Eastern Samar — Penelitian tahun 2026 yang dilakukan oleh Camille Rose O. Gagatiga, Danica I. Macapañas, Rhea Sennil N. Candido, dan Klyte Ranille dari Eastern Samar State University menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap implementasi Comprehensive Sexuality Education (CSE) berhubungan langsung dengan perilaku siswa. Studi yang dilakukan di tujuh sekolah dasar wilayah Guiuan South ini menegaskan bahwa sikap guru dan dukungan sekolah memainkan peran penting dalam keberhasilan pendidikan seksualitas di tingkat dasar.
Pendidikan seksualitas semakin menjadi perhatian dalam sistem pendidikan global karena berperan penting dalam membantu anak memahami kesehatan, hubungan sosial, serta pengambilan keputusan yang tepat. Pada usia dini, pendidikan ini menjadi fondasi penting dalam membentuk pemahaman tentang batasan diri, keamanan pribadi, dan nilai sosial. Namun, implementasinya sering menghadapi tantangan, mulai dari sensitivitas budaya hingga keterbatasan sumber daya dan kesiapan guru.
Penelitian ini mengkaji bagaimana persepsi guru terhadap pelaksanaan CSE serta dampaknya terhadap perilaku siswa. Sebanyak 25 guru sekolah dasar menjadi responden melalui survei terstruktur yang mencakup berbagai aspek, seperti kurikulum, strategi pembelajaran, dukungan sekolah, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru umumnya menilai kurikulum CSE relevan dan sesuai dengan usia siswa. Materi seperti keamanan diri, kebersihan, serta pemahaman tentang batasan tubuh dinilai penting dan dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran seperti sains dan pendidikan kesehatan. Penilaian ini masuk dalam kategori implementasi tinggi, menandakan bahwa guru menerima konsep CSE sebagai bagian dari pembelajaran.
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan adanya keterbatasan dalam hal sumber daya dan pelatihan. Guru mengakui bahwa metode pembelajaran seperti bercerita dan bermain peran efektif digunakan, tetapi ketersediaan bahan ajar yang menarik masih terbatas. Selain itu, banyak sekolah belum memiliki program pelatihan yang memadai untuk membantu guru menangani materi sensitif secara optimal.
Dukungan dari pihak sekolah dan masyarakat juga belum maksimal. Meskipun pimpinan sekolah dinilai cukup mendukung, aspek seperti pendanaan, sistem evaluasi, dan keterlibatan orang tua masih berada pada tingkat sedang. Bahkan, lebih dari setengah responden belum pernah mengikuti pelatihan terkait pendidikan seksualitas, yang menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru secara sistematis.
Di sisi lain, dampak penerapan CSE terhadap siswa terlihat cukup signifikan. Guru mengamati peningkatan dalam pengetahuan dan kesadaran siswa, termasuk kemampuan mengenali bagian tubuh, memahami batasan pribadi, serta mengetahui kepada siapa harus melapor ketika merasa tidak aman. Siswa juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang kebersihan, perubahan tubuh, dan konsep dasar persetujuan.
Perubahan juga terlihat pada sikap dan nilai yang dimiliki siswa. Mereka menjadi lebih menghargai diri sendiri dan orang lain, menunjukkan empati terhadap teman, serta lebih berani menyampaikan batasan pribadi. Selain itu, siswa cenderung lebih terbuka dalam berkomunikasi dan lebih responsif terhadap situasi yang berpotensi membahayakan.
Temuan penting lainnya adalah adanya hubungan signifikan antara persepsi guru terhadap CSE dengan perilaku siswa. Analisis menunjukkan korelasi positif sedang, yang berarti semakin baik pemahaman dan sikap guru terhadap CSE, semakin positif pula perilaku siswa yang dihasilkan.
Menariknya, faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, pengalaman mengajar, dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap implementasi CSE. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan seksualitas lebih ditentukan oleh dukungan sistem, pelatihan, dan sikap profesional guru dibandingkan faktor pribadi.
Camille Rose O. Gagatiga dari Eastern Samar State University menegaskan bahwa guru memiliki peran kunci dalam keberhasilan program ini. Ketika guru merasa percaya diri dan didukung, mereka mampu menyampaikan materi dengan lebih efektif, sehingga berdampak langsung pada pemahaman dan perilaku siswa.
Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan pelatihan guru, penyediaan sumber belajar yang memadai, serta kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Langkah-langkah tersebut diperlukan agar pendidikan seksualitas tidak hanya berjalan secara formal, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perkembangan siswa.
Bagi pembuat kebijakan dan institusi pendidikan, temuan ini menjadi dasar penting untuk memperkuat program pelatihan guru dan dukungan sistem pendidikan. Dalam menghadapi tantangan sosial dan kesehatan di era modern, pendidikan seksualitas yang komprehensif menjadi salah satu kunci dalam membentuk generasi yang sehat dan bertanggung jawab.
0 Komentar