Program kampanye higiene sanitasi di SDN Bukit Indah, Kabupaten Lamandau, berhasil meningkatkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) di kalangan siswa sekolah dasar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan oleh Muhammad Rahmanto, Hajah Siti Khadijah, Yusterfina Selan, Agung Tri Wibowo, Sonia Santa Pereira Da Costa, dan Yulia Nur Khayati dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo, dan dipublikasikan pada 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB). Program ini dinilai penting karena perilaku cuci tangan yang rendah masih menjadi salah satu penyebab tingginya risiko diare dan infeksi saluran pernapasan pada anak usia sekolah.
Penelitian menjelaskan bahwa cuci tangan pakai sabun merupakan salah satu langkah pencegahan penyakit paling efektif dan murah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut praktik CTPS mampu menurunkan kasus diare hingga 40 persen dan infeksi saluran pernapasan hingga 21 persen. Namun, observasi awal di SDN Bukit Indah menunjukkan sebagian besar siswa belum terbiasa mencuci tangan sebelum makan, setelah dari toilet, maupun setelah bermain di luar kelas.
Selain rendahnya kebiasaan siswa, kondisi fasilitas sanitasi di sekolah juga masih terbatas. Tempat cuci tangan belum memadai, ketersediaan sabun tidak selalu konsisten, dan belum terdapat media edukasi visual yang mendukung pembentukan budaya hidup bersih di lingkungan sekolah. Peneliti menilai masalah ini bukan hanya persoalan perilaku individu, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sekolah yang belum sepenuhnya mendukung praktik higiene yang baik.
Program kampanye dilaksanakan pada November 2025 dengan melibatkan 20 siswa kelas IV SDN Bukit Indah. Kegiatan dilakukan melalui tiga tahap utama:
- Observasi awal mengenai perilaku CTPS siswa
- Edukasi dan demonstrasi cuci tangan menggunakan media audio-visual
- Evaluasi perilaku siswa setelah kampanye berlangsung
Dalam pelaksanaannya, siswa mendapatkan demonstrasi langsung mengenai enam langkah cuci tangan yang benar sesuai standar WHO. Tim pengabdian juga memasang poster dan banner edukasi di area strategis seperti dekat kantin dan toilet sekolah agar siswa lebih mudah mengingat pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun. Guru kelas turut dilibatkan untuk mendampingi dan mengingatkan siswa selama program berlangsung.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada seluruh indikator perilaku CTPS siswa. Berdasarkan tabel hasil penelitian pada halaman 4, seluruh indikator mengalami peningkatan sebesar 50 persen setelah intervensi dilakukan.
Perubahan perilaku siswa meliputi:
- Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan meningkat dari 35 persen menjadi 85 persen
- Mencuci tangan setelah menggunakan toilet meningkat dari 40 persen menjadi 90 persen
- Penggunaan sabun saat mencuci tangan meningkat dari 30 persen menjadi 80 persen
- Kemampuan melakukan enam langkah CTPS yang benar meningkat dari 20 persen menjadi 70 persen
- Frekuensi CTPS harian meningkat dari 25 persen menjadi 75 persen
Grafik pada halaman 4 memperlihatkan peningkatan perilaku CTPS siswa dari kisaran 20–40 persen menjadi 70–90 persen setelah kampanye dilakukan. Dokumentasi kegiatan juga menunjukkan siswa mengikuti demonstrasi cuci tangan secara langsung di ruang kelas dan area sekolah bersama guru pendamping.
Menurut Muhammad Rahmanto dan tim dari Universitas Ngudi Waluyo, metode edukasi berbasis demonstrasi dan praktik langsung menjadi faktor utama keberhasilan program. Pendekatan visual membuat siswa lebih mudah memahami dan mengingat tahapan mencuci tangan yang benar dibanding hanya menerima penjelasan teori di kelas.
Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan guru memiliki peran besar dalam membangun kebiasaan hidup bersih siswa. Guru secara aktif mengingatkan siswa untuk mencuci tangan sebelum makan dan setelah menggunakan toilet sehingga perilaku tersebut mulai menjadi rutinitas sehari-hari di lingkungan sekolah.
Peneliti menilai kampanye higiene sanitasi seperti ini dapat menjadi strategi preventif yang efektif untuk menekan risiko penyakit berbasis lingkungan di sekolah dasar. Kombinasi antara edukasi, demonstrasi, media visual, fasilitas sederhana, dan pendampingan guru dinilai mampu membentuk budaya hidup bersih yang lebih berkelanjutan.
Program ini juga meningkatkan kesadaran guru dan sekolah mengenai pentingnya promosi kesehatan berbasis sekolah. Peneliti berharap model kampanye serupa dapat diterapkan di sekolah lain, terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas sanitasi dan rendahnya perilaku hidup bersih pada anak usia sekolah.
Profil Penulis
- Muhammad Rahmanto – Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo; bidang keahlian promosi kesehatan dan sanitasi lingkungan.
- Hajah Siti Khadijah – Universitas Ngudi Waluyo.
- Yusterfina Selan – Universitas Ngudi Waluyo.
- Agung Tri Wibowo – Universitas Ngudi Waluyo.
- Sonia Santa Pereira Da Costa – Universitas Ngudi Waluyo.
- Yulia Nur Khayati – Universitas Ngudi Waluyo.
Sumber Penelitian
Rahmanto, M., Khadijah, H. S., Selan, Y., Wibowo, A. T., Costa, S. S. P. D., & Khayati, Y. N. (2026). Hygiene Sanitation Campaign for Washing Hands with Soap at SDN Bukit Indah, Lamandau Regency. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 4, April 2026, hlm. 299–306.

0 Komentar