Integrasi AI Generatif dan Project Based Learning Tingkatkan HOTS Mahasiswa di Era Society 5.0

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surakarta - Pemanfaatan Generative Artificial Intelligence (GenAI) seperti ChatGPT dan Gemini dalam pembelajaran berbasis proyek terbukti membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang dipublikasikan di Formosa Journal of Science and Technology tahun 2026 oleh Hery Setiyatna dari UIN Raden Mas Said Surakarta bersama Blasius Atini dari Universitas Timor, Yuni Misrahayu dari Universitas Doktor Husni Ingratubun Papua, dan Lukman Hakim dari Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya.

Penelitian tersebut dilakukan pada pembelajaran berbasis proyek di perguruan tinggi Indonesia selama Februari hingga April 2026. Para peneliti menilai integrasi AI generatif tidak hanya mempercepat proses belajar mahasiswa, tetapi juga membantu mereka berpikir lebih analitis, kreatif, reflektif, dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan era Society 5.0.

Era Society 5.0 sendiri menekankan integrasi teknologi cerdas dengan kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa tidak lagi cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, berkolaborasi, dan menggunakan teknologi secara etis.

Menurut Hery Setiyatna dan tim, AI generatif kini mulai menjadi bagian dari transformasi pendidikan global. Teknologi seperti ChatGPT mampu menghasilkan ide, teks, simulasi, hingga rekomendasi yang membuat proses belajar menjadi lebih interaktif dan personal. Namun, penggunaan AI di ruang kelas juga menghadirkan tantangan baru, terutama risiko ketergantungan mahasiswa terhadap jawaban instan dari mesin.

Untuk memahami dampak tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Sebanyak 18 mahasiswa dan 4 dosen dipilih sebagai partisipan karena aktif menggunakan AI generatif dalam pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PBL). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dokumentasi proyek, dan Focus Group Discussion (FGD).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI generatif membantu mahasiswa memahami struktur masalah lebih cepat dibanding metode pencarian referensi konvensional. Mahasiswa memanfaatkan AI untuk mencari ide awal, membuat kerangka berpikir, membandingkan solusi, hingga menyusun presentasi proyek.

Salah satu mahasiswa dalam penelitian tersebut mengaku awalnya kesulitan menentukan arah proyek karena topik yang terlalu luas. Setelah menggunakan ChatGPT, mahasiswa tersebut lebih mudah memahami alur masalah dan mengembangkan analisis secara rinci.

Mahasiswa lain menyebut AI mempercepat proses pencarian informasi karena mampu memberikan ringkasan awal sebelum mereka membaca jurnal akademik secara mendalam. Para dosen juga mengamati perubahan pola berpikir mahasiswa yang menjadi lebih sistematis saat menyusun proyek.

Selain meningkatkan kemampuan analitis, AI generatif juga dinilai mendorong kreativitas mahasiswa. Berdasarkan observasi kelas, kelompok yang aktif menggunakan AI menghasilkan ide proyek lebih beragam dibanding kelompok yang hanya menggunakan metode pencarian biasa.

Mahasiswa memanfaatkan AI untuk mencari inspirasi desain, menyusun simulasi konsep, hingga mengeksplorasi alternatif solusi yang sebelumnya tidak terpikirkan. Peneliti menemukan bahwa AI membuat mahasiswa lebih percaya diri dalam proses brainstorming karena mereka memperoleh banyak contoh dan perspektif baru.

Namun, penelitian ini juga menemukan sisi lain penggunaan AI generatif di pendidikan tinggi. Beberapa mahasiswa mulai terlalu bergantung pada rekomendasi AI dan kurang mengembangkan ide orisinal mereka sendiri. Dalam beberapa kasus, mahasiswa menerima jawaban AI begitu saja tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.

Fenomena ini menjadi perhatian penting para peneliti. Mereka menemukan bahwa kemampuan refleksi kritis mahasiswa justru berkembang ketika dosen mendorong proses validasi informasi. Banyak mahasiswa mulai menyadari bahwa jawaban AI tidak selalu akurat dan harus dibandingkan dengan jurnal ilmiah atau sumber akademik terpercaya.

