Integrasi Berpikir Kritis dalam Pembelajaran PAI di SMA Totikum Masih Hadapi Tantangan Implementasi


Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Totikum mulai mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis dalam proses belajar mengajar. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Jumahir bersama Laode Fazril Tuha Liasi, Wahdayni Ishak, Vivin Angriani Sadalia, dan Rosmita Hapsun dari Universitas Muhammadiyah Luwuk pada tahun 2026. Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) ini menyoroti pentingnya transformasi metode pembelajaran agama agar lebih relevan dengan tantangan zaman modern. Penelitian ini menjadi penting karena pembelajaran PAI selama ini masih cenderung berfokus pada hafalan dan penyampaian materi secara satu arah. Di tengah kompleksitas kehidupan sosial dan derasnya arus informasi, siswa dituntut tidak hanya memahami ajaran agama secara tekstual, tetapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi, dan mengaitkannya dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Latar Belakang: Dari Hafalan ke Pemahaman Kritis

Perubahan paradigma dalam pendidikan agama menjadi kebutuhan mendesak. Siswa tidak cukup hanya mengetahui “apa” yang diajarkan dalam agama, tetapi juga harus memahami “mengapa” dan “bagaimana” ajaran tersebut diterapkan dalam konteks kehidupan modern. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ruang diskusi dan refleksi dalam pembelajaran PAI masih terbatas. Siswa cenderung menerima materi secara pasif tanpa didorong untuk bertanya atau mengkritisi. Hal ini berpotensi menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis yang menjadi salah satu kompetensi utama abad ke-21.

Metodologi: Mengamati Proses Belajar Secara Langsung

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan satu guru PAI dan empat siswa, serta observasi langsung proses pembelajaran di kelas. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat secara nyata dinamika interaksi antara guru dan siswa, termasuk bagaimana pertanyaan diajukan, diskusi berlangsung, dan sejauh mana siswa terlibat aktif dalam proses belajar.

Temuan Utama: Sudah Dirancang, Belum Maksimal

Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi berpikir kritis sebenarnya sudah direncanakan dengan cukup baik dalam pembelajaran PAI. Guru telah menyusun modul ajar yang tidak hanya menargetkan penguasaan materi, tetapi juga mendorong analisis dan refleksi siswa. 
Beberapa strategi yang digunakan antara lain:
  • Diskusi kelompok untuk mendorong pertukaran ide antar siswa
  • Studi kasus yang mengaitkan materi dengan situasi nyata
  • Problem-Based Learning (PBL) untuk melatih pemecahan masalah berbasis nilai Islam
  • Pertanyaan terbuka seperti “mengapa hukum ini ditetapkan?” dan “bagaimana penerapannya saat ini?”
Dalam praktiknya, siswa diajak membandingkan pendapat ulama, memahami konteks turunnya ayat, serta mengaitkan ajaran agama dengan fenomena sosial.
Namun, implementasi di kelas belum sepenuhnya optimal. Penelitian menemukan beberapa kendala utama:
  • Keterbatasan waktu pembelajaran
  • Perbedaan kemampuan siswa (heterogenitas)
  • Budaya belajar pasif yang masih kuat
Akibatnya, tidak semua siswa mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi. Sebagian masih cenderung menunggu arahan guru dan kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat.

Dampak: Mendorong Pembelajaran Lebih Dialogis
Meskipun menghadapi kendala, upaya integrasi berpikir kritis mulai menunjukkan dampak positif. Siswa yang terlibat aktif dalam diskusi mengaku lebih mudah memahami materi dan merasa tertantang untuk berpikir lebih dalam. Menurut Jumahir dari Universitas Muhammadiyah Luwuk, pendekatan ini membantu siswa tidak hanya memahami ajaran agama secara tekstual, tetapi Õ¶Õ¡Ö‡ secara kontekstual dan aplikatif. Ia menekankan bahwa pembelajaran PAI seharusnya menjadi ruang dialog, bukan sekadar transfer pengetahuan. Guru juga berperan menciptakan suasana kelas yang aman secara psikologis, di mana siswa tidak takut salah saat berpendapat. Pendekatan ini terbukti penting dalam membangun kepercayaan diri dan keberanian berpikir kritis.

Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Hasil penelitian ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi pengembangan pendidikan, khususnya di Indonesia:
1. Pembelajaran agama perlu bertransformasi dari metode hafalan menuju pendekatan analitis dan reflektif.
2. Guru memegang peran kunci sebagai fasilitator diskusi dan pengembang pemikiran kritis.
3. Kebijakan sekolah perlu mendukung, termasuk fleksibilitas waktu belajar dan pengurangan beban materi.
4. Budaya belajar dialogis harus dibangun secara bertahap melalui pembiasaan dan lingkungan yang mendukung.
Integrasi berpikir kritis dalam pembelajaran PAI juga dinilai tidak bertentangan dengan nilai agama, justru memperdalam pemahaman siswa terhadap ajaran Islam secara lebih rasional dan kontekstual.

Profil Penulis

Jumahir merupakan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Luwuk yang fokus pada pengembangan pendidikan Islam dan metode pembelajaran. Ia bekerja sama dengan Laode Fazril Tuha Liasi, Wahdayni Ishak, Vivin Angriani Sadalia, dan Rosmita Hapsun, yang memiliki keahlian di bidang pendidikan, pedagogi, dan pengembangan kurikulum.

Sumber Penelitian

Artikel ini berdasarkan penelitian berjudul “Integration of Critical Reasoning in Islamic Religious Learning at State High School 1 Totikum” yang dipublikasikan dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4 No. 3 tahun 2026.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i3.193

Posting Komentar

0 Komentar