, yaitu kekuatan perusahaan teknologi yang menguasai data, kecerdasan buatan, semikonduktor, dan infrastruktur digital.
Dalam kerangka penelitian tersebut, Indonesia dipandang masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap struktur ekonomi global sehingga memerlukan strategi yang lebih terintegrasi untuk menjaga ruang kebijakan nasional.
Soemitronomics: Gagasan Lama yang Dibaca Ulang
Pusat perhatian penelitian ini adalah konsep yang disebut penulis sebagai Soemitronomics, yaitu pendekatan ekonomi yang diturunkan dari pemikiran ekonom Indonesia Soemitro Djojohadikusumo.
Menurut kajian tersebut, Soemitro memandang kemerdekaan politik tidak akan berarti tanpa kemandirian ekonomi. Karena itu, negara perlu hadir sebagai pengarah pembangunan, terutama untuk memperkuat industri nasional, membangun modal domestik, dan mengurangi ketergantungan struktural terhadap pihak luar.
Peneliti kemudian merumuskan tujuh pilar utama Soemitronomics:
- Negara sebagai arsitek transformasi ekonomi
- Industrialisasi sebagai proyek martabat bangsa
- Pembentukan modal dari dalam negeri
- Integrasi global yang selektif
- Indonesia Incorporated (sinergi negara–BUMN–swasta–koperasi)
- Koperasi sebagai dasar demokrasi ekonomi
- Kedaulatan data dan teknologi nasional
Menurut penulis, tujuh pilar tersebut tidak diposisikan sebagai konsep ekonomi teknokratis semata, melainkan sebagai cara menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam kebijakan pembangunan.
Pancasila Ditempatkan Sebagai Kompas Nilai
Artikel ini menempatkan aksiologi Pancasila—atau dimensi nilai dalam Pancasila—sebagai fondasi utama arah ekonomi Indonesia.
Penulis menjelaskan bahwa setiap sila memiliki fungsi praktis dalam kebijakan ekonomi. Misalnya, sila kemanusiaan diterjemahkan menjadi perlindungan kelompok rentan dan investasi sumber daya manusia. Sila persatuan dikaitkan dengan kolaborasi lintas sektor nasional. Sila kerakyatan diwujudkan melalui demokrasi ekonomi dan koperasi, sementara sila keadilan sosial diposisikan sebagai ukuran utama distribusi hasil pembangunan.
Dalam artikel tersebut juga muncul gagasan bahwa teknologi dan kecerdasan buatan di masa depan sebaiknya tidak hanya digerakkan oleh data, tetapi juga mempertimbangkan nilai dan pertimbangan manusia dalam pengambilan keputusan.
Dari Kedaulatan Finansial hingga Kedaulatan Digital
Penelitian ini kemudian mengembangkan strategi pertahanan ekonomi menjadi tiga jalur.
Pada sektor keuangan, penulis mendorong penguatan pendanaan domestik, pengembangan instrumen investasi nasional, serta pengurangan ketergantungan pada modal eksternal.
Pada sektor teknologi, fokus diarahkan pada pembangunan kedaulatan digital melalui penguasaan infrastruktur data, penguatan kemampuan teknologi nasional, dan pengembangan sistem yang menempatkan warga negara sebagai subjek utama.
Sementara pada sektor hubungan internasional, strategi yang disarankan adalah memperluas kerja sama ekonomi tanpa kehilangan otonomi pengambilan keputusan nasional.
Program Pemerintah Dinilai Menunjukkan Implementasi Awal
Salah satu temuan yang paling disorot adalah penilaian penulis bahwa sejumlah program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, dapat dibaca sebagai bentuk implementasi kontemporer dari prinsip Soemitronomics.
Dalam analisis peneliti, MBG dipandang bukan sekadar program bantuan sosial, tetapi juga investasi pada kualitas sumber daya manusia dan penggerak rantai pasok domestik. Sementara penguatan koperasi dianggap sebagai upaya memperluas partisipasi ekonomi masyarakat. Namun, penulis menekankan bahwa efektivitas program tersebut tetap bergantung pada kualitas pelaksanaan dan keterlibatan pelaku ekonomi lokal.
Albert Riyandi dan tim menyimpulkan bahwa kedaulatan ekonomi Indonesia pada abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fiskal atau kekuatan pasar, tetapi juga oleh kemampuan menerjemahkan nilai nasional ke dalam desain kebijakan dan teknologi. Dalam kerangka itu, Pancasila diposisikan sebagai kompas nilai, sementara Soemitronomics menjadi peta strategi pembangunan.
Profil Penulis
Albert Riyandi — akademisi dari Universitas Bina Sarana Informatika, berfokus pada kajian ekonomi politik dan pembangunan.Ali Alkatiri — Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil, Kementerian UMKM, dengan fokus pada transformasi ekonomi dan digitalisasi usaha.
Anang Fahmi Luqmawan Putra — akademisi dari UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri Purwokerto dengan minat pada kajian sosial, kebijakan, dan pembangunan.
Sumber Penelitian
Riyandi, A., Alkatiri, A., & Putra, A. F. L. (2026). Indonesian Economic Sovereignty: SoemitronomUics and the Axiology of Pancasila as Strategies to Face Global Hegemony. International Journal of Integrative Sciences (IJIS), Vol. 5 No. 5, hlm. 629–644.DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i5.29
URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index
0 Komentar