Usia Ibu dan Riwayat Hipertensi Tingkatkan Risiko Hipertensi pada Kehamilan di Kendari
Hipertensi pada ibu hamil masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu dan bayi di Indonesia. Penelitian terbaru dari Pelita Ibu Health Sciences College menunjukkan bahwa usia ibu dan riwayat hipertensi memiliki hubungan kuat dengan terjadinya hipertensi kronis selama kehamilan.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Ano Luthfa, Ririt Yuliarti Taha, Harni, dan Siti Hasma. Studi ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Contemporary Sciences dan menyoroti pentingnya deteksi dini faktor risiko pada ibu hamil di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Penelitian dilakukan menggunakan data rekam medis ibu hamil di Kendari City Regional General Hospital selama periode 2022–2024. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan yang hamil pada usia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi kronis dibandingkan ibu hamil usia 20–35 tahun. Risiko serupa juga ditemukan pada perempuan yang memiliki riwayat hipertensi sebelum kehamilan.
Hipertensi Kehamilan Masih Jadi Penyebab Kematian Ibu
Hipertensi dalam kehamilan merupakan kondisi tekanan darah tinggi dengan tekanan sistolik minimal 140 mmHg atau diastolik minimal 90 mmHg pada ibu hamil. Kondisi ini termasuk salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia, termasuk di Indonesia.
Komplikasi akibat hipertensi pada kehamilan dapat sangat berbahaya. Ibu hamil berisiko mengalami preeklamsia, stroke, gangguan ginjal, perdarahan, hingga kematian. Sementara bagi janin, hipertensi dapat menyebabkan kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan dalam kandungan, hingga kematian janin.
Data nasional yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki angka kematian ibu yang tinggi. Pada 2023 tercatat 4.482 kasus kematian ibu, dan hipertensi pada kehamilan menjadi salah satu penyebab terbesar.
Di Kota Kendari, jumlah kasus hipertensi pada ibu hamil juga meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, tercatat 1.896 kasus hipertensi dari 7.961 ibu hamil atau sekitar 23,8 persen. Di RSUD Kota Kendari sendiri, proporsi kasus hipertensi kehamilan mencapai 21,43 persen pada tahun yang sama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hipertensi kehamilan masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius.
Analisis Data 132 Ibu Hamil
Tim peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan potong lintang atau cross-sectional. Data diambil dari rekam medis rumah sakit dan dianalisis pada Mei 2025.
Sebanyak 132 ibu hamil dengan hipertensi menjadi sampel penelitian. Para responden dikelompokkan berdasarkan:
- Usia ibu hamil
- Riwayat hipertensi
- Jenis hipertensi yang dialami selama kehamilan
Usia ibu dibagi menjadi dua kategori, yaitu usia risiko tinggi di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun, serta usia risiko rendah antara 20–35 tahun.
Peneliti kemudian membandingkan hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan kejadian hipertensi kronis maupun hipertensi gestasional selama kehamilan.
Usia Risiko Tinggi Dominan Mengalami Hipertensi Kronis
Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh responden berada pada kelompok usia berisiko tinggi.
Dari total 132 responden:
- 53,8 persen berada pada usia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun
- 46,2 persen berada pada usia 20–35 tahun
Kelompok usia risiko tinggi terbukti lebih banyak mengalami hipertensi kronis.
Temuan penelitian menunjukkan:
- 66,2 persen ibu pada usia risiko tinggi mengalami hipertensi kronis
- 33,8 persen ibu usia 20–35 tahun mengalami hipertensi kronis
- Hubungan tersebut signifikan secara statistik dengan nilai p = 0,002
Peneliti menjelaskan bahwa ibu hamil usia muda belum memiliki kematangan organ reproduksi dan sistem hormonal yang optimal. Sementara pada usia di atas 35 tahun, pembuluh darah mulai mengalami penurunan elastisitas dan lebih rentan terhadap gangguan metabolik seperti diabetes maupun penyakit ginjal.
Karena itu, usia reproduksi 20–35 tahun masih dianggap sebagai rentang paling aman untuk menjalani kehamilan.
Riwayat Hipertensi Perbesar Risiko Selama Kehamilan
Selain faktor usia, riwayat hipertensi juga terbukti meningkatkan risiko hipertensi kronis pada ibu hamil.
Hasil penelitian menunjukkan:
- 52,3 persen responden memiliki riwayat hipertensi
- 47,7 persen tidak memiliki riwayat hipertensi
Di antara ibu yang memiliki riwayat hipertensi:
- 60,8 persen mengalami hipertensi kronis selama kehamilan
- 41,4 persen mengalami hipertensi gestasional
Sementara pada ibu tanpa riwayat hipertensi:
- 39,2 persen mengalami hipertensi kronis
- 58,6 persen mengalami hipertensi gestasional
Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan dengan nilai p = 0,035.
Menurut tim peneliti dari Pelita Ibu Health Sciences College, hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan dapat mengganggu aliran darah ke plasenta dan menyebabkan pembuluh darah tidak mampu beradaptasi dengan perubahan fisiologis selama masa kehamilan.
Kondisi ini membuat ibu lebih rentan mengalami komplikasi serius, termasuk preeklamsia dan gangguan pertumbuhan janin.
Pentingnya Deteksi Dini dan Edukasi Kesehatan
Penelitian ini menekankan pentingnya skrining dini terhadap faktor risiko hipertensi pada ibu hamil, terutama sejak kunjungan antenatal pertama.
Tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah penting:
- Pemeriksaan tekanan darah secara rutin
- Edukasi kesehatan bagi ibu hamil usia risiko tinggi
- Pemantauan khusus bagi perempuan dengan riwayat hipertensi
- Konseling sebelum kehamilan bagi perempuan dengan tekanan darah tinggi
- Peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya hipertensi kehamilan
Dalam parafrase akademik berdasarkan hasil penelitian, Ano Luthfa dan tim dari Pelita Ibu Health Sciences College menegaskan bahwa identifikasi dini faktor usia dan riwayat hipertensi dapat membantu tenaga kesehatan mencegah komplikasi serius selama kehamilan.
Peneliti juga mendorong pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan untuk memperkuat sistem deteksi risiko hipertensi pada layanan kesehatan ibu dan anak.
Penelitian Masih Memiliki Keterbatasan
Meski memberikan temuan penting, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Studi hanya menggunakan data ibu hamil dengan kehamilan kedua atau lebih, sehingga belum sepenuhnya menggambarkan kondisi pada kehamilan pertama.
Selain itu, penelitian belum menganalisis faktor lain seperti obesitas, pola makan, stres, dan riwayat keluarga yang juga dapat memengaruhi hipertensi kehamilan.
Penelitian lanjutan dengan cakupan lebih luas dinilai penting untuk memperkuat strategi pencegahan hipertensi pada ibu hamil di Indonesia.
Profil Penulis
- Ano Luthfa, S.Tr.Keb: Peneliti dan akademisi kebidanan di Pelita Ibu Health Sciences College dengan fokus pada kesehatan ibu dan reproduksi.
- Ririt Yuliarti Taha, M.Keb: Dosen dan peneliti bidang kebidanan dengan keahlian kesehatan maternal dan pelayanan kehamilan.
- Harni, M.Keb: Akademisi dan peneliti kesehatan ibu dan anak di Pelita Ibu Health Sciences College.
- Siti Hasma, M.Keb: Peneliti kebidanan yang fokus pada manajemen risiko kehamilan dan kesehatan maternal.

0 Komentar