Dalam diskusi kelompok, mahasiswa terlihat semakin terbiasa melakukan cross-check terhadap informasi yang dihasilkan AI sebelum digunakan dalam proyek. Dosen juga menilai mahasiswa menjadi lebih kritis ketika diminta mempertanggungjawabkan sumber informasi dari AI.

Meski demikian, tekanan tenggat waktu masih menjadi tantangan. Beberapa mahasiswa mengaku tetap menggunakan jawaban AI secara langsung ketika waktu pengerjaan proyek semakin sempit. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengawasan dosen dan literasi AI dalam pembelajaran modern.

Penelitian juga menemukan bahwa penggunaan AI generatif memperkuat kolaborasi dalam kerja kelompok. Proses brainstorming menjadi lebih cepat karena AI membantu menghasilkan ide awal yang kemudian dikembangkan bersama anggota tim. Pembagian tugas proyek juga menjadi lebih jelas karena AI membantu menyusun outline pekerjaan.

Akan tetapi, tidak semua kelompok mengalami peningkatan komunikasi. Sebagian dosen mengamati adanya kelompok yang terlalu fokus pada perangkat masing-masing sehingga interaksi antaranggota berkurang. Kelompok dengan komunikasi interpersonal yang baik justru mampu memanfaatkan AI secara lebih efektif.

Dalam konteks dunia kerja digital, mayoritas mahasiswa menganggap pembelajaran berbasis proyek yang dibantu AI lebih relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Mereka merasa tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Menurut peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa HOTS di era AI tidak lagi hanya soal kemampuan berpikir kritis dan kreatif secara konvensional. Mahasiswa juga harus memiliki kemampuan memvalidasi informasi digital, memahami keterbatasan AI, menjaga orisinalitas ide, dan menggunakan teknologi secara etis.

Hery Setiyatna dan tim menekankan bahwa AI generatif seharusnya diposisikan sebagai “cognitive scaffold” atau alat bantu berpikir, bukan pengganti kemampuan intelektual manusia. Karena itu, perguruan tinggi perlu menyusun strategi pembelajaran berbasis AI yang tetap menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses belajar.

Peneliti merekomendasikan agar kampus mulai mengembangkan pedoman penggunaan AI, rubrik penilaian berbasis proses berpikir, serta aktivitas validasi sumber akademik dalam setiap proyek mahasiswa. Dosen juga didorong berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan penggunaan AI secara proporsional agar mahasiswa tetap aktif berpikir dan berkolaborasi.

Ke depan, penelitian lanjutan dinilai penting untuk mengukur dampak AI generatif terhadap HOTS menggunakan metode kuantitatif maupun mixed methods dengan jumlah partisipan yang lebih luas. Peneliti juga menyarankan pengembangan model evaluasi HOTS yang mencakup aspek analisis, kreativitas, etika penggunaan AI, dan refleksi metakognitif.

Profil Penulis

Hery Setiyatna merupakan akademisi dari UIN Raden Mas Said Surakarta yang meneliti transformasi pendidikan digital dan integrasi kecerdasan buatan dalam pembelajaran.

Blasius Atini adalah peneliti dari Universitas Timor yang fokus pada inovasi pembelajaran dan pengembangan pendidikan berbasis teknologi.

Yuni Misrahayu berasal dari Universitas Doktor Husni Ingratubun Papua dengan bidang kajian pendidikan digital dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Lukman Hakim merupakan akademisi dari Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya yang menaruh perhatian pada pengembangan pembelajaran adaptif di era teknologi modern.

Sumber Penelitian

Setiyatna, H., Atini, B., Misrahayu, Y., & Hakim, L. (2026). Integration of Generative Artificial Intelligence in Project Based Learning to Enhance Higher Order Thinking Skills of University Students in the Society 5.0 Era. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 5, 1235–1250.

Posting Komentar

0 Komentar