Penelitian tersebut menyoroti meningkatnya ancaman disinformasi, hoaks, polarisasi politik, hingga intervensi ekonomi terhadap media yang dinilai dapat melemahkan ketahanan nasional Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, pers tidak hanya berfungsi sebagai pilar demokrasi, tetapi juga sebagai benteng bela negara di ruang informasi.
Artikel berjudul National Defense Journalism itu menegaskan bahwa kebebasan pers harus tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab etik dan kepentingan nasional. Para peneliti menilai media yang tidak akurat, bias, atau mudah dipengaruhi kepentingan politik justru berpotensi memperbesar konflik sosial dan menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding banyak negara lain. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, ratusan kelompok etnis, dan populasi yang mencapai lebih dari 281 juta jiwa, penyebaran informasi yang tidak terkendali dapat memicu gesekan sosial yang serius. Penelitian ini menyebut era digital mempercepat penyebaran hoaks dan propaganda, termasuk melalui media sosial dan platform daring.
Para penulis juga mengangkat kembali sejarah penting Radio Republik Indonesia atau RRI dalam perjuangan bangsa. Sejak pertama kali mengudara pada 11 September 1945, RRI disebut menjadi simbol pemersatu nasional. Dalam Pertempuran Surabaya, siaran Bung Tomo melalui RRI mampu membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Pengalaman sejarah itu menjadi bukti bahwa media memiliki kekuatan strategis dalam membangun semangat bela negara dan menjaga persatuan bangsa.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara institusional terhadap sejumlah pihak penting, termasuk RRI, Dewan Pers, dan Kantor Komunikasi Presiden. Para peneliti juga memanfaatkan teori Ends-Ways-Means milik Arthur F. Lykke Jr. untuk menganalisis bagaimana jurnalisme dapat mendukung tujuan bela negara secara sistematis.
Dalam kerangka tersebut, tujuan utama atau ends jurnalisme nasional adalah menjaga persatuan, stabilitas demokrasi, dan integritas ideologi negara. Strategi atau ways dilakukan melalui pelaporan yang sensitif terhadap konflik, jurnalisme damai, serta penerapan kode etik jurnalistik. Sementara itu, means mencakup sumber daya seperti pelatihan wartawan, teknologi verifikasi fakta, hingga pengawasan kelembagaan media.
Hasil penelitian menemukan sejumlah persoalan serius dalam ekosistem media Indonesia. Salah satunya adalah lemahnya penegakan etika jurnalistik. Penelitian mencontohkan kasus dugaan penyebaran disinformasi yang melibatkan petinggi media sebagai bukti bahwa sertifikasi kompetensi wartawan belum cukup untuk menjamin integritas jurnalistik. Dalam praktiknya, banyak media masih lebih mengutamakan kecepatan dibanding akurasi.
Selain itu, sistem rekrutmen wartawan di Indonesia dinilai belum seragam. Sebagian jurnalis berasal dari pendidikan komunikasi dan jurnalistik, sementara lainnya hanya mengandalkan pengalaman lapangan tanpa pembekalan etika dan keamanan informasi yang memadai. Kondisi ini membuat kualitas pemberitaan tidak konsisten dan rentan dimanfaatkan oleh kepentingan politik maupun ekonomi.
Penelitian juga menemukan bahwa transformasi digital belum diimbangi dengan kesiapan teknologi media nasional. Banyak perusahaan pers, terutama media kecil, masih minim perlindungan siber dan belum memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk proses verifikasi informasi. Akibatnya, media menjadi lebih mudah disusupi hoaks, serangan siber, dan manipulasi informasi asing.
Persoalan lain muncul dari hubungan media dengan kekuatan politik dan ekonomi. Konsentrasi kepemilikan media serta ketergantungan terhadap pendanaan tertentu dinilai mengurangi independensi redaksi. Situasi ini menyebabkan sebagian media kehilangan fungsi pengawasan terhadap kekuasaan dan lebih rentan memproduksi narasi yang memecah masyarakat.
Meski demikian, penelitian ini juga menawarkan sejumlah solusi strategis. Para peneliti merekomendasikan revisi Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran agar lebih adaptif terhadap tantangan digital dan geopolitik informasi modern. Mereka juga mendorong peningkatan kualitas wartawan melalui pelatihan berkelanjutan yang mengintegrasikan etika jurnalistik, literasi digital, keamanan informasi, dan kesadaran bela negara.
Selain reformasi regulasi, penelitian menekankan pentingnya penguatan teknologi media. Penggunaan AI untuk pengecekan fakta, peningkatan keamanan siber ruang redaksi, hingga sistem verifikasi digital dinilai penting untuk memperkuat ketahanan informasi nasional. Di sisi lain, keterlibatan publik juga perlu diperluas melalui platform citizen journalism dan mekanisme umpan balik yang transparan agar masyarakat dapat ikut mengawasi kualitas pemberitaan.
Menurut para penulis, jurnalisme damai atau peace journalism dapat menjadi pendekatan penting di tengah meningkatnya polarisasi sosial. Model pelaporan ini menekankan akurasi, empati, penyelesaian konflik, dan pengurangan narasi provokatif. Pendekatan tersebut dianggap sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan kebutuhan Indonesia dalam menjaga stabilitas sosial-politik.
Penelitian ini memberi pesan bahwa bela negara di era modern tidak hanya bergantung pada kekuatan militer. Informasi, media, dan kepercayaan publik kini menjadi bagian penting dari ketahanan nasional. Ketika media mampu menjaga integritas, akurasi, dan independensi, maka pers dapat menjadi instrumen strategis dalam memperkuat demokrasi sekaligus mempertahankan persatuan bangsa.
Profil Penulis
- Sonni Agung Saputra — Peneliti dan mahasiswa pascasarjana bidang strategi pertahanan di Universitas Pertahanan Republik Indonesia.
- Priyanto — Akademisi Universitas Pertahanan Republik Indonesia dengan fokus kajian pertahanan dan komunikasi strategis.
- Taufiq Shobri — Peneliti dan akademisi bidang komunikasi, media, dan pertahanan nasional.
Sumber Penelitian
Artikel ini disusun berdasarkan jurnal ilmiah National Defense Journalism yang diterbitkan dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS) Vol. 4 No. 5 Tahun 2026.
DOI:https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i5.445
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar